Refrensi I
PENGANTAR MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS
1. Apakah Filsafat Itu?
Bagi sebagian besar orang, belajar filsafat dianggap sebagai suatu hal yang kurang penting. Sebab, selain filsafat dianggap tidak banyak berkaitan dengan problem praktis kehidupan, filsafat juga dianggap sebagai ilmu yang sangat tinggi. Padahal, pengertian yang demikian tidaklah benar. Bahkan, dengan belajar filsafat kita akan semakin mudah memahami kontradiksi-kontradiksi yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat. Secara singkat dan sederhana yang dimaksud filsafat adalah : seluruh pandangan manusia terhadap dunia keseluruhanya baik alam maupun pikiran. Dengan kata lain, belajar filsafat berarti belajar tentang dasar atau pangkal pandangan kita terhadap gejala-gejala alam, masyarakat dan pikiran. Setiap manusia mempunyai pandangan–pandangan tertentu misalnya, tentang alam. Ada orang yang berpendapat bahwa manusia bukan hanya tidak bisa mengubah alam tetapi malah dikuasai alam. Akibat pandangan itu maka manusia menyembah dan memohon kepada alam: batu-batu, pohon-pohon tertentu, gunung dan sebagainya, disembah, diberi sajian korban dan sebagainya.
Tetapi ada pula orang yang berpendirian bahwa, alam itu bisa dikenal dan dikuasai oleh manusia untuk kebahagiaan manusia. Misalnya, para sarjana di negeri-negeri Sosialis sedang dengan giat mempelajari ruang angkasa luar dan sistem planet hingga mereka telah berhasil memotret punggung bulan yang tak kelihatan, mengirimkan manusia untuk mengitari bumi, untuk mempelajari ruang angkasa luar dan keadaan planet-planet lainya dengan pengetahuan yang luas dan mendalam
Untuk lebih memudahkan kita memahami filsafat, marilah kita lihat contoh berikut ini. Si Amin, mempelajari sejarah Indonesia; dari hasil bacaannya ia mengetahui bahwa dahulu kala Indonesia tidak pernah dijajah, kemudian dijajah Imperialis Belanda dan sesudah itu oleh fasis Jepang. Selama penjajahan itu, rakyat Indonesia terus-menerus mengadakan perlawanan untuk menghancurkan kekuasaan kaum penjajah itu Kemudian pecah revolusi Agustus 1945 dan sekarang ini Indonesia adalah negara yang belum Merdeka penuh dan setengah feodal. Ia menarik kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia ini Jadi, menurutnya sejarah masyarakat Indonesia terus mengalami perubahan, karena adanya perjuangan yang terdapat dalam masyarakat itu.
Pendapat atau pandangan yang diajukan si Amin itu adalah fikiran-fikiran filsafat dan ketika ia mengajukan pendapat atau pandangan maka ia sudah berfilsafat, sekalipun ia tidak mempelajarinya. Jadi, jelas bahwa filsafat itu erat hubunganya dengan kehidupan kita. Soalnya ialah, bagaimana kita memahami dan memiliki filsafat yang benar.
2. Apakah Filsafat Itu Berwatak Kelas?
Oleh karena filsafat tidak terpisah dari praktek kehidupan, maka dalam masyarakat berkelas dengan sendirinya filsafatpun berkelas juga, Dalam masyarakat berkelas ada filsafat kelas penghisap dan filsafat yang dihisap. Misalnya, dalam masyarakat kapitalis ada filsafat borjuis dan ada filsafat proletar. Filsafat borjuis itu mencerminkan kepentingan kelas borjuis sehingga pandangan apapun yang diajukannya, intinya tetap merupakan pandangan yang mempertahankan kepentingan kelasnya. Misalnya, pandangan itu mau tidak mau membenarkan dan mempertahankan penghisapan borjuasi atas kelas atau golongan-golongan lain dan untuk mencapai tujuan itu mereka tidak segan-segan memutarbalikkan keadaan yang sebenarnya, melakukan pemalsuan dsb.
Maka itu filsafat tersebut memusuhi segala sesuatu yang maju, yang revolusioner : sebaliknya ia mempertahankan yang lapuk, yang reaksioner.
Bagaimanakah filsafat proletar? Filsafat proletar, mencerminkan hukum umum daripada perkembangan alam, masyarakat dan pikiran manusia. Hukum berlaku bagi masa lampau, masa kini dan masa depan. Dalam mencerminkan hukum-hukum itu, MDH menuturkan sebagaimana adanya, tanpa dibumbui sedikitpun. MDH dengan demikian adalah obyektip dan maka itu benar.
Dalam mengungkapkan kenyataan dalam masyarakat kapitalis, MDH menyimpulkan bahwa di dalam masyarakat kapitalis ada dua kelas pokok yang berlawanan kepentinganya yang menentukan arah perkembangan masyarakat itu yaitu borjuasi dan proletariat. Borjuasi adalah kelas penghisap yang akan mengalami keruntuhanya, sedangkan ploretariat adalah masyarakat yang akan memikul tanggung jawab membangun suatu masyarakat baru, yakni masyarakat tanpa kelas dimana tidak ada penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lainnya. MDH karena objektif mau tidak mau berfihak kepada proletariat dan mengandung pandangan proletariat terhadap segala sesuatu.
Watak khas lainnya yang menonjol dari MDH ialah segi prakteknya, ia mengandung metode untuk mengubah segala sesuatu. MDH adalah suatu senjata teori atau moril bagi proletariat untuk mengubah sistem masyarakat lama, menghapuskan penghisapan manusia oleh manusia dan menciptakan dunia baru yaitu masyarakat tanpa kelas. Tegasnya, MDH dan proletariat adalah dua hal yang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam mewujutkan masyarakat tanpa kelas itu. Seperti yang ditegaskan oleh Marx, bahwa PROLETARIAT MENDAPATKAN SENJATA MORILNYA PADA MDH, SEDANGKAN MDH MENDAPATKAN SENJATA MATERIILNYA PADA PROLETARIAT.
3. Bagaimana Mempelajari MDH?
Mempelajari filsafat MDH adalah sama dengan mempelajari teori-teori Marxisme yang lain, yaitu dengan bersikap rendah hati, jujur dan sungguh-sungguh. Karena MDH adalah filsafat kelas proletar maka kita harus mempelajarinya secara proletar juga, bukan secara intelektualistis atau teori-teorian yang terlepas dari praktek. Dengan kata lain, mempelajari MDH harus dihubungkan dengan praktek.
4. Perbedaan Idealisme dan Materialisme
4.1. Keadaan dan Fikiran Mana Yang Primer?
Masalah terpokok dari segala persoalan filsafat adalah masalah hubungan antara keadaan (materi) dan fikiran (ide) : manakah yang ada lebih dahulu dan menentukan, keadaan atau pikiran? Untuk menjawab permasalahan ini, kita mesti mengetahui apa yang dimaksud dengan pikiran dan keadaan itu.
Yang dimaksud dengan keadaan dan materi ialah misalnya; batu dan tumbuh-tumbuhan, kejadian-kejadian di lingkungan kerja kita, di dalam negeri dan luar luar negeri, keadaan-keadaan sosial seperti kemiskinan, pengganguran, penghisapan dsb. Pada pokoknya, keadaan atau materi adalah segala sesuatu yang objektif ada di luar dan tak tergantung pada kesadaran kita. Sedangkan yang dimaksud dengan fikiran atau ide ialah misalnya; kesadaran, akal, perasaan, kemauan politik, rencana, pendapat, pengertian dan dsb nya tentang sesuatu materi. Ia (ide) merupakan gambaran tentang suatu materi di dalam otak atau fikiran kita.
Dengan kata lain, pandangan atau fikiran dan cara menerangkan atau memahamkan bahwa segala sesuatu itu bertolak dari fikiran atau ide itu adalah idealisme
Idealisme berpendapat bahwa ide itu primer atau menentukan sedangkan materi sekunder atau ditentukan. Misalnya, seorang gerakan mahasiswa atau gerakan buruh-tani jika dalam menyusun tuntutan bagi massa yang dipimpinya tidak bertolak dari kebutuhan kongkrit massa itu sendiri (materi) melainkan bertolak dari keinginan dirinya sendiri, dari pendapat atau kesimpulanya sendiri (ide) maka dia berpandangan idealisme. Contoh lain, dalam menjelaskan kejadian-kejadian di dalam alam atau masyarakat ini, seperti : banjir, kemiskinan yang mencolok, tentara yang represif, sebagai sesuatu yang disebabkan oleh kekuatan gaib atau oleh takdir.
Sebaliknya pandangan atau pokok pikiran atau cara menerangkan atau memahamkan bahwa segala sesuatu kejadian atau peristiwa itu bertolak dari keadaan kongkrit, dari materi adalah materialisme. Jadi, materialisme adalah pandangan dunia yang bertolak dari kenyataan objektif. Misalnya, di dalam masyarakat terdapat keadaan sebagai berikut : pengangguran merajarela, sulit mendapatkan sandang pangan, nilai mata uang rupiah merosot tajam terhadap dollar AS, kapasitas produksi mundur atau macet dsb. Melihat kenyataan itu, maka dalam fikiran kita akan tergambar hal-hal itu dan menyimpulkan bahwa, menurut kenyataanya kapitalisme dan imperialisme telah mengekploitasi bangsa Indonesia.
Dengan lain perkataan, untuk menjadi seorang materialis, ide kita merupakan gambaran atau pencerminan dari materi yang bersangkutan. Karena materi itu suatu yang rumit, bersegi banyak terutama masyarakat manusia, maka dalam mencerminkan suatu materi itu kita harus berhati-hati dan bersikap tepat. Kita harus mencerminkanya menurut kerumitanya itu atau menurut banyak kesegianya itu jika tidak, maka kita akan terkena penyakit subjektivisme. Inilah yang dimaksud oleh seorang revolusioner bahwa : "jika seorang tidak mengetahui bahwa pendapat yang tepat itu tidak lain daripada pencerminan yang objektif yang meliputi segala sudut kenyataan, dan bertindak menurut keinginanya yang subjektif dan berat sebelah maka, dia tetap akan membikin kesalahan yang besar atau kecil sungguhpun segala motifnya mengandung maksud yang baik". Karena itu untuk mengelakan kesalahan, kita harus tepat membedakan mana yang benar mana yang salah. Maka itu pencerminan yang tidak menyeluruh yang menurut keinginan subjektif menambahkan atau mengurangi sesuatu pada kenyataan objektif itu adalah bertentangan dengan materialisme. Misalnya, dalam penyelidikan di desa penggolongan kaum tani dilakukan tidak berdasarkan kedudukannya dalam hubungan-hubungan produksi secara keseluruhanya tetapi pada hubungan-hubungan seperti pada, hubungan kekeluargaan, konco atau pada besar kecil penghasilannya saja. Contoh lain, dalam menyusun plan/rencana tiga tahun tidak diadakan penyelidikan yang kongkrit tentang syarat–syarat materiil pelaksanaan plan itu, tidak diselidiki keadaan para siswa tempat belajar guru, persediaan makanan ataupun hal-hal lain yang bisa mendorong atau merintangi suatu jatah yang terlalu tinggi atau yang terlalu rendah Dari penjelasan singkat tentang arti serta perbedaan antara materialisme dan idealisme itu, kita bisa semakin mudah memahami, menganalisis dan membimbing praktek revolusioner kita. Penjelasan ini penting mengingat masih banyak yang memahami dan menafsirkan pengertian materialisme dan idealisme dalam filsafat secara tidak tepat yaitu, antara lain menurut pengertian moral. Menurut mereka seorang materialis adalah orang yang mengutamakan atau menjunjung tinggi kebendaan atau keduniawian, sehingga tidak mempunyai cita-cita yang luhur dan tidak bermoral tinggi. Segala sesuatunya diukur atau dinilai berdasarkan materi atau benda. Sebaliknya, seorang idealis adalah orang yang mengejar cita-cita luhur, bermoral halus, sederhana dalam kenikmatan materiil, rela berkorban untuk kepentingan umum dan sebagainya.
Pengertian yang semacam ini jelas sangat keliru. Seorang materialis dalam filsafat, dalam memandang alam, masyarakat dan fikiran menempatkan materi pada kedudukan yang menentukan dan sentral, sedangkan ide pada kedudukan yang ditentukan. Jadi, materi dalam pandangan filsafat tidak semata-mata benda : uang, mobil, rumah mewah dsb. Ini sih, materialisme vulgar. Bahkan, jika ditinjau dari segi “moral”, kenyataan telah menunjukan bahwa kita (aktivis PRD) yang menganut paham materilisme ini adalah yang paling bermoral. Kita bukannya congkak, tapi lihatlah pengorbanan kawan-kawan kita : diintimidasi, difitnah, dipenjara, diculik, dan dibunuh oleh rezim Orba, karena kita memperjuangkan demokrasi sejati di negeri ini. Dalam berjuang itu, kita sedikitpun tidak mengindahkan soal materi : uang dan jabatan. Keinginan kita cuma satu : agar rakyat kembali memiliki kedaulatannya yang sejati, agar tidak ada lagi penindasan manusia atas manusia.
5. Hubungan Praktek Dengan Pengetahuan
Menurut pengertian MDH, tujuan kita dalam mempelajari pengetahuan (teori) agar bisa membimbing praktek. Seorang yang berpikir MDH tidak akan berhenti pada diskusi-diskusi teoritis, ia belajar teori bukan demi teori itu sendiri, tetapi yang lebih penting ia harus berpraktek. Seorang yang belajar MDH, akan menganggap bahwa pengetahuan hanya akan berguna sepanjang pengetahuan itu bisa diterapkan ke dalam praktek sehingga bisa diuji kebenarannya. Bahkan, ia harus menekankan dalam-dalam pada pikirannya, bahwa praktek lebih tinggi dari pada teori karena ia tidak hanya mengandung nilai-nilai yang umum, tetapi nilai realitas yang langsung. Karena itu, penting sekali buat kita untuk mengetahui bagaimana hubungan antara teori dan praktek itu.
Pengetahuan (teori) manusia adalah pencerminan tentang kenyataan yang objektif (materi). Untuk bisa mencerminkan sesuatu materi manusia harus mengadakan hubungan dengan materi yang bersangkutan, dan hubungan itu dilakukan dengan praktek. Lewat praktek itulah nanti akan timbul pengetahuan (teori) tentang materi itu dalam fikiran kita. Misalkan, jika kita ingin memiliki pengetahuan-tentang buruh, maka kita harus turun ke pabrik-pabrik, bekerja dan hidup ditengah-tengah kaum buruh. Hanya dengan demikian barulah kita memiliki pengetahuan yang tepat tentang buruh itu.
Yang dimaksud dengan praktek adalah praktek sosial manusia. Praktek sosial manusia meskipun banyak seginya tetapi pada hakekatnya, adalah praktek produksi dan praktek perjuangan kelas. Dalam praktek produksi, manusia melakukan praktek melalui perjuangan alam, mengubah alam untuk disesuaikan dengan kebutuhannya. Dalam praktek perjuangan kelas manusia melakukan perjuangan di dalam masyarakat untuk memajukan hubungan-hubungan produksi. Lewat perjuangan melawan alam, manusia memahami dan mengenal gejala-gejala serta hakekat alam dan akhirnya melahirkan teori tentang hukum-hukum alam. Lewat perjuangan kelas, manusia mengenal gejala-gejala serta hakekat masyarakat dan akhirnya melahirkan teori tentang hukum masyarakat.
Jadi, praktek adalah sumber pengetahuan, praktek melahirkan teori. Atau dengan kata lain, pengetahuan adalah hasil proses perkembangan praktek sosial manusia. Misalnya, untuk bisa merumuskan teori tentang revolusi Indonesia, kita harus melakukan perjuangan kelas di dalam masyarakat Indonesia; kita mesti mengetahui dan mengenali, siapa tenaga penggeraknya, siapa musuhnya dsb. Misal lain, kita tidak akan mungkin mengetahui keadaan kaum buruh jika kita tidak mengadakan kontak-kontak dengan kaum buruh. Persoalan lain, bagaimana kita tahu bahwa pengetahuan kita itu benar atau salah? Satu-satunya jalan adalah, mengujinya kembali pada materi yang bersangkutan lewat praktek. Jika lewat praktek kesimpulan kita mengenai materi itu adalah sesuai dengan keadaan yang sesunguhnya dari materi itu atau hasil yang kita harapkan sesuai dengan pengetahuan kita tentang materi itu maka dapat dipastikan, bahwa pengetahuan kita tentang materi itu adalah benar. Tetapi, jika tidak maka pengetahuan kita tidak benar atau kurang lengkap. Misalnya, kita simpulkan bahwa gerakan mahasiswa merupakan pelopor (vanguard) dari gerakan rakyat, jika dalam prakteknya, ciri-ciri gerakan vanguard itu kita temukan di lapangan.
Jika pengetahuan itu sudah benar apakah ia berhenti disitu saja? Tentu saja tidak. Materi, seperti yang akan kita lihat nanti, senantiasa mengalami gerak. Maka dari itu pengetahuan kita tentang materi itu harus berkembang sedemikian rupa. Kalau tidak, maka pengetahuan dan perjuangan kita untuk membebaskan rakyat tertindas akan mengalam kebuntuan. Demikianlah, proses pengetahuan itu berlangsung terus, dari proses pencerminan ke proses pengujian, dan kemudian ke proses pencerminan dan pengunjian lagi dengan tiada akhirnya. Atau seperti yang dikatakan oleh seorang revolusioner: "pengetahuan mulai dengan praktek, mencapai bidang teori melalui praktek, dan kemudian harus kembali lagi ke praktek".
Praktek ada dua macam, yaitu praktek langsung dan praktek tidak langsung.Yang dimaksud dengan praktek langsung ialah praktek yang langsung kita alami sendiri, sedangkan praktek tidak langsung ialah praktek orang lain yang dapat kita ketahui dengan membaca tulisan atau keterangan-keterangan lisan orang itu. Misalnya, untuk mengetahui hukum-hukum revolusi Indonesia kita ikut langsung dalam revolusi Indonesia (praktek langsung) atau membaca tulisan-tulisan atau mendengarkan uraian lisan tentang revolusi Indonesia (praktek tidak langsung). Antara kedua praktek itu, yang terpenting ialah praktek langsung. Pengetahuan yang kita peroleh dari praktek penyelidikan langsung oleh kita sendiri, jauh lebih baik daripada pengetahuan yang kita dapat dari buku mana saja. Keuntungan lain dari praktek langsung adalah, jika hasil penyelidikan kita benar tentu sangat baik tetapi, jika ada kawan-kawan yang membikin kesalahan dalam penyelidikan praktek, maka hal itu akan lebih mudah diperbaiki karena materinya telah tersedia. Namun demikian, tidak berarti praktek tidak langsung menjadi tidak penting. Praktek tidak langsung penting karena, kita sebagai perorangan dibatasi oleh jasmani, umur maupun tempat dimana kita bisa mengadakan praktek langsung. Misalnya, kita tidak mungkin mengalami langsung praktek perbudakan, feodalisme dan lahirnya kapitalisme di Barat karena kita pada waktu itu belum lahir. Tetapi praktek rakyat pada waktu itu dapat kita pelajari dan ketahui dari membaca tulisan orang. Di zaman itu, orang-orang yang melakukan praktek langsung sedangkan kita yang berada disuatu daerah di Indonesia tidak mungkin mengalami praktek langsung.
6. Tentang Logika
Sebelum kita melangkah lebih lanjut kepembahasan soal metode berpikir MDH, ada baiknya kita mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan logika dan cabang-cabangnya. Logika adalah suatu ilmu yang mempelajari proses pikiran. Dengan demikian, para ahli logika menyelidiki akivitas proses pikiran yang berlangsung di dalam kepala manusia dan merumuskan hukum-hukum, bentuk-bentuk dan interelasi (saling hubungan) dari proses-proses mental tersebut.
Ada dua tipe utama dari logika, yakni logika formal dan logika dialektik. Logika formal, sejarahnya bisa diurut hingga ke jaman Yunani kuno dan mencapai puncaknya pada pemikiran Aristoteles. Selama hampir 200 tahun, logika formal tidak mampu digoyahkan, sampai muncul logika tandingannya, yakni logika dialektik yang dirumuskan oleh Hegel. Logika dialektik yang dirumuskan oleh Hegel ini, kemudian disempurnakan atau dimaterialkan oleh Marx. Kita akan membahas hukum-hukum dari logika formal, setelah itu kita akan memfokuskan diri pada penguraian tentang MDH.
6.1. Tiga Hukum Dasar dari Logika Formal
Ada tiga hukum fundamental dari logika formal. Pertama dan yang paling penting adalah Hukum identitas. Hukum ini bisa dinyatakan dalam berbagai cara seperti: Suatu benda selalu sama atau identik dengan dirinya. dalam istilah aljabar: A sama dengan A.
Formulasi khusus dari hukum ini tak begitu penting sewaktu ide terlibat. Pemikiran esensial tercakup dalam hukum identitias. Hukum ini mengatakan, bahwa suatu benda selalu sama terhadap dirinya dan adalah sama juga menilai, bahwa di bawah semua kondisi ia tetap satu dan sama. Suatu benda yang ada berada secara absolut pada setiap momen yang ada. Seperti ahli fisis katakan: "Materi tak bisa diciptakan dan dihancurkan," contohnya, materi selalu menjadi materi.
Penilaian yang tak kondisional dari hukum identitas absolut dari suatu benda dengan dirinya sendiri, menimbulkan perbedaan dari esensi benda-benda dan pikiran. Bila suatu benda selalu dan dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, tak pernah bisa tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan ini mengambil secara logis dan tak terhindarkan dari hukum identitas. Bila A selalu sama dengan A, tak bisa pernah sama dengan non-A.
Kesimpulan ini dibuat eksplisit dalam hukum kedua dari logika formal : Hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan: A adalah bukan non-A. Ini tak lebih dari formulasi negatif dari penilaian positif yang dinyatakan dalam hukum yang pertama dari logika formal. Bila A adalah A, berikutnya, menurut pemikiran formal, bahwa A tak bisa menjadi non-A. Jadi Hukum logika formal kedua, hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial bagi hukum yang pertama.
Beberapa contoh: seorang manusia tak bisa menjadi bukan manusia; demokrasi tak bisa menjadi tidak demokrasi; seorang buruh tak bisa menjadi seorang bukan buruh. Hukum kontradiksi menyiratkan hasil perbedaan dari esensi benda-benda dan pikiran tentang benda-benda. Bila A selalu perlu identik dengan dirinya, tak bisa berbeda dari dirinya. Perbedaan dan persamaam adalah, menurut dua aturan logika ini, berbeda sekali, benar-benar tak berhubungan, karakter ekslusif saling menunjang dari baik benda-benda maupun pikiran-pikiran.
Ijinkan aku menempatkan suatu contoh menarik dari jenis pemikiran ini yang berasal dari tulisan-tulisan Aristoteles. Di dalam Posterior Abalytics (Buku I; bab 33, hal, 158), Aristoteles berkata, bahwa seseorang tak bisa secara simultan memahaminya, bahwa manusia secara esensial adalah binatang- dan kedua, bahwa manusia secara esensial bukan binatang, itulah, mungkin menganggap bahwa dia lain daripada binatang. Begitulah, seorang manusia secara esensial adalah seorang manusia dan tak pernah bisa atau berpikir tak menjadi seorang manusia.
Ini pasti tentulah menurut diktat dari hukum logika formal. Kini kita semua tahu ternyata bertentangan dengan fakta. Teori evolusi alam mengajarkan bahwa manusia secara esensial adalah binatang dan tak bisa lain daripada binatang. Secara logis berbicara, manusia adalah seekor binatang. Namun kita tahu juga dari teori evolusi sosial, yang merupakan kelanjutan dan perkembangan dari evolusi binatang secara murni, bahwa manusia tak lebih dari dan lain dari seekor binatang. Dengan kata lain dia secara esensial bukan seekor binatang melainkan manusia, yang merupakan spesies mkhluk hidup yang sangat berbeda dari semua binatang lainnya. Kita tahu bahwa kita, dua benda ekslusif yang saling bergantung pada satu dan saat yang sama.
Aristoteles dan hukum-hukum secara ekspresif adalah catatan yang diambil dari dalam hukum ketiga dari logika formal. Ini adalah hukum pertengahan khusus. Menurut hukum ini, setiap benda adalah dan pasti juga salah satu dari dua benda-benda ekslusif. Bila A sama dengan A, ia tak bisa sama dengan non-A. A tak bisa jadi bagian dari dua klas yang berlawanan pada satu atau saat yang sama. Dimana saja dua pernyataan yang saling berlawanan atauhubungan bermusuhan satu sama lain, baik itu mungkin benar atau juga salah. A adalah juga B atau ia bukan B. Kebenaran dari suatu pendapat menyiratkan ketidakbenaran kebalikannya. Hukum ketiga ini adalah suatu kombinasi dari dua pertama dan mengalir secara logis dari mereka.
Ketiga hukum ini merupakan basis dari logika formal. Semua jawaban-jawaban formal dihasilkan dari aturan atau dari proposisi-proposisi ini. Selama dua ratus tahun mereka merupakan aksioma tak terbantahkan dari sistim pikiran Aristoteles, hanya sebagai logika formal sebaliknya tak kokoh berdiri.
7. Apakah Materialisme Dialektik Itu ?
Materialisme dialetik adalah sebuah metode berpikir yang memperlajari sebab-sebab terjadinya penindasan manusia atas manusia dan bertujuan untuk mengubah dunia yang menindas itu. Ia dinamakan materialisme dialetik sebab, metodenya dalam mendekati gejala-gejala alam, metodenya dalam memahami dan mempelajari gejala-gejala itu adalah dialektik, sedangkan keterangannya (interprestasi) mengenai gejala-gejala alam pengertian dari gejala-gejala ini teorinya adalah materialis. Dari keterangan ini jelaslah, bahwa dialektika adalah suatu metode untuk mengenal dan mengubah kenyataan objektif. Metode dialektik berbeda dengan metode metafisik, karena metode ini berdasarkan hukum-hukum yang berlaku di dalam kenyataan objektif itu sendiri. Hukum-hukum objektif dialektik itu dapat dirumuskan dalam 4 pokok sbb :
1. Asas Gerak
2. Asas Saling Hubungan
3. Asas perubahan kuantitatif ke perubahan Kualitatif
4. Asas Kontradiksi
7.1. Asas Gerak
Asas dialektik yang pertama ialah bahwa, segala sesuatu itu berada dalam keadaan bergerak, dalam keadaan berkembang dan berubah. Asas dialektik ini bertentangan dengan asas metafisika yang berpendapat bahwa, segala sesuatu itu berada dalam keadaan diam, dalam keadaan tidak mengalami perubahan. Kalau kita teliti segala sesuatu yang ada dalam sekitar kita apakah itu alam, fikiran atau masyarakat maka, akan terlihatlah bahwa ia mempunyai masa awalnya, masa perkembangan dan masa kehancuran atau pergantianya. Misalnya bibit tumbuh lalu berkembang menjadi pohon dan akhirnya melapuk dan mati : masyarakat pemilikan budak lahir, berkembang dan kemudian digantikan masyarakat feodal dstnya. Demikian juga halnya dengan fikiran kita. Mula-mula kaum buruh berfikiran bahwa sistem kapitalis itu baik karena mereka merasa tertolong dengan mendapat pekerjaan sebagai buruh pabrik; lama-kelamaan mulai terlintas dalam fikiran kaum buruh itu bahwa sistem kapitalisme ini membuat mereka menjadi miskin, terasing dan tidak mampu memiliki alat-alat produksi karena nilai lebihnya dicuri oleh pemilik modal. Keadaan menguntungkan dan kemudian menjadi merugikan itu menyebabkan pikiran kaum buruh berubah mengalami pergerakan sebagai pencerminan yang menyeluruh terhadap keadaan sekelilingnya.
Pertanyaannya, apakah yang menyebabkan segala sesuatu itu bergerak? Seperti yang telah kita bahas pada bagian di atas, ada dua pendapat yang menyebabkan segala sesuatu itu bergerak dan berubah. Yang pertama adalah idealisme, yang menyatakan bahwa jika sesuatu itu berubah maka ia diubah oleh kekuatan ide yang berada di luar materi yang bersangkutan atau di luar dunia materiil. Yang kedua, adalah dialektika materialis yang berpendirian bahwa materi itu bergerak karena kekuatan yang terkandung di dalam materi itu sendiri. Kekuatan itu disebut SEBAB DALAM dari gerak materi itu. Misalnya, revolusi Indonesia mencapai kemajuan- kemajuan. Apa yang menjadi sebab kemajuan kemajuan itu? Yang menjadi sebabnya adalah kekuatan-kekuatan yang terkandung didalam masarakat Indonesia itu sendiri, yaitu klas-klas yang ada didalamnya serta saling hubungan di antara klas-klas itu. Revolusi Indonesia mencapai kemajuan-kemajuan bukan karena takdir, bukan pula karena hasutan dan desakan luar negeri.
Contoh lain, telor ayam bisa menetaskan anak ayam terutama karena di dalam telur ayam itu ada bibitnya sebagai sebab di dalamnya. Jika telor ayam itu tidak mengandung bibit ayam, maka bagaimanapun usaha untuk menetaskanya akan sia-sia belaka. Jadi, jelaslah bahwa gerak atau perkembangan segala sesuatu pertama-tama disebabkan oleh sebab dalam.
Pengaruh faktor luar sudah tentu ada, tetapi tidak menentukan. Pengaruh itu ada artinya, jika di dalam sesuatu itu ada faktor dalam yang menampung faktor luar tersebut. Jika faktor dalam itu tidak mampu, maka pengaruh itu tidak akan ada. Ambil contoh telor ayam tadi. Untuk menetaskan telor menjadi anak ayam membutuhkan suhu tertentu (faktor luar) tetapi, suhu itu tidak akan ada artinya jika telor itu bukan telor bibit atau telor itu busuk. Contoh lainya, bagaimana menguntungkannya situasi dunia Internasional sebagai faktor luar dalam membangun demokrasi sejati, tetapi jika kekuatan–kekuatan prodemokrasi di dalam negeri tidak solid, tidak punya organisasi yang terpimpin, tidak punya strategi-taktik yang jitu dan tidak punya program yang tepat, maka gerakan prodemokrasi itu tidak akan bisa mencapai hasil yang maksimal. Tegasnya, faktor luar itu memainkan peranan yang penting bagi gerak suatu materi, tetapi yang menentukan adalah faktor dalam. Faktor luar itu hanya bisa memberikan pengaruhnya lewat sebab dalam itu sendiri. Faktor luar itu disebut juga syarat luar dari gerak materi.
Sesuai dengan asas dialetika objektif ini, maka metode kita dalam memahami dan mengubah kenyataan objektif haruslah bertolak dari sebab dalam itu sendiri; dari gerak, saling hubungannnya dan kontradiksinya.
7.2. Asas Saling Hubungan (interelasi)
Kaum metafisika (idealisme) perpendapat bahwa, segala sesuatu itu berdiri sendiri-sendiri, tidak mempunyai hubungan satu sama lain atau tidak mempunyai saling hubungan. Sebaliknya, asas dialetika menyatakan dan memang demikianlah kenyataanya bahwa, segala sesuatu itu tidak berdiri sendiri–sendiri, tetapi mempunyai saling hubungan. Hal yang satu mempengaruhi atau menentukan hal yang lain dan sebaliknya. Saling hubungan itu terdapat di dalam bagian-bagian di dalam sesuatu dan antara hal yang satu dengan hal yang lain saling hubungan itu terdapat pula antara masa lampau dan masa kini serta dengan masa depan.
Misalnya, dalam masyarakat Indonesia terdapat saling hubungan di antara kelas yang ada didalamnya, dimana yang satu mempengaruhi dan menentukan yang lain. Contoh lain, keadaan di kita yang terbelenggu oleh sistem kapitalis-militeris saat ini tidak terlepas dari keadaan masa yang lalu : keadaan yang sekarang akan menentukan dimasa depan .
Saling hubungan adalah saling hubungan yang secara objektif ada didalam kenyataan, ia adalah sesuatu yang diada-adakan atau yang dikira-kirakan oleh manusia secara subjektif. Misalnya, ada saling hubungan secara objektif antara watak seseorang dengan keadaan sosialnya, tetapi tidak ada saling hubungan dengan namanya. Contoh lain: ada saling hubungan antara krisis ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi yang berdasarkan hak milik perorangan kapitalis atas alat-alat produksi tetapi, tidak ada saling hubungan dengan bintik-bintik matahari. Jika sesuatu mengandung lebih pada satu hubunganya maka satu di antara saling hubungan itu adalah saling hubungan pokok. Saling hubungan pokok ini peranannya menentukan di antara saling hubungan-hubungan lainnya. Saling hubungan bukan pokok, bersifat tidak menentukan tetapi mempengaruhi. Misalnya, terdapat hubungan antara kaum tani dengan tuan tanah dengan proletariat dengan borjuasi dsbnya. Saling hubungan pokoknya ialah, saling hubungan kaum tani itu dengan tuan tanah .
Seorang anggota partai dalam menentukan pendiriannya mengenai sesuatu hal, dipengaruhi oleh garis partai, keinginan keluarganya, pengaruh keadaan di sekitar tempat tinggalnya /tempat kerjanya, dsb. Saling hubungan pokok dalam hal ini ialah, saling hubungan dengan garis partai. Berdasarkan asas saling hubungan ini maka, metode kita mendekati, memahami dan mengubah sesuatu haruslah dalam saling hubunganya yang ada secara objektif dengan hal-hal di sekelilingnya dengan masa lampau dan masa depan.
7. 3. Asas Perubahan dari Kuantitas ke Kualitas
Asas ini mengunkapkan bentuk-bentuk yang ditempuh oleh setiap materi dalam proses gerak atau perkembanganya dan dengan demikian mengariskan arah gerak atau perkembanganya. Apa yang dimaksud dengan kualitas itu? Kualitas adalah, seluruh ciri atau sifat yang terkandung di dalam sesuatu yang memberikan kepastian pada sesuatu itu. Yang membedakanya dengan hal yang lain dari pengertian kualitas ini, tidak hanya terbatas pada pengertian nilai dalam percakapan sehari-hari dan lebih luas pada pengertian sifat atau ciri saja. Misalnya, di dalam dunia semesta ini terdapat banyak sekali hal ihwal yang beraneka ragam, tetapi hal itu tidak menjadikan kita bingung karena kita bisa membedakan satu dengan yang lain; seperti kita dapat segera membedakan air dengan minyak, manusia dengan kera, masyarakat kapitalis dengan masyarakat sosialis.
Untuk mengetahui kualitasnya kita mengungkapkan antara lain, hubungan kemasyarakatan yang terdapat di dalam kedua sisterm di masyarakat terutama, hubungan produksinya. Seorang anggota partai adalah hal yang lain yang berbeda dari seorang yang bukan anggota partai. Perbedaan ini karena kualitas yang terkandung di dalam kedua hal itu, yakni perbedaan dalam ideologinya, politiknya, dan moralnya.
Kemudian, yang penting kita ketahui bahwa kualitas sesuatu itu dinyatakan dalam banyak segi, dalam banyak ciri. Diantara segi-segi atau ciri-ciri itu, ada yang merupakan ciri dasar dari kualitasnya. Jika ciri dasar kualitas itu mengalami perubahan, maka terjadilah perubahan fundamentil pada materi itu dan berubahlah materi itu menjadi materi yang baru. Tetapi, jika perubahan itu pada ciri-ciri yang bukan dasar maka tidak terjadi perubahan fundamentil pada materi itu. Masyarakat kapitalis kualitasnya bisa dilihat dari segi sistem ekonominya, sistem pemerintahannya, kebudayaannya, dsbnya. Tetapi yang paling menentukan ialah sistem ekonominya, yang merupakan ciri dasar kualitasnya. Jika sistem ekonomi masyarakat kapitalis itu berubah, maka berubah pulalah masyarakat kapitalis itu. Misal lain, kaum buruh kualitasnya bisa dilihat dari segi hubunganya dengan hak milik, jumlah penghasilanya, kedudukanya dengan proses produksi, pendidikanya, kegemaranya, pengetahuannya dsbnya. Tetapi, segi yang paling menentukan ialah, hubunganya dengan hak milik yaitu bahwa kaum buruh tidak memiliki alat-alat produksi dan hidup dari menjual tenaga kerjanya. Jika ciri ini tidak ada lagi misalnya, ia sudah memiliki alat-alat produksi dan tidak lagi menjual tenaganya maka, kualitasnya telah mengalami perubahan fundamentil yaitu dia umpanya telah berubah menjadi borjuis kecil.
Sekarang, apa yang dimaksud dengan kuantitas? Kuantitas adalah, jumlah dalam arti kata yang seluas-luasnya yaitu : banyak-sedikit, besar-kecil, luas-sempit, lama-sebentar. Dsbnya. Jadi, pengertian kuantitas disini, tidak terbatas pada bilangan saja. Kualitas dan kuantitas, terdapat bersama-sama dalam setiap hal. Atau dengan kata lain, setiap hal itu mengandung kualitas dan kuantitas tertentu. Kesatuan dari kedua unsur itulah yang menetapkan sesuatu itu. Misalnya, penanaman modal asing di negeri ini, besar kecinya berpengaruh disegala bidang kehidupan sosial, atau luas tanah yang berpusat di dalam tangan tuan tanah dsbnya. Lalu, apakah yang dimaksud dengan perubahan kuantitas ke perubahan kualitas? Adalah perubahan yang bersifat penambahan atau pengurangan yang tidak membawa perubahan pada ciri dasar kualitas. Misanya, seorang anggota partai sebelum dia mengajukan permintaan atau diterima sebagai calon anggota telah mengalami perubahan-perubahan kuantitatif yakni, semakin banyak pengalaman revolusionernya semakin makin tebal kesadaran kelasnya, makin tinggi kesadaran politiknya dan makin mengenal perjuangan dan cita-cita partai maka, makin yakin akan kebenaran konstitusi dan program partai. Contoh lain, air ketika dimasak dalam proses pemanasan dan sebelum air itu berubah menjadi uap, terjadilah perubahan-perubahan kuantitatif yaitu perubahan pada hubungan intern molekul-molekul air itu dsbnya.
Perubahan kualitatif adalah perubahan yang terjadi pada ciri dasar kualitas materi yang bersangkutan, sehingga akibatnya lahirlah ciri dasar yang baru. Misalnya, orang yang bukan orang partai tadi, menjadi calon anggotanya dan kemudian menjadi anggota partai. Perubahan dari bukan anggota menjadi anggota itu, adalah perubahan kualitatif. Atau, air yang dimasak tadi berubah menjadi uap. Perubahan kuantitatif itu berlangsung secara berangsur-angsur sedangkan perubahan kwalitatif berlangsung secara tiba-tiba, revolusioner dan merupakan suatu lompatan dalam perkembangan materi yang bersangkutan. Antara kedua bentuk perubahan itu, terdapat saling hubungan yang erat sekali. Perubahan kuantitatif menciptakan perubahan kualitatif sebaliknya, perubahan kualitatif menyelesaikan perubahan kuantitatif yang yelah terjadi yang merupakan perubahan kuantitatif yang baru. Misalnya, program cabut dwifungsi ABRI merupakan perubahan dalam hubungan sipil-militer (perubahan kuantitatif) yang menuju ke perubahan dari masa kediktatoran ke masa demokrasi sejati (perubahan kualitatif). Sebab, kita percaya bahwa selama dwifungsi ABRI masih bercokol selama itu pula, demokrasi senantiasa dalam ancaman bahaya. Dialektikanya, adanya perubahan kualitatif akan melahirkan perubahan kuantitatif yang baru. Misalnya, dalam masa demokrasi sejati, kesempatan untuk berbicara, berpendapat, dan berorganisasi, akan lebih mudah bagi setiap individu, kelompok maupun partai politik, ketimbang di era kediktatora.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan itu berlangsung dari perubahan kuantitatif (evolusioner) ke perubahan kualitatif (revolusioner), dari yang kecil-kecil menunju ke yang besar, dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Kedua hal ini tidak boleh dipertentangkan atau dikontradiksikan, keduanya berhubungan erat dan sejiwa. Dalam perjuangan menegakkan demokrasi sejati itu, kita tidak boleh terjebak pada pilihan: gerakan evolusi atau gerakan revolusioner. Perubahan revolusioner harus didahului oleh perubahan yang evolusioner sedangkan, perubahan evolusioner mesti ditingkatkan ke perubahan revolusioner. Mau mengadakan perubahan revolusioner tanpa mendahuluinya dengan perubahan-perubahan evolusioner adalah metode kekiri-kirian, avonturisme. Sebaliknya, jika kita tetap bersikukuh pada metode evolusioner tanpa meningkatkan ke perubahan revolusioner, maka kita telah terperangkap pada cara kerja reformisme yang kompromis dan oportunis.
7.4. Asas Kontradiksi
Asas dialektika yang ke empat adalah asas kontradiksi. Asas ini merupakan asas dialektika yang terpenting karena ia mengungkapkan lebih lanjut apa yang menyebabkan sesuatu itu bergerak. Dalam dialektika materialis kontradiksi mengandung arti yang luas, yang tidak terbatas pada pertentangan saja tetapi mencakup juga perbedaan yang sekecil-kecilnya. Misalnya, perbedaan pendapat antara si A dan si B mengenai hal yang remeh sekalipun adalah kontradiksi.
Kontradiksi terjadi apabila ada dua hal atau dua bagian dari suatu hal yang bertentangan atau berbeda. Dua hal atau dua bagian sesuatu itu disebut segi-segi atau aspek aspek kontradiksi, misalnya, antara rakyat dan Dwifungsi ABRI dimana kedua hal itu terdapat kontradiksi. Rakyat adalah salah satu aspek atau segi kontradiksi itu sedangkan Dwifungsi ABRI adalah segi atau aspek yang lain. Contoh lain, antara pendapat ”ya, dan tidak“ mengenai sesuatu persoalan juga adalah konntradiksi. Pendapat " ya” adalah salah satu kontradiksi itu sedangkan pendapat "tidak” adalah segi lainya.
7.4.1. Keumuman dan Keumuman Kontradiksi
Kontradiksi seperti asas-asas dialektika lainya berlaku secara umum. Ia terdapat di dalam segala hal ihwal dalam semua keadaan dan semua gejala, apakah gejala itu gejala alam, masyarakat atau pikiran, kesemuanya mengandung kontradiksi
Di dalam masyarakat yang berkelas terdapat kontradiksi kelas, didalam alam organik terdapat kontradiksi antara sel yang tumbuh dengan sel yang akan mati, di dalam fikiran terdapat yang salah dengan yang benar, yang kolot dengan yang baru. Disamping itu keumuman kontradiksi berarti juga kontradiksi itu terdapat diseluruh proses perkembangan waktu, ia terdapat sejak awal hingga akhir proses itu. Misalnya, kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan Imperialisme sejak Indonesia dijajah kaum Imperialis hingga Indonesia menjadi negeri yang merdeka.
Namun, disamping segi keumumannya, kontradiksi juga mengandung segi kekhususannya. Maknanya, untuk mengenal gerak sesuatu yang kongkrit tidaklah cukup hanya mengetahui keumuman kontradiksinya saja, kita harus pula mengenal kontradiksi yang terdapat di dalam hal yang kongkrit itu, yang khusus itu. Lebih jelasnya, yang dimaksud dengan kekhususan kontradiksi bahwa, kontradiksi yang terdapat pada hal yang satu tidaklah sama dengan kontradiksi yang terdapat pada hal yang lain. setiap hal yang khusus mengandung hal yang kontradiksi yang khusus pula. atau kontradiksi-kontradiksinya sendiri-sendiri. Perbedaan itu dapat dilihat dari aspek–aspek yang berkontradiksi, kedudukan salah satu kontradiksi dsbnya. Misalnya, terdapat kontradiksi yang berbeda di kota dengan di desa, hal itu bisa dilihat dari: di desa terdapat kontradiksi yang menonjol antara kaum tani dengan tuan tanah sedangkan di kota antara kaum buruh dengan kaum borjuasi. Demikian juga di dalam masyarakat berkelas, terdapat kontradiksi kelas sedangkan di dalam masyarakat sosialis, kontradiksi itu adalah antara pandangan yang benar dengan pandangan yang salah.
Disamping itu pada tiap tingkat dalam proses perkembangan sesuatu terdapat pula kontradiksi yang tidak sama yang terdapat pada tingkat yang berbeda. Misalnya, kontradiksi yang terdapat pada masyarakat feodal berbeda dengan kontradiksi yang terkandung di dalam masyarakat kapitalis. Di dalam masyarakat feodal terdapat kontradiksi antara petani dan tuan tanah antara tuan tanah dengan produsen kecil dsbnya, sedangkan di dalam masyarakat kapitalis kontradiksinya adalah antara kelas buruh dengan kaum borjuasi, antara borjuasi dengan produsen kecil dsbnya.
Karena pada hal yang berbeda atau pada tiap tingkat proses perkembangan sesuatu itu terdapat kontradiksi yang berbeda pula, yakni yang khusus, maka metode dalam memecahkan kontradiksi itu haruslah secara khusus pula. Metode pemecahan yang digunakan untuk menjawab kontradiksi yang satu tidak bisa digunakan untuk menjawab kontradiksi khusus yang lain, metode memecahkan kontradiksi yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia adalah tidak sama dengan yang digunakan dinegeri lain : metode memecahkan kontradiksi di kalangan rakyat berbeda dengan metode memecahkan kontradiksi antara rakyat dengan musuh rakyat : metode memecahkan kontradiksi di dalam pikiran seorang anggota partai juga berbeda dengan metode memecahkan kontradiksi di dalam pikiran seorang yang bukan anggota partai.
7.4.2. Kontradiksi Pokok/kunci
Seperti yang sudah dikemukakan di atas, kontradiksi itu mengandung banyak segi, yang khusus dan yang umum, bertingkat-tingkat di mana dalam setiap tingkatannya kontradiksinya juga mengalami peningkatan. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengetahui kunci di dalam memecahkan dan menyelesaikan kontradiksi itu.
Kontradiksi yang menjadi kunci penyelesaian pada tingkat perkembangan itu disebut kontradiksi pokok, sedangkan kontradiksi-kontradiksi lainya adalah kontradiksi bukan pokok. Jika kontradiksi pokok itu sudah diselesaikan maka penyesaian terhadap kontradiksi bukan pokok atau kontradiksi-kontradiksi lainya akan lebih mudah diselesaikan. Konsekuensinya, kontradiksi pokok harus menjadi prioritas untuk ditangani, sedangkan kontradiksi bukan pokok penyelesaiannya bisa di nomorduakan atau bisa ditunda. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia saat ini di dalamnya terdapat kontradiksi-kontradiksi seperti antara rakyat Indonesia dengan Imperialisme dan feodalisme, antara kaum buruh dengan borjuasi nasional dan transnasional, antara kaum buruh dan kaum tani, antara rakyat sipil dengan Dwifungsi ABRI/TNI dsbnya. Pertanyaan yang harus kita jawab lebih dahulu, kontradiksi mana yang menjadi kunci dalam menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang terkandung di dalam masyarakat Indonesia itu? Jika kita simpulkan bahwa kontradiksi pokoknya adalah rakyat sipil dan Dwifungsi ABRI/TNI, maka kontradiksi ini harus dipecahkan terlebih dahulu sehingga kontradiksi yang lain akan lebih mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika kita salah di dalam menentukan mana kontradiksi pokoknya, maka penyelesaian kontradiksi tidak akan membawa kita pada penyelesaian kontradiksi yang lebih maju atau lebih tinggi.
7.4.3. Mutasi Kontradiksi
Kesalahan di dalam mengenali dan mengetahui mana kontradiksi pokok dan mana kontradiksi bukan pokok, disamping akan menghambat pemecahan kontradiksi, juga dapat menyebabkan pengalihan atau pemutarbalikkan kontradiksi pokok dan bukan pokok. Pengalihan atau perubahan kontradiksi pokok menjadi kontradiksi bukan pokok atau sebaliknya, kontradiksi bukan pokok menjadi kontradiksi pokok, kita mutasi kontradiksi.
Misalnya, kontradiksi pokok, kontradiksi yang tidak terdamaikan di dalam masyarakat Indonesia saat ini adalah antara rakyat sipil dengan Dwifungsi ABRI. Dwifungi ABRI menjadi musuh rakyat karena dengannya, tentara menjadi leluasa di dalam membungkam dan menumpas seluruh kekuatan rakyat yang berusaha mewujudkan keadilan dan demokrasi yang sejati. Karena itu, maka tuntutan pencabutan Dwifungsi ABRI harus menjadi program mendesak, harus menjadi prioritas bagi seluruh kaum prodemokrasi. Tetapi, tidak jarang kita temui bagaimana kelompok-kelompok reaksioner berusaha mengalihkan kontradiksi pokok ini ke masalah SARA, bahwa sumber kericuhan, sumber ketidakadilan itu disebabkan oleh dominasi minoritas non-muslim atas mayoritas muslim. Nah, perubahan dari isu Dwifungsi ABRI ke isu SARA itulah yang disebut MUTASI KONTRADIKSI.
7.4.4. Segi-segi Kontradiksi
Di dalam mempelajari kekhususan kontradiksi, disamping mengetahui kontradiksi pokok dan bukan pokok, perlu sekali bagi kita untuk memahami watak dan kedudukan dari segi-segi yang berkontradiksi itu. Seperti telah dijelaskan di atas, antara segi-segi yang berkontradiksi itu terdapat perjuangan dimana dalam perjuangan itu, sudah tentu ada segi yang akan kalah dan ada segi yang akan menang, ada segi yang akan berkembang dan ada segi yang akan mengalami kehancuranya. Segi yang akan menang dan segi yang akan berkembang itu disebut segi baru sedangkan segi yang akan kalah dan akan mengalami kehancuranya itu disebut segi lama.
Segi baru pada awalnya lemah, tetapi ia berkembang dan lama-kelamaan menjadi segi yang kuat dan mengalahkan segi lama. Harus juga diketahui bahwa menilai segi-segi itu dari sudut yang tertera adalah menilainya dari sudut wataknya. Contoh : kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan tentara yang berdwifungsi. Rakyat Indonesia adalah segi baru sedangkan tentara adalah segi lama. Rakyat Indonesia pada awal kontradiksi itu adalah segi yang lemah tetapi berkembang terus dan akhirnya ia pasti akan mengalahkan tentara yang berdwifungsi.
Kemudian, kita harus pula meninjau segi-segi itu dari sudut kedudukanya, yaitu dari sudut peranan segi yang satu terhadap segi yang lain dalam kontradiksi itu. Pada suatu tingkat proses perkembangan tertentu sesuatu kontradiksi, ada segi yang berperan memimpin segi yang lain sehingga ia memimpin arah perkembangan kontradiksi itu. Segi yang memimpin disebut segi pokok sedangkan segi yang dipimpin itu disebut segi bukan pokok. Misalnya, perkembangan kontradiksi antara ideologi proletariat dengan ideologi non proletariat di dalam pikiran seorang buruh. Pada mulanya ideologi proletariat itu masih merupakan benih-benih yang baru tumbuh, ia masih lemah sementara, pada saat itu ideologi non proletariat merupakan segi pokok, masih kuat kedudukannya. Tetapi lewat pengalaman perjuangan dan usaha yang ulet serta terus-menerus dari aktivis-aktivis partai dalam menjelaskan program dan konstitusi partai kepadanya maka, ideologi proletariat itu berkembang hingga kesuatu tingkat menjadi sedemikian kuatnya sehingga menentukan tindak tanduknya dan mendorong dia masuk menjadi anggota partai. Pada saat itu ideologi proletariat menjadi segi pokok dan ideologi non proletariat menjadi segi bukan pokok.
Dalam keadaan tertentu dari proses perkembangan suatu kontradiksi pokok bisa berubah menjadi segi bukan pokok dan sebaliknya. Demikian pula dalam kontradiksi antara ideologi proletariat dengan ideologi non proletariat tadi, pada mulanya segi pokoknya adalah non proletariat tetapi dalam proses selanjutnya ideologi non proletariat itu menjadi segi bukan pokok yaitu, ketika ia menjadi anggota partai. Ideologi proletariat yang pada mulanya segi bukan pokok kemudian menjadi segi pokok.
8. Materialisme Histori
Filsafat Marxisme terdiri dari dua bagian pokok yaitu materialisme dialektik dan materialisme histori. Dua bagian itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan saling melengkapi. Jika materialisme dialektik mengungkapkan hukum umum perkembangan hal ihwal masyarakat, maka materialisme histori adalah penerapan hukum umum pada gejala masyarakat itu. Jadi materialisme histori mempelajari hukum-hukum umum perkembangan masyarakat, hukum umum perkembangan sejarah manusia.
8.1. Keadaan Sosial Menentukan Kesadaran Sosial
Jika masalah terpokok dalam filsafat diterapkan pada kehidupan masyarakat maka, keadaan sosial yaitu kenyataan objektif masyarakat adalah primer, sedangkan kesadaran sosial yaitu kehidupan spirituil masyarakat adalah sekunder. Keadaan sosial menentukan kesadaran sosial sedangkan kesadaran sosial yang merupakan pencerminan keadaan sosial itu.
Yang dimaksud keadaan sosial adalah syarat-syarat kehidupan materiil masyarakat, yang terdiri dari antara lain: keadaan geografi, penduduk dan cara menghasilkan kebutuhan hidup materiil masyarakat yaitu, sandang, pangan tempat tinggal dsbnya. Kesadaran sosial meliputi antara lain : konsepsi politik, agama, filsafat, moral, kesenian. Karena kesadaran sosial itu sekunder maka, sumber kesadaran sosial itu harus dicari bukan bukan pada keinginan subjektif manusia yang lepas dari keadaan sosialnya tetapi sebaliknya, pada keadaan sosial itu sendiri. Misalnya, kesadaran sosial yang mementingkan diri sendiri yang demikian menonjol di segala bidang di dalam masyarakat kapitalis, haruslah dilihat dari bukan ciptaan atau keingginan subjektif para ahli ideologinya, ciptaan atau keinginan yang tidak mempunyai hubungan dengan syarat-syarat materiil masyarakat kapitalis itu, tetapi sebaliknya, pada kenyataan bahwa di dalam masyarakat kapitalis itu berlaku hubungan produksi yang berdasarkan hak milik perseorangan kapitalis atas alat-alat produksi. Dengan syarat-syarat kehidupan materiil yang seperti itu kesadaran sosial yang mementingkan kepentingan umum tidak akan menonjol sebaliknya, di dalam masyarakat sosialis yang dalam hubungan produksinya berdasarkan hak milik umum atas alat-alat produksi menonjol kesadaran sosial yang mementingkan kepentingan umum.
Karena kesadaran sosial itu ditentukan oleh keadaan sosial maka dalam merumuskan kesadaran sosial pada tingkat perkembangan tertentu masyarakat itu, konsepsi-konsepsi politik misalnya, harus disusun berdasarkan keadaan sosial dimana konsepsi-konsepsi itu akan berlaku. Misalnya, masyarakat Indonesia yang belum merdeka penuh sekarang ini dimana terdapat cara produksi Imperialis feodal, borjuis nasional, dan produsen kecil maka, konsepsi politik bagi masyarakat Indonesia haruslah sesuai dengan syarat-syarat, a.l: berdasarkan syarat-syarat kehidupan materiil itu maka, revolusi kita adalah revolusi nasional anti Imperialis, tenaga pengeraknya adalah kaum buruh, kaum tani, klas borjuis kecil dan elemen-elemen demokratis lainya.
Meskipun kesadaran sosial itu mencerminkan keadaan sosial ia juga mempunyai peranan aktif dalam mengubah atau mendorong maju keadaan sosial. Ide revolusioner mempunyai peranan penting dalam mendorong syarat-syarat materiil kehidupan masyarakat untuk maju, misalnya, ide sosialisme sangat penting artinya dalam membawa perubahan-perubahan dalam cara produksi masyarakat dan dengan demikian mendorong ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi, sederhanaya, ide (kesadaran sosial) ditentukan oleh materi (keadaan sosial), tetapi pada tingkatan tertentu, ide lebih maju dari pada keadaan sosial.
8.2. Hukum Umum Perkembangan Masyarakat
Materialisme dialektik berpendapat bahwa masyarakat sebagai gejala materiil bergerak dan berkembang atau berubah. Gerak perkembangan itu ditimbulkan oleh kekuatan-kekuatan materiil yang terdapat di dalam masyarakat yaitu oleh syarat-syarat materiil.
Di atas sudah dijelaskan bahwa syarat-syarat kehidupan masyarakat materiil itu ialah keadaan geografi, penduduk dan cara menghasilkan kehidupan materiil masyarakat itu. Menurut kenyataanya di antara unsur-unsur keadaan sosial itu keadaan mana yang terutama menentukan perkembangan masyarakat? Jika kita tinjau perkembangan masyarakat maka ternyata keadaan geografi dan penduduk tidak berubah sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat , perubahan-perubahan geografi dan penduduk berlangsung jauh ketinggalan dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat sehinga dapat disimpulkan bahwa, faktor-faktor itu bukan faktor yang menentukan perkembangan masyarakat. Yang menentukan ialah cara produksi.
Cara produksi terdiri dari hubungan-hubungan produksi dan tenaga produktif. Kontradiksi antara tenaga produktif dengan hubungan–hubungan produksilah yang mendorong perkembangan masyarakat. Di dalam masyarakat berkelas kontradiksi itu mengambil bentuk perjuangan kelas yaitu antara kelas yang menghisap dan kelas yang dihisap, antara kelas yang memililki alat-alat produksi dengan kelas yang alat-alat produksinya dirampas.
8.3. Peranan Massa dan Perseorangan Dalam Sejarah
Supaya suatu sistem masyarakat bisa meneruskan kelangsungan hidupnya maka ia harus menghasilkan kebutuhan hidupnya, terutama kebutuhan hidup materiilnya a.l. sandang, pangan, perumahan dsb. Jika kebutuha-kebutuhan itu tidak terpenuhi maka masyarakat itu akan lenyap dari permukaan bumi ini, oleh karena itu menurut materialisme histori mempersoalkan sejarah masyarakat, adalah mempersoalkan orang-orang yang menghasilakn kebutuhan materiil itu yaitu mempersoalkan rakyat pekerjanya.
Rakyat pekerja adalah pencipta sejarah karena merekalah yang memungkinkan kelangsungan masyarakat itu. Tanpa rakyat pekerja kelangsungan hidup masyarakat tak mungkin. Sehingga dengan demikian, kelirulah pandangan kaum idealis yang mengatakan bahwa sejarah masyarakat diciptakan oleh raja-raja, kaisar-kaisar, pemimpin-pemimpin atau perseorangan-perseorangan .
Apakah dengan demikian materialisme histori menyangkal peranan pemimpin atau perorangan di dalam sejarah? Materialisme histori mengakuai peranan pemimpin atau perseorangan di dalam sejarah sebagai bagian dari massa yang paling sadar dan yang dapat mencerminkan dan merumuskan kepentingan dan perasaan massa untuk memenuhi kepentingan dan perasaan mereka. Jika hal itu tidak dipenuhi maka ia bukan lagi pemimpin dan kalau ia memainkan peranan yang berlawanan dengan kepentingan dan keinginan massa maka dalam proses perkembangannya ia pasti akan ditinggalkan oleh massa. Mari kita mengambil masyarakat Indonesia sebagai contoh. Yang tergolong dalam masyarakat pekerja adalah kaum buruh, kaum tani dan produsen kecil, mereka itulah yang menjadi pencipta masyarakat Indonesia. Jadi jika dilihat dari segi ini merekalah yang menjadi tenaga-tenaga penggerak revolusi Indonesia sehingga pemimpin-pemimpin Indonesia jika ingin berjalan searah dengan pencipta sejarahnya, mesti mencerminkan atau menjadi penyambung lidah dan organisator massa rakyat pekerja itu. Bersikap bertentangan dengan kepentingan atau perasan massa itu akan berarti menentang perkembangan masyarakat Indonesia dan akhirnya akan ditinggalkan oleh massa rakyat pekerja itu. Inilah yang menimpa Soeharto, bahwa karena ia bertentangan dengan kesadaran dan perasaan massa maka, ia ditinggalkan, ia dilengserkan dari tahtanya. Dari keterangan di atas jelas terlihat saling hubungan antara peranan massa rakyat dengan pemimpinnya di dalam sejarah. Sehingga dapat disimpulkan, massa rakyat pekerja adalah pencipta sejarah, tetapi peranan pemimpinnya tidak boleh diabaikan.
Oleh karena rakyat pekerja itu adalah pencipta sejarah maka, salah satu langgam kerja partai yang terpenting adalah berpegang teguh pada garis massa, sebagai mana dicantumkan dalam konstitusi PRD dan sering ditekankan di dalam dokumen-dokumen partai. Berpaling dari garis massa berarti kita akan terjerambab pada lingkaran sejarah yang buntu.
DASAR-DASAR TEORI EKONOMI-POLITIK
1. Pengantar
1.1. Produksi Materi (Barang-barang) Kebutuhan Merupakan Basis dari Kehidupan Sosial.
Banyak pendapat mengenai siapa apa yang menyebabkan adanya perkembangan masyarakat. Seorang agamawan misalnya, mengatakan bahwa perkembangan masyarakat itu adalah takdir Tuhan. Namun, ilmu pengetahuan dan praktek membuktikan bahwa tidak ada kekuatan supranatural yang mendorong perkembangan masyarakat. Sementara para ilmuwan borjuis berpendapat bahwa perkembangan sosial tergantung pada lingkuangan alam, yakni kondisi alam semiasal iklim, tanah, mineral, dan lain-lain. Memang benar bahwa kondisi alam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, tapi itu tidak menentukan. Sebagai bukti, selama 300 tahun telah terjadi suksesi (pergantian) sistem sosial di Eropa Barat dan bahkan terjadi empat kali di Eropa Tengah dan Timur; namun selama periode tersebut kondisi alam di Eropa belum pernah mengalami perubahan sama sekali. Beberapa orang berpendapat bahwa arah perkembangan sejarah hanya tergantung pada pada kehendak para tokoh negarawan yang ada, para jenderal dan sebagainya. Kenyataannya, sebaliknya, para tokoh-tokoh itu bisa mendukung ataupun menghambat suatu perubahan, namun mereka tak mampu menentukan arah sejarah.
Lalu apa yang menentukan perkembangan masyarakat? Jawabnya : “Dalam rangka mempertahankan hidup, orang harus makan dan berpakaian, memiliki rumah dan barang-barang lain sebagai sarana hidup. Untuk memilikinya, orang harus berproduksi, artinya harus bekerja. Masyarakat manapun akan punah jika tidak mau memproduksi barang kebutuhan. Oleh karenanya, produksi barang kebutuhan adalah basis kehidupan dan perkembangan masyarakat.
Yang dimaksud dengan produksi barang kebutuhan adalah : proses menghasilkan barang-barang kebutuhan yang memasukkan (=menggunakan, menggabungkan) tenaga kerja (labour), faktor-faktor kerja (mean of labour), dan obyek kerja (object of labour) .
Tenaga kerja (labour) = tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan oleh manusia yang diarahkan untuk menghasilkan barang kebutuhan. Proses produksi tidak cukup jika tanpa alat-alat kerja.
Faktor kerja (means of labour) = semua barang yang dengan bantuan tindakan manusia terhadap suatu benda/obyek kerja dan merubahnya. Faktor-faktor kerja meliputi : mesin dan perlengkapan, peralatan, bangunan, fasilitas transportasi, saluran air, jaringan listrik, dll. Tanah adalah merupakan alat produksi yang universal. Instrumen (peralatan) produksi memainkan peran yang paling menentukan dibandingkan dengan faktor-faktor produksi yang lain. Kemampuan manusia mempengaruhi alam tergantung pada instrumen (peralatan) yang ia gunakan. Manusia primitif menggunakan batu dan tongkat sebagai instrumen produksinya, oleh karenanya mereka sangat tidak berdaya dihadapan alam. Manusia modern bekerja dengan bantuan mesin, dan kekuasaannya terhadap alam meningkat terus. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa : epos (sejarah besar) ekonomi dibeda-bedakan tidak dari apa yang diproduksi tetapi dari instrumen apa yang digunakan untuk berproduksi.
Dengan instrumen produksi mereka, orang berbuat terhadap obyek kerja (objects of labour). Obyek kerja = segala sesuatu yang menggunakan tenaga kerja manusia. Dan karena tenaga kerja digunakan terhadap alam yang mengelilingi kita, alam itu sendiri (tanah dan segala hal di atas bumi ini) adalah merupakan obyek kerja yang universal. Semua obyek kerja primer disediakan oleh alam. Manusia harus menyesuaikan diri terhadap obyek kerja yang disediakan alam tersebut.
1.2. Tenaga Produksi dan Hubungan Produksi
Faktor kerja (menas of labour) dan obyek kerja (objects of labour) secara bersama-sama membentuk faktor produksi (means of production). Tetapi, faktor-faktor produksi itu sendiri tidak tak mampu menghasilkan barang-barang kebutuhan. Peralatan mesin yang paling canggih sekalipun tak bisa jalan tanpa ada orang-orang yang mengoperasikannya. Tanpa buruh, pabrik hanyalah rumah-rumah hantu, mesin hanyalah rongsokan tak berguna dan uang hanyalah sekumpulan angka, begitu kata seniman Wiji Thukul. Karena itu, faktor yang paling menentukan dalam semua aktivitas produksi adalah manusia itu sendiri, tenaga kerjanya.
Produksi selalu mempunya dua aspek : kekuatan produktif (productive forces) dan hubungan produksi (relation of production). Kekuatan produktif meliputi faktor-faktor produksi yang dibuat oleh masyarakat dan peralatan-peralatan kerja, dan juga orang-orang yang memproduksi barang kebutuhan tersebut. Mengapa orang-orang masuk di sini karena pengetahuan mereka, pengalaman dan keahlian mereka, yang mengembangkan alat-alat produksi, yang meningkatkan alat-alat tersebut, mengembangkan mesin-mesin.
Tetapi orang memproduksi barang-barang kebutuhan tidak dengan bekerja sendiri-sendiri, tetapi bekerja bersama-sama dalam kelompok, secara sosial, atau secara kolektif. Sebagai contoh adalah pabrik sepatu. Berapa banyak orang yang bekerja di sana, hanya untuk membuat satu macam komoditas alas kaki? Akibatnya, proses memproduksi barang-barang kebutuhan menghubungkan orang-orang menjadi bersama-sama, membuat tergantung satu sama lainnya, dan mengharuskan ada hubungan satu-sama lainnya.
Hubungan antara orang-orang dalam proses produksi, distribusi dan pertukaran barang kebutuhan disebut hubungan produksi atau hubungan ekonomi. Hubungan produksi bisa berbentuk co-operasi dan saling membantu diantara orang-orang yang bebas dari penghisapan, atau bisa merupakan suatu bentuk penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya. Ini tergantung siapa yang memiliki faktor-faktor produksi (tanah dan mineral, hutan, pabrik-pabrik dan workshop, alat-alat kerja, dan sebagaianya). Jika faktor-faktor produksi dimiliki oleh swasta/pribadi, tidak dimiliki oleh seluruh masyarakat tetapi oleh individu secara sendiri-sendiri, kelompok sosial tertentu atau kelas sosial tertentu, hubungan produksi tersebut akan melahirkan penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya, menghasilkan dominasi dan sub-ordinasi. Ini karena, para buruh dibawah sistem kapitalisme telah dirampas kepemilikannya atas faktor-faktor produksi sehingga mereka harus bekerja untuk kapitalis. Dalam sistem ekonomi sosialisme, faktor-faktor produksi menjadi milik sosial (milik masyarakat), maka, tidak ada penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya, dan hubungan antara orang-orang menjadi hubungan perkawanan yang saling kerja sama dan saling membantu dan karena itu manusiawi.
Hubungan manusia terhadap faktor-faktor produksi menentukan tempat dimana orang menguasai produksi, menentukan cara/metode bagaimana produk didistribusikan. Sebagai contoh, dalam sistem kapitalisme kaum borjuasi (yang memiliki faktor-faktor produksi) memiliki seluruh hasil yang dikerjakan oleh para buruh, sementara itu kebanyakan orang hidup dalam jurang kemiskinan. Dalam sosialisme, dimana faktor-faktor produksi menjadi milik rakyat (milik masyarakat), barang-barang konsumen didistribusikan berdasarkan kerja yang telah disumbangkan oleh orang tersebut, dan terus-menerus menghasilkan barang-barang dan standar hidup yang berbudaya yang pasti bagi semua orang-orang yang bekerja (pekerja). Ini yang dimaksud dengan hubungan produksi atau hubungan ekonomi di antara rakyat.
Ada 5 hubungan produksi yang mendasar yang kita ketahui :
1. Masyarakat Primitif --> faktor produksi menjadi milik masyarakat
2. Perbudakan -->faktor produksi menjadi milik pribadi (pemilik budak)
3. Feodalisme --> faktor produksi menjadi milik pribadi (tuan tanah)
4. Kapitalisme ---> faktor produksi menjadi milik pribadi (borjuasi/kapitalis)
5. Sosialisme (yang merupakan fase awal dari Komunisme) --> faktor produksi menjadi milik masyarakat.
Kepemilikan pribadi atas faktor-faktor produksi tersebut mengakibatkan masyarakat terbagi kedalam dua kelas yang bertentangan --mengakibatkan pertentangan kelas, pertentangan yang tak terdamaikan-- yaitu : pertentangan antara si penindas dan si tertindas. Oleh karenanya, perjuangan kelas dengan kekerasan adalah gambaran yang mendasar dari sebuah masyarakat Perbudakan, Feodalisme dan Kapitalsime. Hanya dalam masyarakat Sosialis-lah dimana terdapat kepemilikin bersama secara sosial terhadap faktor-faktor produksi dan dimana tidak lagi ada perjuangan kelas, masyarakat akan terdiri dari kelas-kelas yang bersahabat, yang rukun, yang damai dan penuh rasa solidaritas --kaum buruh dan tani, dan kaum intelejensia sebagai sebuah strata sosial.
Kekuatan produktif bersama-sama dengan hubungan produksi membentuk corak produksi (mode of production).
Corak Produksi
Kekuatan-2 Produktif
Hubungan-2 Produksi
Orang-2 dengan pengalaman berproduksi dan keahlian-keahlian buruh
Faktor-2
Produksi
Bentuk-2 Kepemilikan faktor-2 Produksi
Bentuk-2 Distribusi barang-2 kebutuhan
Tempat Kelas-2 dan Kelompok-2 Sosial dalam masyarakat dan hubungan-2 Mereka
Walaupun Corak Produksi memang menggambarkan gabungan antara Kekuatan-kekuatan Produktif dan Hubungan-hubungan Produksi, kekuatan-kekuatan Produktif dan Hubungan-hubungan Produksi adalah merupakan dua aspek yang terpisah. Dua hal ini berhubungan dan saling mempengaruhi. Keduanya berkembang dalam proses peningkatan produksi.
Kekuatan-kekuatan Produktif merupakan elemen yang paling mobil dalam Corak Produksi; mereka terus-menerus berubah, sebab manusia terus-menerus meningkatkan alat-alat kerja dan mengumpulkan pengalaman-pengalaman dalam berproduksi. Sementara itu, Hubungan-hubungan Produksi berkembang berdasarkan tingkat perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif.
Jika Hubungan-hubungan Produksi mengikuti tingkat Perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif, maka ia berkembangan terus tanpa henti. Negara-negara Sosialis memberikan contoh mengenai ini, disana produksi berkembang sangat cepat, tanpa ada krisis dan pengangguran, karena ia berbasis pada kepemilikan sosial atas faktor-faktor Produksi.
Jika Hubungan-hubungan Produksi tidak mengikuti tingkat perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif, maka ia akan menghancurkan produksi. Contohnya adalah di negara-negara kapitalis, produksi berkembang lebih lambat, dan jika terjadi krisis ekonomi maka akan mendorongnya mundur menjadi terbelakang, dimana jutaan orang di-PHK dan melahirkan ledakan pengangguran. Ini terjadi karena adanya kepemilikan pribadi atas faktor-faktor produksi dan si kapitalis menghindari adanya perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif lebih maju lagi.
Hubungan-hubungan Produksi dihasilkan oleh karakter Kekuatan-kekuatan Produktifnya. Hukum ini yang memberikan basis bagi adanya Revolusi Sosial. Di saat Hubungan-hubungan Produksi tertinggal di belakang perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif, menjadi kadaluwarsa dan menghambat perkembangannya, maka ia tak terhindarkan akan diganti dengan yang baru. Dalam masyarakat yang terbagi kedalam kelas-kelas yang bermusuhan maka Hubungan Produksi yang lama akan diganti dengan Hubungan Produksi yang baru melalui Revolusi Sosial.
Hanya dalam Masyarakat Sosialis, dimana tidak ada pertentangan Kelas, dimana Hubungan-hubungan Produksi berkembang tidak melalui Revolusi Sosial, tetapi melalui rencana yang disesuaikan dengan perkembangan-perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif.
Corak Produksi harus dibedakan dengan Basis Sosial. Basis Sosial merupakan total keseluruhan dari Hubungan-hubungan Produksi dalam masyarakat tertentu, yang mana hubunganya tergantung pada level Kekuatan-kekuatan Produktinya. Basis Sosial terdiri dari antagonistik dan non-antagonistik.
Basis tersebut menimbulkan adanya superstruktur dan menentukan perkembangannya. Superstruktur tersebut antara lain : pandangan-pandangan masyarakat dan lembaga-lembaga politik, filsafat, peradilan, seni, agama/kepercayaan, dll. Dalam sebuah kelas sosial superstruktur tersebut kehilangan watak kelasnya. Dalam menyeragamkannya dengan ide-ide kelas penguasa membuat lembaga-lembaga untuk mempertahankan kepentingannya.
Baik basis maupun superstruktur hanya ada pada periode waktu tertentu. Jika basisnya berubah, maka superstruktur juga berubah. Hilangnya basis feodalisme dan digantikannya dengan kapitalisme, membawa superstruktur feodalisme digantikan oleh superstruktur kapitalisme.Walaupun superstruktur secara keseluruhan tergantung pada basis, beberapa elemen dari superstruktur baru bisa lahir dalam masyarakat lama. Misalnya, dalam masyarakat kapitalis telah muncul idiologi proletariat.
Corak Produksi bersama-sama dengan Superstruktur membentuk formasi sosial-ekonomi. Formasi Sosial-ekonomi yang ada yang kita ketahui dalam sejarah :
1. Kommunal-Primitif
2. Perbudakan
3. Feodalisme
4. Kapitalisme
5. Komunisme (Sosialisme adalah fase pertama dari Komunisme)
Tiap-tiap Formasi Sosial-ekonomi mempunyai ekonomi, pandangan-pandangan, ide-ide, dan lembaga-lembaga yang berbeda-beda. Perkembangan Formasi Sosial-ekonomi ini meningkat dari yang paling rendah (terbelakang) ke yang paling tinggi (maju). Lahir, berkembang dan hancurnya Formasi Sosial-ekonomi merupakan subyek dari Hukum Perkembangan Sosial.
1.3. Hukum Ekonomi atas Perkembangan Sosial
Hukum ekonomi membentuk basis perkembangan masyarakat. Hukum ini menentukan berbagai macam hubungan sosial-ekonomi di antara orang-orang (hubungan dalam produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi). Hukum alam dan Sosial merupakan gambaran umum yang obyektif, artinya: ia asli dan berjalan terus baik kita suka maupun tidak. Artinya; orang tidak bisa merubah, mentransformasi ataupun menghentikan.
2. Corak Produksi Kapitalisme
2.1. Hukum Nilai --Hukum Ekonomi mengenai Produksi Komoditi Persaingan dan Anarkhisme Produksi
Jika kepemilikan pribadi yang berlaku, maka produksi komoditas-komoditas dijalankan secara spontan. Tidak ada lembaga yang berwenang untuk memberi indikasi bagi produser komoditi apa yang seharusnya dihasilkan dan seberapa banyak. Antara wiraswasta dan petani tidak mengkoordinasikan produksi mereka dengan para bisnisman yang lain atau dengan para konsumen. Yang terjadi adalah anarkhi, yakni : tanpa perencanaan, penyakit dalam produksi.
Anarkhisme Produksi ditingkatkan oleh adanya persaingan, oleh perjuangan pahit di antara para produser demi kondisi yang lebih baik bagi produksi dan penjualan, demi laba yang paling besar. Persaingan dan Anarkhisme Produksi adalah merupkan hukum dari produksi komoditi yang berbasis pada kepemilikan pribadi.
2.2. Modal dan Nilai Lebih
Upah dalam Sistem Kapitalisme
Kapitalisme = adalah nama dari sistem sosial dimana tanah, pabrik-pabrik, dan lain-lainnya dimiliki oleh segelintir orang pemilik tanah dan kapitalis, sementara sebagian besar orang tidak memiliki kekayaan, atau sangat sedikit kekeyaaannya, sehingga dengan sendirinya harus menjadi buruh”.
2.2.1. Akumulasi Kapital Primitif
Kondisi dasar yang menyebabkan lahirnya kapitalisme : (1) adanya orang-orang yang memiliki kebebasan pribadi tetapi tidak punya faktor-faktor produksi atau alat lainnya, dan karenaya menjual tenaga kerja mereka, dan (2) konsentrasi (pemusatan) faktor-faktor produksi dan sejumlah besar uang di tangan individu-individu tertentu.
Munculnya kapitalisme didorong oleh akumulasi primitif. Akumulasi primitif tidak lain adalah proses sejarah bercerainya produsen dari faktor-faktor produksi. Akumulasi primitif ini dapat kita lihat seperti apa yang terjadi di Inggris, dimana para tuan tanah dengan paksa mengambil tanah umum milik petani bahkan sampai mengusir mereka dari rumah-rumah mereka. Lahirnya borjuasi juga berlangsung dengan pengambilalihan kekayaan negara dan gereja. Banyak orang menjadi gelandangan, pengemis dan preman.
2.2.2. Tenaga Buruh Sebagai Komoditi
Tenaga buruh adalah meliputi kemampuan fisik dan mental yang dimiliki seseorang, yang berguna setiap ia memproduksi barang. Nilai tenaga buruh dihitung dalam bentuk uang, berupa upah.
Sebagai komoditi, tentunya nilai tenaga kerja juga mempunyai nilai guna, yang terdiri dalam kapasitas buruh-upahan selama proses kerja untuk membuat nilai yang lebih besar dari pada nilai tenaga kerja dia. Kepemilikan atas tenaga kerjalah yang merupakan sumber dari Nilai Lebih (surplus Value).
2.2.3. Produksi Nilai Lebih. Penghisapan Kapitalis
Gambaran spesifik dari proses kerja dalam kapitalisme :
(1) Buruh bekerja dibawah kontrol kapitalis yang mana sebagai pemilik kerja. Kapitalis menentukan apa yang harus diproduksi, berapa skalanya dan dengan cara bagaimana.
(2) Tidak hanya tenaga kerja buruh yang dikuasai oleh kapitalis, tetapi juga produk tenaganya.
Produksi kapitalis adalah kombinasi dari pembuatan nilai-guna dan proses pertumbuhan nilai. Sifat tenaga kerja adalah mendua. Di satu sisi, ia merupakan tenaga kongkrit dan ia menghasilkan nilai-guna. Di sisi lainnya, ia merupakan tenaga abstrak dan ia menghasilkan nilai komoditas. Bagi kapitalis, produksi nilai-guna hanya berarti meraih tujuan dia. Tujuan dan motif penguasaan produksi kapitalis tersebut adalah pembuatan nilai lebih.
Penghisapan Kapitalis = Pencurian Nilai Lebih. Jumlah nilai lebih langsung dimasukkan/digabungkan dengan modal (akumulasi modal).
2.2.4. Dua Cara Peningkatan Penghisapan Terhadap Kelas Pekerja
(1) Dengan perpanjangan jam kerja
(2) Dengan pemotongan jam kerja, tapi dengan peningkatan produktifitas
3. Kontradiksi Dasar dalam Kapitalisme
Kontradiksi antara karakter sosial dalam produksi dan bentuk kepemilikan pribadi atas hasil produksi. Kontradiksi dasar ini menggambarkan kontradiksi antara Kekuatan-kekuatan produktif dengan hubungan produksi kapitalisme. Jika sosialisasi produksi terus berkembang, kapitalisme menjadi hancur. Untuk menggantinya, kepemilikan kapitalis harus dihapuskan, diganti kepemilikan sosial.
4. Krisis Ekonomi
Sebab dasar krisis ekonomi adalah over-produksi, yang ditandai dengan lesunya perdagangan, kelebihan komoditas di pasar, macetnya pabrik-pabrik, dan banyaknya PHK.. Apakah ini berarti kelebihan barang, makanan, dan lain-lain? TIDAK! Over-produksi tersebut TIDAK ABSOLUT, tetapi RELATIF. Ini adalah akibat dari komoditi yang hanya dibandingkan terhadap permintaan efektif tapi tidak dibandingkan dengan permintaan aktual masyarakat.
Permintaan efektif = jumlah yang dibeli oleh masyarakat
Permintaan aktual = kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditas.
Permintaan (kebutuhan) masyarakat terhadap barang tidak menurun jika terjadi krisis, tetapi terjadi penurunan secara tajam daya beli rakyat.
Over-produksi adalah kontradiksi mendasar kapitalisme --kontradiksi antara watak sosial produksi dan bentuk kepemilikan pribadi oleh kapitalis terhadap hasil produksi.
5. Imperialisme
Imperialisme adalah bentuk tertinggi dari kapitalisme.
Gambaran umum imperialisme:
a. Konsentrasi produksi dan Monopoli
Terjadi konsentrasi di induk-induk imperialis dan adanya monopoli yang diakibatkan menangnya persaingan modal besar terhadap modal kecil.
b. Modal Finasial dan Oligarkhi Financial
Uang telah menjadi komoditas dan lahirnya sekelompok kecil pemilik modal yang bisa mempunyai kekuasaan penuh. Di Amerika dan Inggris, misalnya, pengusaha besar bisa mengatur negara. Di dunia : IMF bisa mengatur kebijakan ekonomi hampir semua negara.
c. Ekspor Modal dan adanya teritori ekonomi yang membagi-bagi bumi
Dalam rangka persaingan, akhirnya harus ada perebutan wilayah. Dulu bentuknya dengan penjajahan-penjajahan, sekerang bentuknya adalah blok-blok ekonomi seperti : Uni Eropa, AFTA, NAFTA, APEC, dll.
Refrence II
Filsafat MDH
BAB. I
PENDAHULUAN
ARTI FILSAFAT
Filsafat
adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori.
Filsafat adalah suatu ilmu dan suatu metode berfikir untuk memecahkan
problem-problem gejala alam dan masyarakat. Filsafat merupakan sikap
hidup manusia dan sebagai pedoman untuk bertindak dalam menghadapi
gejala-gejala alam dan masyarakat. Filsafat bukan suatu kepercayaan yang
dogmatis dan membuta.
PERSOALAN DAN KATEGORI FILSAFAT
Filsafat
mempersoalkan masalah-masalah etika/moral, aestetika/seni,
sosial/politik, epistimologi/tentang pengetahuan, ontologi/tentang
manusia. Kategori persoalan filsafat meliputi soal-soal hubungan antara
bentuk dan isi, sebab dan akibat, gejala dan hakekat, keharusan dan
kebetulan, keumuman dan kekhususan.
Filsafat
mempersoalkan soal-soal yang pokok. Sedang soal yang terpokok dari
persoalan filsafat adalah soal hubungan antara ide dan materi, fikiran
dan keadaan. Mana yang primer dan mana yang sekunder diantara keduanya
itu, ide atau materi, fikiran atau keadaan. Jawaban dari persoalan yang
terpokok tersebut akan membagi semua aliran filsafat menjadi dua kubu,
kubu Filsafat Idealisme dan kubu Filsafat Materialisme.
Semua
aliran filsafat yang memandang dan menyatakan ide atau fikiran sebagai
hal yang primer, dan materi atau keadaan sebagai hal yang sekunder,
termasuk dalam kubu filsafat idealisme. Sebaliknya, semua aliran
filsafat yang memandang dan menyatakan materi atau keadaan sebagai hal
yang primer, dan ide atau fikiran sebagai hal yang sekunder, termasuk
dalam kubu filsafat materialisme.
ALIRAN DAN KUBU FILSAFAT
Filsafat
mempunyai banyak sekali aliran. Tapi dari semua aliran yang banyak
sekali itu bisa dibagi hanya dalam dua kubu, kubu filsafat idealisme dan
kubu filsafat materialisme.
Aliran
pokok filsafat adalah idealisme dan materialisme. Tapi disamping dua
aliran pokok itu, terdapat aliran filsafat dualisme. Walau begitu,
aliran filsafat dualisme pada hakekatnya juga termasuk aliran filsafat
idealisme. Karena itu aliran filsafat dualisme juga termasuk kubu
filsafat idealisme.
Filsafat
dualisme pada hakekatnya juga filsafat idealisme karena pandangannya
didasarkan pada ide yang mereka-reka. Filsafat dualisme yang memandang
ide dan materi, fikiran dan keadaan, sebagai hal yang kedua-duanya
primer. Tidak ada yang sekunder. Pandangan itu jelas tidak berdasarkan
kenyataan. Itulah idealismenya filsafat dualisme.
WATAK DAN KLAS FILSAFAT
Filsafat
selalu mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas tertentu.
Karena itu filsafat selalu mempunyai dan merupakan watak dari suatu
klas. Filsafat Idealisme mencerminkan watak dan mewakili kepentingan
klas pemilik alat produksi yang menindas dan menghisap yaitu klas-klas
tuan budak atau pemilik budak, klas tuan feaodal atau tuan tanah, klas
borjuis atai kapitalis, dsb. Sebaliknya filsafat materialisme
mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas bukan pemilik alat
produksi yang tertindas dan terhisap yaitu klas buruh, dsb. Sedang
filsafat dualisme mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas
pemilik alat produksi tapi yang tertindas dan juga terhisap yaitu klas
borjuis kecil.
PENTINGNYA BERFILSAFAT DAN CARA BELAJAR FILSAFAT
Berfilsafat
itu penting. Dengan berfilsafat, orang akan mempunyai pedoman untuk
bersikap dan bertindak secara sadar dalam menghadapi gejala-gejala yang
timbul dalam alam dan masyarakat. Kesadaran itu akan membuat sesorang
tidak mudah digoyahkan dan diombang-ambingkan oleh timbul-tenggelamnya
gejala-gejala yang dihadapi.
Untuk
berfilsafat, orang harus belajar filsafat. Dan belajar filsafat harus
dengan cara yang benar. Cara belajar filsafat ialah harus menangkap
ajaran dan pengertiannya secara ilmu, lalu memadukan ajaran dan
pengertian itu dengan praktek, selanjutnya mengambil pengalaman dari
praktek itu, dan kemudian menyimpulkan praktek itu secara ilmu.
ARTI BERFILSAFAT
Berfilsafat
berarti bersikap dan bertindak secara sadar berdasarkan ilmu dan metode
berfikir terhadap gejala-gejala alam dan masyarakat yang dihadapi.
Berfilsafat
bukan bersikap dan bertindak secara tradisi, menurut kebiasaan atau
berdasarkan naluri turun-temurun dalam menghadapi dan memecahkan
problem-problem gejala-gejala itu.
FILSAFAT M.D.H.
Arti M.D.H.
M.D.H.
adalah materialisme Dialektik dan Materialisme Histori. Materialisme
Dialektik berarti pandangannya materialis dan metodenya dialektis.
Sedang Materialisme Historis berarti Materialisme Dialektika yang
diterapkan dalam gejala sosial atau masyarakat.
Lahirnya M.D.H dan Penciptanya
Filsafat
M.D.H lahir sesudah lahirnya berbagai macam filsafat yang pandangannya
materialis atau yang metodenya dialektis. Sedang penciptanya adalah Karl
Marx.
Filsafat
M.D.H. merupakan hasil kesimpulan dan ciptaan Karl Marx sesudah Karl
Marx belajar dan mengambil dari kebenaran ajaran pandangan Filsafat
Materialisme Faeuerbach dan metode filsafat dialektik Hegel. Karl
mengambil isinya yang benar dari pandangan materialis filsafat Feuerbach
dan membuang kulitnya yang salah dari metodenya yang metafisis.
Selanjutnya Karl Marx mengambil isinya yang benar dari metode dialektis
filsafat Hegel dan membuang kulitnya yang salah dari pandangannya yang
idealis.
Karl
Marx menerima kebenaran pandangan materialme filsafat Feuerbach, tapi
menolak kesalahan metodenya yang metafisis. Juga Karl Marx menerima
kebenaran metode dialektis filsafat Hegel, tapi menolak kesalahan
pandangannya yang idealis.
Kesimpulan dari itu Karl Marx menciptakan Filsafat M.D.H dan lahirlah filsafat M.D.H. Karl Marx.
Ciri dan Watak Klas M.D.H.
Ciri-ciri filsafat M.D.H. ialah; Ilmiah, Objektif, Universal, Praktis, Lengkap dan Revolusioner.
Ilmiah, karena metodenya dialektis.
Objektif, karena pandangannya materialis.
Universal, karena ajarannya tidak hanya berlaku didalam alam, tapi juga berlaku didalam masyarakat.
Praktis, karena ajarannya dapat dibuktikan dan dilaksanakan.
Lengkap, karena ajarannya tidak hanya bicara soal alam, tapi juga soal masyarakat.
Revolusioner,
karena ajarannya selalu berpihak kepada apa yang sedang tumbuh dan
melawan apa yang sedang melayu berdasarkan hukum perkembangannya.
Selanjutnya selalu menuntut penghancuran terhadap apa yang sudah tua,
dan membangun yang baru dan lebih maju.
Filsafat
M.D.H. mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas bukan pemilik
alat produksi yaitu klas buruh atau klas proletar yang tertindas dan
terhisap, serta merupakan satu-satunya filsafat yang berpihak kepada
klas buruh atau klas proletar itu.
M.D.H. dan Klas Buruh serta Peranannya
Filsafat
M.D.H. merupakan senjata moril bagi perjuangan klas buruh. Tanpa
filsafat M.D.H, perjuangan klas buruh tidak akan mempunyai kekuatan
raksasa. Perjuangan tidak akan mencapai hasil yang fundamentil, dan akan
gagal. Sebaliknya, klas buruh merupakan senjata materiil bagi filsafat
M.D.H. Tanpa klas buruh, filsafat M.D.H. tidak akan mempunyai kekuatan
dan tidak akan ada artinya sebagai ilmu sosial. Sebab, hanya klas buruh
yang mampu dan konsekuen melaksanakan ajaran Filsafat M.D.D. didalam
praktek.
Pentingnya Berfilsafat M.D.H.
Filsafat
M.D.H. adalah filsafat yang benar. Karena itu berfilsafat M.D.H.
penting. Dengan berfilsafat M.D.H, orang akan memiliki ilmu berfikir,
pandangan dan metode berfikir yang benar. Dengan itu berarti mempunyai
pedoman yang tepat untuk mengambil sikap dan bertindak yang tepat dalam
menghadapi gejala-gejala dan memecahkan problem-problemnya yang timbul
didalam alam dan masyarakat.
Dengan
begitu, orang yang berfilsafat M.D.H. akan memiliki pandangan yang jauh
kedepan dan revolusioner. Juga akan mempunyai sikap yang teguh dan
konsekuen, tidak mudah digoyahkan dan dombang ambing oleh keadaan atau
oleh gejala-gejala yang dihadapi.
Cara Belajar Filsafat M.D.H.
Filsafat
M.D.H. adalah suatu ilmu dan merupakan senjata perjuangan revolusioner
klas buruh atau klas yang tertindas dan terhisap. Karena itu belajar
filsafat M.D.H. harus secara ilmiah dan berwatak klas buruh, yaitu :
· Dengan pendirian klas proletar dan melawan ideologi klas non-proletar yang ada didalam diri sendiri.
· Secara ilmiah dan melaksanakannnya didalam praktek.
· Menarik pengalaman dari pelaksanaan praktek dan menyimpulkan hasil praktek itu.
· Menangkap
pengertian dan menggenggam semangat revolusionernya serta selalu
menuntut perubahan dengan membangun yang baru dan lebih maju.
BAB. II
MATERIALISME DIALEKTIK
MONISME DAN DUALISME
Monisme
adalah suatu sistim pandangan filsafat yang bertitik tolak dari satu
dasar pandangan, yaitu dari materi atau dari ide. Dualisme adalah suatu
sistim pandangan filsafat yang bertitik tolak dari dua dasar pandangan,
yaitu dari materi dan dari ide sekaligus.
Dengan
begitu, filsafat materialisme dan idealisme walau pandangannya bertitik
tolak dari dasar yang bertentangan, tapi sistim pandangannya itu sama,
yaitu monisme. Jadi sistim pandangan filsafat materialisme dan idealisme
adalah sama-sama monois. Artinya, pandangannya sama-sama bertitik tolak
dari hanya satu dasar, yaitu dari dasar materi atau dari dasar ide.
Bedanya, sistim pandangan monisme filsafat materialisme bertitik tolak
dari dasar materi. Sebaliknya, sistim pandangan monisme filsafat
idealisme bertitik tolak dari dasar ide.
Adapun sistim pandangan filsafat dualisme bertitik tolak dari dua unsur, yaitu dasar materi dan ide sekaligus.
MATERIALISME, IDEALISME DAN DUALISME
Materialisme
Materialisme
adalah satu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari
materi. Materialisme memandang materi itu primer, sedang ide sekunder.
Materi timbul atau ada lebih dulu, baru kemudianm ide. Pandangan
materialisme itu berdasarkan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat
:
Menurut proses waktu :
Lama sebelum manusia yang bisa mempunyai ide itu ada atau lahir didunia, dunia dan alam atau materi ini sudah ada lebih dulu.
Menurut proses zat :
Manusia
ini tidak bisa berfikir atau tidak bisa mempunyai ide tanpa ada atau
tanpa mempunyai otak. Dan otak itu adalah suatu materi. Otak itu adalah
materi, tapi materi atau benda yang berfikir. Otak atau materi ini yang
lebih dulu ada, baru kemudian bisa timbul ide atau fikiran pada kepala
manusia.
Idealisme
Idealisme
adalah satu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari ide.
Idealisme memandang ide itu primer, sedang materi sekunder. Ide itu
timbul atau ada lebih dulu, baru kemudian materi. Segala sesuatu yang
ada ini timbul sebagai hasil yang diciptakan oleh ide atau fikiran
karena ide atau fikiran itu timbul lebih dulu, baru kemudian sesuatu itu
ada.
Dualisme
Dualisme
adalah satu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari
materi dan ide sekaligus. Dualisme memandang bahwa materi dan ide
sama-sama primer. Tidak ada yang sekunder. Kedua-duanya timbul dan ada
bersamaan. Materi itu ada karena ada ide atau fikiran. Juga sebaliknya,
ide atau fikiran itu ada karena ada materi.
Tapi
pada hakekatnya, pandangan dualisme yang demikian itu juga idealis
karena pandangan seperti itu tidak lain hanya pada ide, dan tidak ada
dalam kenyataan. Dengan begitu filsafat materialisme adalah filsafat
yang objektif karena pandangannya bertitik tolak dari materi atau dari
kenyataan objekif. Sebaliknya, filsafat idealisme adalah filsafat yang
subjektif karena pandangannya bertitik tolak dari ide atau fikiran.
ALIRAN MATERIALISME DAN IDEALISME
ALIRAN MATERIALISME
Filsafat
materialisme mempunyai banyak macam aliran. Dari banyak macam aliran
materialisme itu terdapat tiga aliran yang besar dan pokok, yaitu
materialisme mekanik, materialisme metafisik dan materialisme dialektik.
Ketiga aliran filsafat materialisme itu mempunyai perbedaan-perbedaan
antara yang satu dengan yang lain, bahkan juga terdapat saling
bertentangan.
a. Materialisme Mekanik
Materialisme
mekanik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis,
sedang metodenya mekanis. Ajaran materialisme mekanik ialah bahwa materi
itu selalu dalam keadaan gerak atau berubah. Geraknya itu gerak
mekanis. Gerak yang tetap begitu saja selamanya seperti geraknya mesin,
tanpa perkembangan atau peningkatan.
b. Materialisme Metafisik
Materialisme
metafisik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis,
sedang metodenya metafisis. Ajaran materialisme metafisik ialah bahwa
materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap, tidak berubah selamanya.
Tapi seandainya materi itu berubah, maka perubahan itu terjadi karena
faktor luar atau karena kekuatan dari luar. Gerak materi itu gerak
extern, gerak luar. Selanjutnya materi itu dalam keadaan yang
terpisah-pisah, tidak mempunyai dan tidak ada saling hubungan antara
yang satu dengan lain.
c. Materialime Dialektik
Materialisme
dialektik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis,
sedang metodenya dialektis. Ajaran materialisme dialektik ialah bahwa
materi itu selalu saling hubungan, saling mempengaruhi dan saling
bergantung antara yang satu dengan yang lain. Bukannya saling
terpisah-pisah atau berdiri sendiri-sendiri. Materi itu juga selalu
dalam keadaan gerak, berubah dan berkembang. Bukannya selalu diam, tetap
atau tidak berubah.
Selanjutnya,
gerak materi itu gerak intern, gerak atau berubah karena faktor
dalamnya atau karena kekuatan dari dalamnya sendiri. Bukannya gerak
extern, yaitu gerak atau berubah karena faktor luar atau karena kekuatan
dari luar. Lalu gerak materi itu dialektis, yaitu gerak atau berubah
menuju ketingkatnya yang lebih tinggi dan lebih maju seperti sipiral.
Bukannya gerak mekanis. Adapun yang disebut “diam”, itu hanya tampaknya
atau hanya bentuknya. Sebab, hakekat dari gejala yang tampaknya atau
bentuknya “diam” itu, isinya tetap gerak. Jadi, “diam” itu juga satu
bentuk gerak.
ALIRAN IDEALISME
Filsafat idealisme mempunyai dua aliran, yaitu aliran idealisme objektif dan idealisme subjektif.
a. Idealisme Objektif
Idealisme
objektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan
idealismenya itu bertitik tolak dari ide universal, ide diluar ide
manusia. Menurut idealisme objektif, segala sesuatu yang timbul dan
terjadi, baik dalam alam maupun dalam masyarakat, adalah karena hasil
atau karena diciptakan oleh ide universal.
b. Idealisme Subjektif
Idealisme
subjektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan
pandangan idealismenya itu bertitik tolak dari ide manusia atau idenya
sendiri. Menurut idealisme subjektif, segala sesuatu yang timbul dan
terjadi, baik dalam alam maupun dalam masyarakat adalah karena hasil
atau karena diciptakan oleh ide manusia atau oleh idenya sendiri.
MATERI DAN IDE
MATERI
Materi
mempunyai arti yang berbeda antara arti menurut pengertian filsafat dan
arti menurut pengertian ilmu alam. Arti materi menurut pengertian
filsafat adalah luas, sedang menurut pengertian ilmu alam adalah
terbatas.
Dalam
artian filsafat, materi adalah segala sesuatu yang ada secara objektif,
ada diluar ide atau diluar kemauan manusia. Materi adalah segala
sesuatu yang bisa disentuh dan bisa ditangkap oleh indera manusia, serta
bisa menimbulkan ide-ide tertentu. Adapun dalam artian ilmu alam,
materi adalah segala sesuatu yang mempunyai susunan atau yang tersusun
secara organis. Itu berarti benda.
Dengan
begitu, pengertian filsafat tentang materi berarti sudah mencakup
pengertian materi menurut ilmu alam. Materi mempunyai peranan menentukan
ide dan perkembangannya. Materi bisa menimbulkan ide atau mendorong
timbulnya ide. Suatu ide timbul sesudah lebih dulu suatu materi timbul
dan ditangkap oleh indera. Adalah jelas, bahwa materi yang bernama otak
yang “memproduksi” ide.
Otak
itu suatu materi yang mempunyai vitaliteit yang besar dalam hal
imbulnya ide dan perkembangannya. Otak mempunyai daya tangkap, daya
simpan, daya seleksi, daya kombinasi dan daya simpul.
IDE
Ide
adalah cermin dari materi atau merupakan bentuk lain dari materi. Tapi
itu itu tidak mesti sama persis seperti materi yang dicerminkan. Ide
selalu berada diatas atau didepan materi. Ide bisa menjangkau jauh
didepan materi. Walau begitu, ide tetap tdak bisa lepas dari materi.
Materi
dan ide adalah dua bentuk yang lain dari gejala yang satu dan sama.
Materi menentukan ide, sedang ide mempunyai pengaruh terhadap
perkembangan materi. Jadi ide juga mempunyai peranan aktif. Tidak pasif
seperti cermin biasa.
GERAK
Gerak
adalah suatu eksistensi dari adanya materi atau suatu pernyataan dari
adanya materi. Itu berarti bahwa sesuatu yang gerak adalah selalu
materi. Tidak ada gerak tanpa materi, atau tidak ada gerak yang bukan
materi. Itu sama halnya bahwa tidak ada materi tanpa gerak.
Segala
sesuatu ide selalu gerak, berubah dan berkembang. Tidak ada sesuatu
yang tetap, kecuali gerak itu sendiri. Artinya bahwa segala sesuatu itu
tetap dalam keadaan gerak. Bahwa gerak itu tetap berlangsung terus
selamanya terus selamanya bagi segala sesuatu. Gerak mempunyai dua
bentuk yang utama, yaitu gerak mekanis dan gerak dialektis.
a. Gerak Mekanis
Gerak
mekanis adalah gerak atau perubahan yang bersifat ulang mengulangi,
yang tetap dalam lingkungannya yang lama, dan tidak akan menuju atau
mencapai perubahan yang bersifat kwalitatif atau yang bersifat lebih
tinggi dan lebih maju. Gerak mekanis adalah gerak yang bersifat
kwantitatif, gerak yang begitu saja terus menerus, berulang-ulang,
ulang-mengulangi seperti geraknya sebuah mesin.
b. Gerak Dialektis
Gerak
dialektis adalah gerak atau perubahan yang bersifat meningkat, dari
tingkatnya yang rendah menuju ketingkatnya yang tinggi sampai mencapai
kwalitas baru.
Gerak
atau perubahan dialektis dari tingkatnya yang rendah menuju
ketingkatnya yang tinggi sampai mencapai kwaliteit baru, itu tampaknya
juga seperti mengulangi dalam bentuknya pada tingkatnya yang rendah.
Tapi bentuk yang baru itu sudah dalam keadaan kwalitet yang lebih
tinggi. Jadi tidak mengulangi kembali seperti semula dalam bentuk pada
tingkatnya yang lama. Arah gerak atau perubahan dialektis adalah seperti
sipiral.
c. “Diam”
“Diam”
itu juga merupakan satu bentuk gerak. Sifatnya sangat relatif atau
sangat sementara sekali. Artinya, bentuk “diam” itu hanya bersifat
sangat sementara karena didalam yang “diam” itu juga terdapat proses
gerak dari kekuatan-kekuatan yang saling berkontradiksi dan saling
mendorong yang ketika itu sedang bertemu pada satu titik.
Kekuatan-Kekuatan itu sama kuatnya sehingga salah satunya tidak ada yang
tergesekan dari titik bertemunya. Keadaan yang demikian itulah yang
menampakkan gejala seolah-olah sesuatu itu dalam keadaan “diam”.
Tapi
keadaan “diam” itu sangat relatif atau sangat sementara karena kedua
kekuatan yang saling berkontradiksi dan saling mendorong itu pada saat
dan akhirnya pasti akan segera ada yang terdesak dan tergeser dari
tempatnya. Pada saat terjadinya pergeseran itulah akan tampak dengan
nyata gejala gerak atau perubahan.
Kecuali
itu, keadaan yang tampaknya “diam” juga bisa terjadi karena proses
gerak atau proses perubahan sesuatu belum sampai pada pengubahan
kwalitet atau pengubahan bentuknya yang lama, masif bersifat pada
pengubahan kwantitet sehingga belum mampu menunjukkan gejala-gejala
perubahannya.
Keadaan
yang demikian itu pula yang menampakkan gejala seolah-seolah sesuatu
itu dalam keadaan “diam”, tapi yang sebenarnya didalam sesuatu yang
tampaknya “diam” itu terus berlangsung proses gerak atau proses
perubahan. Maka dalam waktu yang sangat relatif atau sangat sementara
bila proses gerak atau proses perubahan itu sudah sampai pada pengubahan
kwalitet, gejala gerak atau perubahan sesuatu akan tampak dengan jelas.
Gerak atau perubahan itu terjadi karena faktor intern atau karena
adanya kekuatan-kekuatan yang mendorong didalamnya, didalam materi itu
sendiri.
Gerak
materi adalah gerak intern. Faktor atau kekuatan intern dari materi itu
sendiri yang menentukan gerak atau perubahannya. Sedang faktor luar
atau kekuatan-kekuatan yang mendorong dari luar adalah faktor atau
kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengaruh terhadap keadaan intern
sesuatu materi. Peranan pengaruh dari faktor atau kekuatan luar itu bisa
menghambat atau juga bisa mempercepat, bahkan bisa ikut menentukan
gerak atau perubahan sesuatu materi. Tapi bagaimana juga peranan
pengaruh faktor atau kekuatan luar itu, pada akhirnya yang paling
menentukan adalah faktor intern materi itu sendiri.
MATERI, RUANG DAN WAKTU
Materi,
ruang dan waktu merupakan hal yang selalu saling hubungan dan tidak
terpisahkan. Materi selalu berada didalam ruang dan berkembang menurut
waktu. Tidak ada materi tanpa ruang atau berada diluar ruang. Juga tidak
ada materi berkembang tanpa waktu.
Materi
didalam ruang, menyebabkan materi bisa mempunyai saling hubungan antara
yang satu dengan yang lain. Sedang materi didalam waktu, membuat materi
itu bisa berkembang.
Ruang
adalah suatu yang mempunyai luas dan isi materi. Tidak ada ruang yang
kosong tanpa materi. Ruang mempunyai hubungan antara yang satu dengan
yang lain. Sifat hubungannya itu horizontal atau mendatar. Karena itu
ruang bisa dicapai secara berulang lebih dari satu kali. Ruang
menempatkan materi yang ada didalamnya untuk berkembang sesuai dengan
luas ruang itu.
Waktu
adalah detik-detik yang terus menerus bersambung tanpa ada berhentinya.
Detik-detik yang terus menerus bersambung itu, hubungannya bersifat
vertikal atau bersusun. Karena itu detik-detik atau waktu tidak bisa
dicapai secara berulang lebih dari satu kali. Sebab, waktu terus
berjalan maju, terus berlalu tanpa berhenti dan tanpa kembali pada
detik-detik yang telah lewat. Maka waktu menempatkan materi untuk
berkembang mengikuti jalannya waktu yang terus maju. Waktu terus menerus
mendorong materi berkembang maju secara historis, bersusun, tingkat
demi tingkat, fase demi fase dalam proses yang terus berlangsung.
Demikian
materi, ruang dan waktu mempunyai saling hubungan yang erat dan konden,
yang sama sekali tidak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain.
Materi berada dan berkembang dalam ruang dan waktu. Materi berkembang
dalam ukuran luas ruang dan maju menurut tingkatan waktu.
SALING HUBUNGAN
Saling
hubungan ini dalam arti saling hubungan yang konkrit dan mempunyai
saling pengaruh antar materi yang satu dengan yang lain. Hubungan yang
wajar. Bukan hubungan yang abstrak dan diada-adakan atau direka-reka.
Saling
hubungan yang demikian itu ada empat macam, yaitu saling hubungan
organik, saling hubungan menentukan, saling hubungan pokok, serta saling
hubungan keharusan dan kebetulan.
a. Saling Hubungan Organik
Saling
hubungan organik adalah saling hubungan yang mempunyai saling pengaruh
antara yang satu dengan yang lain. Saling hubungan dalam rangka kesatuan
organik. Saling hubungan yang tersusun dan saling terikat.
b. Saling Hubungan Menentukan
Saling
hubungan menentukan adalah saling hubungan yang hakiki, yang menentukan
adanya sesuatu, atau saling hubungan hakekat dari adanya sesuatu dan
yang juga merupakan hakekat sesuatu itu sendiri.
c. Saling Hubungan Pokok
Saling
hubungan pokok adalah saling hubungan yang menjadi proses dan memimpin
semua saling hubungan yang lain, atau saling hubungan yang paling
mempengaruhi saling hubungan saling hubungan yang lain, dan juga yang
paling mempengaruhi perkembangan sesuatu yang mengandungnya.
d. Saling Hubungan Keharusan Dan Kebetulan
Saling
hubungan keharusan adalah saling hubungan yang pasti dan harus terjadi
atau harus ada, atau saling hubungan yang tidak bisa ditiadakan dan
tidak bisa dihindari.
Adapun
saling hubungan kebetulan adalah saling hubungan yang tidak tentu
terjadi didalam saling hubungan yang organis. Tapi bila saling hubungan
itu terjadi, akan mempunyai pengaruh terhadap saling hubungan yang
organis itu.
BAB. III
DIALEKTIKA MATERIALIS
Inti
dari masalah dialektika adalah masalah saling hubungan dari segala
sesuatu, serta masalah gerak atau masalah perubahan dan perkembangan
segala sesuatu itu. Dalam masalah gerak, dialektika materialis
mempersoalkan dan mempunyai tiga azas gerak, yaitu : kontradiksi,
perubahan kwantitatif ke kwalitatif dan negasi dari negasi.
KONTRADIKSI
Arti Dan Peranan Kontradiksi
Kontradiksi adalah pertentangan atau perbedaan. Kontradiksi ini merupakan sebab dari gerak atau perubahan segala sesuatu.
Sifat Kontradiksi
Kontradiksi mempunyai sifat umum dan khusus, atau mempunyai sifat keumuman dan kekhususan.
a. Keumuman Kontradiksi
o Kontradiksi
itu ada dimana-mana dan dalam seluruh waktu. Terdapat disegala sesuatu,
dimanapun dan kapanpun. Segala sesuatu itu dimanapun dan kapanpun
selalu dan pasti mengandung kontradiksi.
o Kontradiksi
itu terjadi dan berlangsung terus menerus melalui proses awal dan
akhir. Artinya, kontradiksi itu pasti mempunyai awal dan juga mempunyai
akhir. Ada
awal kontradiksi dan ada akhir kontradiksi. Dan sesudah sesuatu
kontradiksi itu berakhir, pasti disusul atau pasti timbul lagi
kontradiksi baru yang juga mempunyai awal dan kemudian juga akan
berakhir pula.
Begitu
terus menerus, kontradiksi itu tidak akan ada putus-putusnya. Berakhir
yang satu, berawal yang baru. Selesai yang satu, timbul yang baru.
b. Kekhususan Kontradiksi
o Kontradiksi
itu berbeda-beda menurut adanya di dalam sesuatu hal yang berbeda-beda
pula. Artinya, karena hal yang satu berbeda dengan yang lain, maka
kontradiksi yang ada atau yang dikandung di dalam hal yang berbeda itu,
juga berbeda.
o Kontradiksi
itu tidak hanya berbeda menurut halnya yang berbeda, tetapi juga
berbeda menurut tingkat-tingkat perkembangan yang berbeda di dalam satu
hal itu. Artinya , karena tingkat-tingkat perkembangan di dalam satu hal
itu berbeda-beda, maka kontradiksi yang berlangsung pada satu tingkat
perkembangan tertentu, juga berbeda dengan kontradiksi pada tingkat
perkembangan yang lain.
Macam Kontradiksi
Kontradiksi
yang ada didalam sesuatu itu tidak hanya satu, tapi lebih dari satu
atau banyak. Dan kontradiksi yang banyak itu tidak semua sama
kedudukannya. Juga tidak semua sama peranannya, sifatnya dan wataknya. Ada
tiga macam kontradiksi : yaitu kontradiksi pokok dan tidak pokok,
kontradiksi dasar dan tidak dasar, kontradiksi antagonis dan tidak
antagonis.
· Kontradiksi pokok :
Kontradiksi
pokok adalah kontradiksi yang menjadi poros, yang memimpin dan
menentukan adanya kontradiksi-kontradiksi yang lain yang tidak pokok.
Kontradiksi pokok itu di dalam pengurusan dan penyelesaiannya harus
diutamakan.
Adapun
kontradiksi tidak pokok adalah kontradiksi yang adanya ditentukan oleh
koktradiksi pokok, perkembangannya dipimpin dan tunduk kepada
koktradiksi pokok itu.
· Kontradiksi dasar:
Kontradiksi
dasar adalah kktradiksi yang kepentingannya sama sekali bertentangan
antara yang satu dengan yang lain dan tidak bisa dikompromikan.
Kontradiksi dasar juga kontradiksi yang menentukan adanya sesuatu dan
menentukan bentuk dari sesuatu itu.
· Kontradiksi antagonis
Kontradiksi antagonis mempunyai dua pengertian, yaitu antagonis dalam artian wataknya dan antagonis dalam artian bentuknya.
Kontradiksi
antagonis dalam artian wataknya atau kontradiksi yang berwatak
antagonis adalah kontradiksi yang kepentingannya sama sekali
bertentangan antara yang satu dengan yang lain dan tidak bisa
dikompromikan, serta mengandung saling menghancurkan dengan unsur-unsur
kekerasan dalam penyelesaiannya.
Kontaradiksi
antagonis dalam artian bentuknya, atau kntradiksi yang berbentuk
antagonis adalah kontradiksi yang penyelesaiannya mengambil bentuk
kekerasan, walauwatak kontradiksinya sendiri tidak antagonis.
Ketiga
macam kontradiksi itu mempunyai saling hubungan, walau tidak tentu satu
kontradiksi mengandung ketiga macam kontradiksi itu sekaligus. Artinya,
kontradiksi pokok tidak tentu kontradiksi dasar, dan juga tidak tentu
kontradiksi yang berwatak antagonis. Tapi kontradiksi dasar, salah satu
tentu menduduki dan menjadi sebagai kontradiksipokok. Kontradiksi dasar
itu sendiri tidak tentu kontradiksi yang antagonis, baik antagonis dalam
artian wataknya maupun antagonis dalam artian bentuknya. Sedang
kontradiksi yang antagonis dalam artian wataknya yang antagonis, tentu
mengandung kontradiksi dasar. Dan kontradiksi yang berwatak antagonis
itu tentu menduduki serta menjadi sebagai kontradiksi pokok.
Segi-segi Kontradiksi
Setiap
kontradiksi di dalam sesuatu hal, tentu mengandung segi-segi yang
berkontradiksi, atau di dalam setiap hal tentu mengandung segi-segi yang
berkontradiksi. Hakekat dari hukum kontradiksi adalah hukum persatuan
dan perjuangan dari segi-segi yang bertentangan, dan hakekat dari studi
tentang dialektika adalah studi tentang hukum kontradiksi itu.
Segi-segi yang berkontradiksi selalu mempunyai kedudukan dan peranan yang berbeda antara yang satu dengan lain sbb:
· Segi pokok dan tidak pokok;
Segi
pokok adalah segi yang memimpin segi yang memimpin segi yang lain yang
tidak pokok. Segi pokok merupakan segi yang menuntut soalnya segera
diselesaikan atau dipenuhi, dan merupakan segi yang membawa arah
jalannya segi yang lain yang tidak pokok.
· Segi berdominasi dan segi tidak berdominasi;
Segi
berdominasi adalah segi yang menentukan kwalitet sesuatu. Didalam
masyarakat, segi yang berdominasi berarti segi yang berkuasa, dan juga
berarti segi yang menentukan kwaliteit masyarakat itu.
Sedang
segi yang tidak berdominasi adalah segi yang tidak menentukan kwalitet.
Didalam masyarakat, segi yang tidak berdominasi berarti segi yang tidak
berkuasa atau segi yang dikuasai.
· Segi berhari depan dan segi tidak berhari depan;
Segi
berhari depan adalah segi yang akan atau yang sedang berkembang, segi
yang masih akan terus ada atau akan terus hidup didalam perubahan atau
didalam tingkat perkembangan kwaliteit yang baru dan kelanjutannya.
Sedang
segi tidak berhari depan adalah segi yang akan layu atau sedang melayu,
segi yang adanya atau hidupnya hanya terbatas didalam kwaliteit yang
lama dan tidak akan ada lagi didalam perubahan atau didalam tingkat
perkembangan kwaliteit yang baru atau kwaliteit kelanjutannya.
· Segi berhegemoni dan segi tidak berhegemoni;
Segi
berhegemoni adalah segi didalam gejala sosial atau didalam masyarakat.
Segi berhegemoni hanya didalam kategori revolusi. Dalam hal revolusi
itu, segi berhegemoni adalah segi yang memimpin, segi yang membawa dan
menentukan arah perkembangan revolusi.
Segi berhegemoni mempunyai syarat dan menampakkan ciri-cirinya, yaitu :
· Mempunyai program perjuangan klas yang diterima oleh seluruh nasion atau diterima secara naional.
· Menjadi teladan dalam melaksanakan program perjuangan klasnya yang sudah diterima secara nasional oleh seluruh nasional itu.
· Mempunyai kekuatan yang cukup untuk melaksanakan kepemimpinannya.
· Mampu menggalang persatuan dan kekuatan nasional.
Keempat
macam kedudukan dan peranan segi-segi yang berkontradiksi itu terdapat
saling hubungan. Tapi tidak berarti satu segi kontradiksi tentu
menempati atau mempunyai empat kedudukan dan peranan itu sekaligus.
Sebagaimana halnya segi pokok tidak tentu sekaligus sebagai segi yang
berdominasi ataupun segi yang berhari depan. Didalam kategori revolusi
atau didalam gejala sosial, segi pokok pada hakekatnya adalah segi yang
berhegemoni.
Segi
berdominasi tidak tentu segi pokok dan juga tidak tentu segi berhari
depan. Didalam kategori revolusi atau didalam gejala sosial, segi
berdominasi tidak tentu segi berhegemoni.
Segi
berhari depan tidak tentu segi pokok, dan juga tidak tentu segi
berdominasi. Didalam kategori revolusi atau didalam gejala sosial, segi
berhari depan tidak tentu segi berhegemoni. Tapi segi berhari depan itu
pada tingkat menjelang perubahan kwaliteit lama kekwaliteit baru, pasti
menduduki atau menjadi segi pokok. Didalam kategori revolusi atau
didalam gejala sosial, segi berhari depan itu pada tingkat menjelang
kemenangan revolusi dalam proses perubahan masyarakat lama kemasyarakat
baru, pasti menduduki atau menjadi sebagai segi berhegemoni. Kemudian
dalam kwaliteit baru, segi berhari depan pasti menduduki atau menjadi
segi berdominasi. Dan didalam kategori revolusi atau didalam gejala
sosial, segi berhari depan didalam masyarakat baru pasti menduduki atau
menjadi segi berkuasa.
Segi
berhegemoni pasti segi pokok. Tapi segi berhegemoni tidak tentu segi
berhari depan dan juga tidak tentu segi berdominasi atau segi berkuasa.
Hanya pada tingkat menjelang kepastian kemenangan revolusi, dalam proses
perubahan masyarakat lama kemasyarakat baru, segi yang berhegemoni
pasti segi yang berhari depan. Dan didalam kwaliteit masyarakat yang
baru, segi berhegemoni pasti juga sebagai segi berdominasi atau segi
berkuasa.
Hukum Mutasi
Hukum
mutasi atau hukum perpindahan adalah suatu hukum yang berlaku didalam
proses kontradiksi. Artinya, kedudukan dan peranan satu kontradiksi atau
segi kontradiksi bisa bermutasi. Kontradiksi pokok bisa berubah menjadi
kontradiksi tidak pokok. Sebaliknya, kontradiksi tidak pokok bisa
berubah menjadi kontradiksi pokok. Kontradiksi berbentuk antagonis bisa
berubah menjadi kontradiksi tidak berbentuk antagonis. Sebaliknya,
kontradiksi tidak berbentuk antagonis bisa berubah menjadi kontradiksi
berbentuk antagonis.
Tapi
hukum mutasi itu tidak berlangsung pada kontradiksi dasar dan pada
kontradiksi yang berwatak antagonis. Artinya, kontradiksi dasar dan
kontradiksi yang berwatak antagonis akan tetap, tidak akan berubah.
Kontradiksi dasar akan tetap sebagai kontradiksi dasar, dan tidak akan
berubah menjadi sebagai kontradiksi tidak dasar. Sebaliknya, kontradiksi
tidak dasar juga akan tetap, tidak akan berubah menjadi sebagai
kontradiksi dasar. Selanjutnya kontradiksi yang berwatak antagonis akan
tetap, tidak akan berubah menjadi kontradiksi yang tidak berwatak
antagonis. Begitu sebaliknya, kontradiksi yang tidak berwatak antagonis
juga akan tetap. Tidak akan berubah menjadi kontradiksi berwatak
antagonis.
Kedua
kontradiksi itu, yaitu kontradiksi dasar dan kontradiksi berwatak
antagonis yang akan tetap pada kedudukannya, tidak akan berubah, dalam
proses perkembangan akhirnya tentu akan hancur salah satu. Kehancuran
itu terjadi pada menjelang dan menyebabkan berubahnya suatu kwaliteit
atau masyarakat, serta berarti timbulnya kwaliteit baru atau lahirnya
masyarakat baru.
Hukum
mutasi itu juga berjalan pada segi-segi yang berkontradiksi, yaitu segi
pokok bisa berubah menjadi segi tidak pokok. Sebaliknya, segi tidak
pokok bisa berubah menjadi segi pokok. Segi berdominasi bisa berubah
menjadi segi tidak berdominasi. Sebaliknya, segi tidak berdominasi bisa
berubah menjadi segi berdominasi. Didalam masyarakat, segi berkuasa bisa
berubah menjadi segi tidak berkuasa. Sebaliknya, segi tidak berkuasa
bisa menjadi segi berkuasa. Segi berhegemoni bisa berubah menjadi segi
tidak berhegemoni. Sebaliknya, segi tidak berhegemoni bisa berubah
menjadi segi berhegemoni.
Tapi
hukum mutasi itu tidak akan berlangsung pada segi berhari depan. Segi
berhari depan akan tetap sebagai segi berhari depan, tidak akan
bermutasi atau tidak akan berubah menjadi segi tidak berhari depan
selama dalam periode kwaliteit lama atau dalam periode masyarakat lama.
Walau mungkin, sesudah dalam kwaliteit baru atau dalam masyarakat baru,
segi berhari depan dari kwaliteit lama atau dari masyarakat lama itu
bisa bermutasi atau berubah menjadi segi tidak berhari depan. Tapi
mutasi atau perubahan itu baru terjadi sesudah dalam kwaliteit baru atau
dalam masyarakat baru. Dan tidak akan terjadi selama dalam satu periode
kwaliteit lama atau masyarakat lama.
PERUBAHAN KAWANTITATIF KE KWALITATIF
Arti Kwantiteit dan Kwaliteit
Kwantiteit
adalah jumlah. Jumlah dalam arti yang luas, meliputi bilangan, susunan,
saling hubungan dan komposisi. Kwantiteit menentukan kwaliteit sesuatu.
Kwaliteit adalah hakekat sesuatu, yang membedakan sesuatu itu dari yang
lain.
Perubahan Kwantiteit dan Perubahan Kwaliteit
Perubahan
kwantiteit adalah perubahan yang masih dalam kwaliteit lama atau masih
dalam bentuknya yang lama, perubahan yang bersifat kwantitatif,
perubahan evolusioner yang menyiapkan dan menuju kearah perubahan
kwaliteit. Perubahan demikian, berarti belum perubahan kwaliteit.
Perubahan
kwantiteit itu akan mencapai perubahan kwaliteit hanya sesudah mencapai
titik batas tertentu, yaitu titik batas tertinggi atau terendah, atau
titik batas maksimum atau minimum dari syarat bagi berubahnya suatu
kwaliteit.
Perubahan
kwantiteit semata-mata yang tidak sampai mencapai titik batas, tidak
akan merubah kwaliteit lama dan kurang ada artinya bagi suatu
perkembangan.
Adapun perubahan kwaliteit adalah perubahan yang mengakhiri perubahan kwantiteit dan menghancurkan kwaliteit lama.
Perubahan
kwaliteit itu merupakan dan melalui proses loncatan dari kwaliteit lama
kekwaliteit baru. Perubahan kwaliteit itu tentu melalui proses
perubahan kwantiteit. Tanpa adanya perubahan kwantiteit lebih dulu,
tidak akan ada dan tidak akan terjadi perubahan kwaliteit. Selanjutnya,
kwaliteit baru yang mengakhiri perubahan-perubahan kwantiteit lama itu,
menimbulkan lagi kwantiteit-kwantiteit baru. Dan perubahan-perubahan
kwantiteit baru itu juga menyiapkan lagi perubahan kwaliteit baru.
Demikian seterusnya.
Perubahan
kwantiteit keperubahan kwaliteit itu merupakan suatu proses dari gerak
atau perubahan dan perkembangan. Artinya, setiap gerak atau setiap
perubahan dan perkembangan sesuatu tentu melalui proses perubahan
kwantiteit keperubahan kwaliteit.
Perubahan
kwantiteit dan perubahan kwaliteit selalu saling hubungan sangat erat
yang tidak bisa dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lain.
Kedua-duanya saling jalin menjalin.
NEGASI DARI NEGASI
Negasi
berarti tiada atau meniadakan. Negasi dari negasi berarti meniadakan
yang meniadakan. Hukum negasi dari negasi adalah hukum arah gerak atau
arah perubahan dan perkembangan sesuatu. Hukum itu ialah, bahwa gerak
atau perubahan dan perkembangan dari segala sesuatu, arahnya tentu
menuju ke-bentuk-nya yang “lama” atau ke-asal-nya semula, tapi dengan
isi atau dengan kwaliteitnya yang baru. Selama gerak atau perubahan dan
perkembangan sesuatu itu belum sampai mencapai bentuknya yang “lama”
atau belum “kembali keasalnya semula”, maka berarti gerak atau perubahan
dan perkembangan itu masih dalam proses perjalanannya.
Hukum
negasi dari negasi adalah hukum, bahwa gerak atau perubahan dan
perkembangan segala sesuatu tentu akan menegasi yang menegasi atau akan
meniadakan yang meniadakan. Bahwa yang menegasi tentu akan dinegasi atau
yang meniadakan tentu akan ditiadakan. Selama yang menegasi belum
dinegasi atau yang meniadakan belum ditiadakan, maka berarti gerak atau
perubahan dan perkembangan sesuatu itu masih belum selesai, belum
berakhir, dan masih dalam proses perjalanan. Gerak atau perubahan dan
perkembangan sesuatu itu baru akan” selesai” atau akan” berakhir” hanya
apabila yang menegasi sudah dinegasi, aau yang meniadakan sudah
ditiadakan. Dengan begitu berarti gerak atau perubahan dan perkembangan
itu sudah sampai ” kembali ” pada bentuknya yang “lama ” atau pada ”
asalnya semula ”.
Titik
mula proses dari suatu gerak atau perubahan dan perkembangan dimulai
dari bentuk dan isinya yang asal itu dinegasi atau ditiadakan oleh
bentuk dan isi yang baru.Dari dinegasi atau ditiadakanya bentuk yang
asal oleh bentuk dan isi yang baru, mulailah suatu proses gerak spiral
yang menuju kearah ” kembali ” kebentuk isinya yang asal. Dan itu yang
dinyatakan bahwa selama gerak atau perubahan dan perkembangan itu belum
sampai ” kembali ” pada bentuk dan isinya yang ” asal “, maka berarti
bahwa gerak atau perubahan dan perkembangan itu masih belum berakhir ,
belum selesai , dan masih dalam perjalanannya.
Negasi
atau peniadaan bentuk dan isi yang asal oleh bentuk dan isi yang baru
itu merupakan negasi atau peniadaan yang pertama dalam suatu proses
gerak spiral. Kemudian bentuk dan isi yang baru , telah menegasi atau
telah meniadakan bentuk dan isi yang asal itu, pada akhirnya tentu akan
dinegasi atau akan ditiadakan juga oleh bentuk dan isi yang “lama yang
asal” tapi dalam kwaliteitnya yang baru dan tinggi serta maju. Negasi
atau peniadaan itu, yaitu negasi atau peniadaan oleh bentuk dan isi yang
“asal” terhadap bentuk dan isi yang telah pernah menegasi atau
meniadakannya itu, adalah merupakan negasi atau peniadaan yang kedua
dalam suatu proses gerak sipiral.
Berlangsungnya
suatu negasi atau peniadaan yang pertama, kemudian diakhiri oleh negasi
atau peniadaan yang kedua, itu yang disebut sebagai hukum negasi dari
negasi atau hukum meniadakan yang meniadakan. Berdasarkan hukum itu,
maka yang menegasi tentu akan dinegasi atau yang meniadakan tentu akan
ditiadakan, dan “kembali”-lah gerak atau perubahan dan perkembangan
sesuatu kepada bentuk dan isinya yang “lama” atau yang “asal”, tapi
dalam kwaliteutnya yang baru, yang lebih tinggi dan lebih maju dari yang
awal mulanya.
Demikian hukum arah gerak atau arah perubahan dan perkembangan secara sipiral dari segala sesuatu.
BAB. IV
EPISTIMOLOGI MATERIALIS
Epistimologi
adalah teori tentang pengetahuan, yaitu tentang asal dan lahirnya
pengetahuan serta peranan dan perkembangan pengetahuan.
ASAL DAN LAHIRNYA PENGETAHUAN
Asal Pengetahuan
Pengetahuan
adalah berasal dari praktek, baik praktek langsung maupun praktek tidak
langsung. Praktek langsung ialah praktek atau pengalaman sendiri.
Sedang praktek tidak langsung ialah praktek atau pengalaman orang lain.
Praktek
langsung menimbulkan pengetahuan langsung. Sedang praktek tidak
langsung, menimbulkan pengetahuan tidak langsung. Dengan begitu, baik
pengetahuan langsung maupun pengetahuan tidak langsung, kedua-duanya
berasal dari praktek.
Dari
kedua pengetahuan itu, pengetahuan langsung lebih penting dari pada
pengetahuan tidak langsung. Maka praktek atau pengalaman langsung juga
lebih penting daripada praktek atau pengalaman tidak langsung.
Pengetahuan
langsung itu bersifat terbats karena praktek langsung atau pengalaman
sendiri juga terbatas. Sebaliknya, pengetahuan tidak langsung bersifat
luas karena prakteknya tidak langsung atau pengalaman orang lain juga
luas.
Lahirnya Pengetahuan
Pengetahuan
lahir melalui proses dua tingkat, yaitu tingkat sensasi dan tingkat
ratio. Pengetahuan tingkat sensasi atau pengetahuan sensasional adalah
pengetahuan yang langsung ditangkap secara apa adanya dari praktek.
Pengetahuan sensasional itu bersifat kwantitatif dan sepotong-sepotong
serta menyiapkan pengetahuan rasional. Karena itu pengetahuan
sensasional akan menjadi kurang ada gunanya bagi Ilmu Pengetahuan atau
tidak bisa menjadi ilmu pengetahuan bila tidak ditingkatkan menjadi
pengetahuan rasional. Pengetahuan sensasional yang tidak ditingkatkan
menjadi pengetahuan rasional hanya akan menjadi sebagai pengetahuan
biasa, pengetahuan tingkat rendah yang sederhana dan bersifat
kwantitatif (kennis).
Adapun
pengetahuan rasional adalah pengetahuan hasil penagkapan, hasil
penelitian dan perenungan, serta merupakan penyimpulan dari pengetahuan
sensasional. Dengan begitu, pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang
tidak langsung dari praktek, pengetahuan tingkat kedua sebagai
peningkatan dan kelanjutan dari pengetahuan sensasional.
Pengetahuan
rasional bersifat luas dan kwalitatif. Lengkap, tidak
sepotong-sepotong. Bersifat kombinatif dan kongklusif dari sejumlah
pengetahuan sensasional yang sepotong-sepotong. Pengetahuan rasional
merupakan perubahan kwalitatif dari pengetahuan sensasional dan menjadi
ilmu pengetahuan (wetenschap).
Tentang
pengetahuan sensasional dan pengetahuan rasional itu ada pandangan yang
ekstrim dan salah dari kaum sensasionalis dan kaum rasionalis.
Kaum
sensasionalis memandang pengetahuan sensasional itu sebagai pengetahuan
yang objektif dan benar karena pengetahuan sensasional adalah
pengetahuan yang langsung berasal dari praktek. Dengan begitu, pandangan
kaum sensasionalis adalah pandangan yang sepotong-sepotong. Kaum
sensasionalis tidak memandang sifat-sifat yang sempit, terbatas dan
sepotong-sepotong dari pengetahuan sensasionalis. Mereka seperti tidak
memandang bahwa segala sesuatu itu tidak hanya terdiri dari yang
sepotong. Karena itu keobjektifan dan kebenaran sesuatu tidak bisa
dipandang hanya dari yang sepotong itu. Sesuai dengan poandangannya,
kaum sensasionalis memandang pengetahuan rasionalis sebagai pengetahuan
yang tidak objektif dan tidak benar, atau diragukan keobjektifan dan
kebenarannya karena pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang tidak
langsung berasal dari praktek. Dan karena rasio itu bisa salah dalam
menyimpulkan, maka pengetahuan rasional sebagai pengetahuan hasil
penyimpulan itupun bisa salah.
Sebaiknya,
kaum rasionalis memandang pengetahuan rasionil sebagai pengetahuan yang
objektif dan benar karena pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang
menyeluruh dan lengkap. Dalam hal ini kaum rasionalis tidak memandang
bahwa pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang berasal dari dan
melalui proses pengetahuan sensasional. Dan karena itu, bisa salah.
Sebab, rasio memang bisa salah. Maka pengetahuan rasional sebagai hasil
penyimpulan rasiopun bisa salah. Sesui dengan pandangannya iu, kaum
rasionalis memandang pengetahuan sensasional sebagai pengetahuan yang
rendah dan remeh, tidak penting dan tidak berguna karena pengetahuan
sensasional adalah pengetahuan yang sempit, sepotong, dm tidak lengkap.
Kedua
pandangan itu adalah pandangan yang ekstrim dan salah karena hanya
menganggungkan yang satu dan meremehkan yang lain. Adapun pandangan yang
objektif dan benar mengenai kedua pengetahuan itu ialah, bahwa
pengetahuan sensasional dan pengetahuan rasional adalah dua tingkat
pengetahuan yang secara dialektis tidak bisa dipisah-pisahkan dan tidak
bisa direndahkan atau diremehkan. Kedua-duanya selalu saling hubungan
sangat erat dan mempunyai peranan yang penting. Pengetahuan sensasional
adalah bagian dari pengetahuan rasional dan menyiapkan lahirnya
pengetahuan rasional itu. Sedang pengetahuan rasional tidak akan bisa
lahir tanpa melalui proses pengetahuan sensasional. Pengetahuan
sensasonal adalah pengetahuan yang objektif dan benar dalam artiian baru
sepotong. Tapi dalam artian yang menyeluruh bagi sesuatu, pengetahuan
sensasional menjadi belum lengkap. Karena itu pengetahuan sensasional
menjadi belum sepenuhnya onjektif dan belum sepenuhnya benar.
Sebaliknya, pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang menyeluruh dan
lengkap. Tapi juga bisa belum sepenuhnya objektif dan belum sepenuhnya
benar. Sebab, keobjektifan dan kebenarannya harus ditinjau dari keadaan
praktek yang berlangsung, yang secara menyeluruh disalinghubungkan dan
disimpulkan dari dan berdasarkan yang sepotong-sepotong. Sesuainya
pengetahuan raional dengan praktek, baru bisa dinyatakan suatu
pengetahuan rasional sebagai pengetahuan yang objektif dan benar.
BATAS DAN PERKEMBANGAN SERTA PERANAN PENGETAHUAN
Batas Pengetahuan
Pengetahuan
yang berasal dari praktek bersifat terbatas dan tidak terbatas
sekaligus, sesui dengan praktek itu sendiri. Pengetahuan manusia orang
seorang itu terbatas karena praktek dan pengalaman sesorang juga
terbatas. Tapi pengetahuan manusia bersama tidak terbatas karena praktek
dan pengalaman manusia bersama juga tidak terbatas. Pengetahuan manusia
satu generasi juga terbatas. Tapi pengetahuan manusia seluruh generasi
tidak terbatas karena praktek dan pengalaman manusia seluruh generasi
juga tidak terbatas.
Ketidakterbatasan
pengetahuan manusia bersama dan manusia seluruh generasi terjadi
melalui suatu proses akumulasi, yaitu pengumpulan dan penyatuan dari
pengetahuan manusia orang seorang atau manusia satu generasi yang
terbatas. Pengetahuan manusia orang seorang yang satu dengan yang lain
terbatas, diakumulasi atau dikumpulkan dan disatukan menjadi pengetahuan
manusia bersama yang tidak terbatas. Begitu juga pengetahuan manusia
satu generasi yang satu dengan yang lain terbatas, diakumulasi atau
dikumpulkan dan disatukan menjadi pengetahuan seluruh generasi yang
tidak terbatas. Artinya, pengetahuan manusia seseorang yang terbatas,
ditambah-tambah dan disatukan dengan pengetahuan-pengetahuan
manusia-manusia seseorang lainnya yang juga terbatas, menjadi
pengetahuan manusia bersama yang tidak terbatas. Begitu juga pengetahuan
manusia satu generasi yang terbatas, ditambah-tambah atau
disambung-sambung dan disatukan dengan pengetahuan manusia satu generasi
yang lain yang juga terbatas, menjadi pengetahuan manusia seluruh
generasi yang tidak terbatas.
Dengan
begitu pengetahuan adalah terbatas pada manusia orang seorang, tapi
tidak terbatas pada manusia bersama seluruhnya. Terbatas pada manusia
satu generasi, tapi tidak terbatas pada manusia seluruh generasi.
Terbatas pada satu waktu, tapi tidak terbatas pada seluruh waktu.
Maka
semua yang ada secara objektif, yang tidak bisa diketahui oleh manusia
orang seorang akan bisa diketahui oleh manusia orang seorang lainnya.
Apa yang tidak bisa diketahui oleh manusia satu generasi akan bisa
diketahui oleh manusia satu generasi lainnya. Yang tidak bisa diketahui
pada satu waktu akan bisa diketahui pada satu waktu lainnya. Karena itu
semua yang ada secara objektif pasti akan bisa diketahui. Soalnya adalah
soal waktu. Jadi soalnya bukan tidak bisa diketahui, tapi belum bisa
diketahui dan akan bisa diketahui sejalan dengan perkembangan praktek
manusia orang seorang dan praktek manusia bersama serta sejalan dengan
perkembangan praktek manusia satu generasi dan praktek manusia seluruh
generasi.
Perkembangan Pengetahuan
Pengetahuan
manusia tidak berhenti pada satu batas, tapi akan berkembang kebatas
yang lain sejalan dengan praktek manusia yang juga tidak akan berhenti
pada satu batas, tapi akan berkembang kebatas yang lain. Pengetahuan dan
praktek manusia berkembang dan akan selalu berkembang terus sesuai dan
sejalan dengan gerak materi yang juga terus menerus tanpa henti.
Pengetahuan
manusia berkembang dan meluas. Itu berlangsung dan terjadi dari
pengetahuan manusia orang-seorang dan manusia bersama sampai pengetahuan
manusia satu generasi dan manusia seluruh generasi terkumpul dan
tersambung dengan pengetahuan manusia-manusia orang seorang dan manusia
generasi-generasi lainnya atau kelanjutannya. Semua pengetahuan itu dari
pengetahuan yang satu kepengetahuan yang lain yang terus menerus
bertambah, terus diakumulasi dan dikombinasi, disatukan dan saling
hubungkan, diseleksi dan terus bersambung berkembang menuju dan menjadi
pengetahuan yang luas dan makin luas serta tinggi dan makin tinggi.
Pengetahuan
yang makin luas dan makin tinggi itu akhirnya pasti akan bisa menggali
dan mencapai semua yang ada secara objektif yang masih tersembunyi, yang
belum tergali dan belum tercapai.
Peranan Pengetahuan
Pengetahuan
(wetenschap) atau teori mempunyai peranan yang sangat penting bagi
perkembangan praktek dan materi, bagi hidup dan kehidupan manusia.
Pengetahuan berasal dan lahir dari praktek serta berkembang dan meluas
sejalan dengan perkembangan praktek dan materi. Tapi pengetahuan
mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan praktek dan materi itu
sendiri.
Pengetahuan
mempunyai pandangan dan jangkauan jauh kedepan sebelum praktek dan
materi itu berkembang. Pengetahuan merupakan sinar bagi praktek serta
memimpin dan membawa arah perkembangan praktek dan materi. Praktek akan
berjalan dalam gelap dan meraba-raba bila tidak disinari dan dipimpin
oleh pengetahuan atau teori, sehingga akan terbentus-bentus dan
tersesat.
Pengetahuan
dan praktek tidak bisa dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang
lain. Praktek melahirkan pengetahuan, sedang sebaliknya, pengetahuan
menyinari dan memimpin praktek. Perkembangan praktek menimbulkan
perkembangan pengetahuan, sedang sebaliknya, perkembangan pengetahuan
kebenarannya diuji dalam praktek, yang selanjutnya menimbulkan
perkembangan baru bagi praktek.
Praktek
melahirkan pengetahuan, sedang sebaliknya, pengetahuan diuji dan
kembali kepada praktek. Demikian berlangsung proses skematis:
Praktek-Pengetahuan-Praktek.
PRAKTEK DAN PENGETAHUAN
Arti dan Macam Praktek
Praktek
adalah kerja manusia atau perbuatan manusia mengubah materi, yaitu
benda atau keadaan, serta mengubah alam dan kehidupan masyarakat.
Mengubah
benda artinya adalah kerja produksi. Mengubah keadaan artinya adalah
kerja sosial. Sedang mengubah alam berarti menentang atau melawan alam.
Mengubah kehidupan masyarakat berarti berjuang atau ber-revolusi.
Kerja
produksi dan menentang atau melawan alam merupakan praktek alam atau
praktek produksi. Sedang kerja sosial dan berjuang atau ber-revolusi
merupakan praktek sosial atau praktek revolusi.
Dengan
begitu praktek pada pokoknya hanya terbagi dalam dua golongan atau dua
macam, yaitu praktek alam atau praktek produksi dan praktek sosial atau
praktek revolusi. Semua dan berbagai macam praktek manusia tergolong
salah satu dari kedua macam praktek itu.
Karena
itu pengetahuan atau teori yang lahjir dari praktek pada pokoknya juga
hanya terbagi dalam dua golongan atau hanya ada dua macam, yaitu
pengetahuan atau teoti tentang alam dan sosial, atau tentang produksi
dan revolusi. Jadi juga hanya ada dua macam ilmu, yaitu ilmu alam dan
ilmu sosial atau ilmu produksi dan ilmu revolusi. Berbagai macam ilmu
pada pokoknya termasuk kedalam salah satu golongan atau salah satu macam
ilmu itu.
Praktek
alam atau praktek produksi melahirkan ilmu alam dengan segala macam
jenisnya. Sedang praktek sosial atau praktek revolusi melahirkan ilmu
sosial dengan segala macam jenisnya.
Peranan Praktek
Praktek
mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan ilmu dan manusia.
Praktek melahirkan pengetahuan atau ilmu, menguji dan mengembangkan
kebenaran ilmu. Praktek membuat hidup manusia, membentuk watak manusia
dan meningkatkannya.
Praktek
ysng terus menerus, melahirkan pengalaman yang kesimpulannya menjadi
teori. Kebenaran teori itu selanjutnya masih harus diuji didalam
praktek. Kebenarannya ditinjau dari sesuai atau tidak dengan praktek.
Sesuainya teori itu dengan praktek, berarto teori itu benar. Sedang yang
tidak sesuai dengan praktek, berarti teori itu salah.
Peninjauan
atau pengujian kebenaran teori itu didalam praktek tidak hanya sekali.
Tapi terus menerus. Sebab dalam perkembangan praktek selanjutnya, teori
yang sudah benar itu bisa menjadi selisih dan tidak sesuai lagi dengan
praktek yang sudah berkembang. Keadaan demikian menuntut teori itu untuk
menyesuaikan lagi dengan perkembangan praktek yang baru. Dari
perkembangan itu, teori juga menjadi berkembang sesuai dengan
perkembangan praktek. Begitu terus menerus, praktek melahirkan teori,
menguji kebenaran teori, dan selanjutnya mengembangkan teori.
Praktek
yang terus menerus juga menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
kelanjutan hidup manusia. Dari praktek yang terus menerus itu juga
terbentuk watak manusia dan tuntutan untuk kelanjutannya.
Praktek Membentuk Watak
Praktek
membuat hidup dan menjadi kehidupan manusia, membuat manusia menjadi
biasa dalam hidup dan kehidupan itu, dan menimbulkan pada fikiran
manusia tuntutan-tuntutan bagi kelanjutan dan perkembangannya. Kebiasaan
dalam hidup dan dalam satu kehidupan itu dengan tuntutan-tuntutan bagi
kelanjutan dan perkembangan dari kebiasaan hidup dan kehidupannya itu,
menjadi dan merupakan suatu watak.
Demikian
praktek membentuk watak, cara hidup mementukan cara berfikir, kedudukan
sosial menentukan kesadaran sosial, atau kedudukan klas menentukan
kesadaran klas. Begitu, bahwa keadan menimbulkan dan menetukan fikiran,
materi menimbulkan dan menentukan ide, maka setiap perubahan keadaan
atau perubahan materi akan menimbulkan dan menentukan pula perubahan
watak, cara berfikir, kesadaran sosial atau kesadaran klas, ide atau
fikiran.
KEBENARAN
Arti dan Macam Kebenaran
Kebenaran
adalah sesuainya ide dengan materi, atau sesuainya fikiran dengan
keadaan. Kebenaran ada dua macam, yaitu kebenaran objektif dan kebenaran
subjektif.
Kebenaran Objektif ; Kebenaran objektif adalah suatu kenyataan apa adanya dari suatu materi atau keadaan.
Kebenaran Subjektif ; Kebenaran subjektif adalah suatu pencerminan ide tentang materi atau pencerminan fikiran tentang keadaan.
Sumber dan Letak Kebenaran
Sumber
kebenaran adalah kenyataan apa adanya dari materi atau keadaan.
Kebenaran objektif dan kebenaran subjektif , kedua-duanya bersumber dari
kenyataan itu.
Adapun
letak kebenaran, bagi kebenaran objektif letaknya ada di (kenyataan)
materi atau keadaan. Sedang kebenaran subjektif letaknya ada di
(pencerminan) ide atau fikiran.
Sifat Kebenaran
Kebenaran sesuatu mempunyai dua sifat, yaitu sifat absolut dan sifat relatif.
Kebenaran obsolut ;
Kebenaran absolut adalah kebenaran yang lengkap dan menyeluruh dari
sesuatu materi atau keadaan yang dicerminkan sesuai dengan kenyataan
secara objektif, lengkap dan menyeluruh menurut apa adanya. Karena itu
kebenaran absolut adalah juga kebenaran objektif.
Kebenaran Relatif ;
Kebenaran relatif adalah kebenaran sementara atau kebenaran pada satu
waktu, dan akan berubah atau berkembang pada waktu yang lain. Kebenaran
relatif juga kebenaran disatu tempat, dan bisa berubah ditempat lain.
Kebenaran
relatif berarti pula kebenaran yang baru sepotong atau baru sebagian
dari suatu materi atau keadaan yang lengkap dan menyeluruh yang
dicerminkan. Kebenaran relatif adalah juga kebenaran subjektif. Karena
itu sendiri adalah relatif, bersifat semenatara, dan akan selalu berubah
atau berkembang. Sebab, materi atau keadaan sebagai sumber kebenaran
juga selalu berubah atau berkembang. Dengan begitu berarti bahwa
kebenaran objektif ataupun kebenaran subjektif, kedua-duanya juga
relatif, bersifat semenatara, dan akan berubah atau berkembang.
Kebanaran
absolut dan kebenaran relatif adalah dua hal yang berhubungan sangat
erat, tidak bisa dipisah-pisahkan. Kebenaran absolut, kebenaran yang
lengkap dan menyeluruh, itu terjadi dan terdiri dari sepotong-sepotong
atau baru sebagaian. Sebaliknya, kebanaran relatif, kebanaran yang baru
sepotong-sepotong atau baru sebagaian itu, mengandung kebenaran absolut
dan merupakan unsur atau bagian yang akan melahirkan suatu kebenaran
absolut.
Kebenaran
itu bersifat absolut karena kebenaran itu ada secara objektif. Dan
kebenaran absolut itupun bersifat relatif, karena kebenaran itu hanya
bersifat sementara.
Maka
salah pendapat kaum subjektifis yang mengatakan tidak ada kebenaran
objektif karena kebenaran bersifat relatif, bergantung pada ide yang
mencerminkannya. Tapi juga salah pendapat kaum absolutis yang mengatakan
tidak ada kebenaran subjektif atau tidak ada kebenaran ide karena
kebenaran ide itu bersifat apa adanya. Karena itu kebenaran juga tidak
bersifat relatif, tapi tetap.
Kebenaran Umum dan Kebenaran Khusus
Kebenaran
kecuali mempunyai sifat absolut dan relatif, juga mempunyai sifat umum
dan khusus, yaitu sebagai kebenaran umum dan kebenaran khusus. Kebenaran
umum adalah kebenaran sepanjang masa atau kebenaran yang tetap
selamanya. Kebenaran yang terdapat dan berlaku dimanapun dan kapanpun.
Kebenaran khsusus adalah kebenaran menurut waktu, tempat dan tingkatan.
Kebenaran
umum dan kebenaran khusus adalah dua hal yang berhubungan erat, tidak
bisa dipisah-pisahkan. Kebenaran umum terjadi dari dan terdapat secara
kongkrit pada kebenaran khusus. Atau kebenaran umum itu ada dan terdapat
pada kebenaran khusus. Kebenaran umum merupakan poros dari
kebenaran-kebenaran khusus. Sebaliknya, kebenaran khusus mengandung
kebenaran umum dan berpedoman pada kebenaran umum itu.
Adalah
salah pendapat kaum absolutis sebagaimana juga pendapat kaum dogmatis
yang mengatakan tidak ada kebenaran khusus menurut waktu, tempat dan
tingkatan. Kebenaran itu hanya satu dan universil. Kapanpun waktunya,
dimanapun tempatnya dan bagaimanapun tingkatannya, kebenaran adalah
sama. Kebenaran berlaku pada semua waktu, berlaku disemua tempat dan
disemua tingkatan.
Tapi
juga salah pendapat kaum relatifis dan kaum revisionis yang mengatakan
tidak ada kebenaran umum. Semua kebenaran adalah relatif menurut waktu,
tempat dan tingkatan. Dan berdasarkan pendapatnya yang salah itu kaum
revisionis merevisi teori kebanaran umum Filsafat Marxisme dan merevisi
ajaran Marxisme itu sendiri.
BAB. V
KATEGORI FILSAFAT
BENTUK DAN ISI
Bentuk
adalah bingkai dari isi. Bentuk merupakan kekuatan dan pelindung
kehidupan isi. Bentuk menyelimuti atau menyelubingi isi. Bentuk
merupakan gejala luar yang tampak dan menampakkan diri, atau yang
tertangkap oleh indera lebih dulu daripada isinya. Bentuk bersifat pasif
dalam proses perkembangannya.
Adapun
isi adalah sesuatu yang terkandung didalam bentuk. Isi merupakan inti
dan kebenaran dari sesuatu. Isi merupakan sesuatu yang hidup dan
membentuk kehidupan. Isi bersifat aktif dalam perkembangannya.
Bentuk
dan isi adalah dua segi yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Kedua-duanya
selalu berhubungan erat. Bentuk selalu mengandung isi. Tidak bentuk
tanpa isi. Sebaliknya, isi selalu ada didalam bentuk. Tidak ada isi
tanpa bentuk. Bentuk tanpa isi akan tidak mempunyai arti apa-apa.
Sebaliknya, isi tanpa bentuk akan tidak mempunyai kekuatan, karena itu
akan berantakan dan tidak bisa mempertahankan adanya. Bentuk dan isinya
harus selalu sesuai, juga dalam setiap perkembangannya. Tidak sesuainya
bentuk dengan isisnya akan menimbulkan suatu kontradiksi antara bentuk
dengan isinya itu.
Bentuk
ditentukan oleh isinya. Tapi bentuk mempunyai pengaruh terhadap isinya.
Isi menetukan perkembangan bentuknya. Tapi bentuk mempengaruhi
perkembangan isinya. Bentuk yang sudah sempit dan tidak sesuai dengan
perkembangan isinya, akan dibongkar dan dihancurkan oleh isinya. Karena
itu akan terjadi atau akan lahir dan timbul suatu bentuk yang baru yang
sesuai dengan perkembangan isinya.
Bentuk
yang baru, melonggarkan bagi perkembangan isinya lebih lanjut. Begitu
sampai pada suatu ketika, bentuk menjadi sempit dan tidak sesuai lagi
dengan perkembangan isinya. Karena itu juga akan terjadi lagi
pembongkaran dan penghancuran terhadap bentuk itu oleh isinya untuk
menganggantinya dengan bentuk yang baru lagi, yang sesuai dengan
perkembangan isinya. Bentuk yang lama berubah menjadi bentuk yang baru,
itu terjadi tidak dengan sendirinya. Tapi terjadi atas perjuangan aktif
oleh isinya.
GEJALA DAN HAKEKAT
Gejala
adalah apa yang tertangkap oleh indera. Gejala merupakan pelantunan
hakekat, dan merupakan ujud luar yang mempunyai saling hubungan dengan
hakekatnya. Gejala tampak dan menampakkan diri pada berbagai macam.
Adapun
hakekat adalah saling hubungan yang menentukan adanya sesuatu dan
menimbulkan gejala-gejalanya. Hakekat menampakkan diri lewat
gejala-gejalanya. Gejala-gejala yang timbul dari adanya hakekat, tidak
semua sama atau tidak semua mencerminkan sesuatu dengan hakekatnya.
Walau begitu, untuk bisa mengetahui hakekat sesuatu, tentu melalui
gejala-gejalanya.
Gejala yang sama atau yang mencerminkan sesuai dengan hakekatnya adalah gejala yang menembus langsung dengan hakekatnya.
SEBAB DAN AKIBAT
Sebab
adalah yang menimbulkanakibat dan merupakan sumber dari timbulnya
akibat atau ada serta terjadinya sesuatu. Adapun akibat adalah yang
ditimbulkan oleh sebab.
Sebab
dan akibat mempunyai hubungan langsung dan erat. Sebab menimbulkan
akibat, dan tidak ada akibat tanpa sebab. Akibat akan terus menerus
timbul selama sebab yang menimbulkannya itu masih ada.
Karena
itu mengurus akibat harus pula mengurus atau mengakhiri sebabnya atau
menyelesaikan sebabnya yang menimbulkannya itu. Mengurus akibat tanpa
mengurus atau tanpa menyelesaikan dan mengakhiri sebabnya atau sebab
yang menimbulkannya, akan tidak ada artinya. Akibat menuntut pengurusan
yang segera, sedang sebab harus lebih lanjut dan mutlak untuk diurus.
Sebab
selalu mendahului akibat. Sebaliknya, akibat selalu timbul kemudian
sesudah sebab. Tapi apa yang timbul kemudian sebagai kelanjutan dari
sesuatu yang timbul mendahuluinya, tidak tentu merupakan akibat dari
yang timbul mendahuluinya itu.
Akibat
yang ditimbulkan oleh sebab, pada proses kelanjutannya bisa menjadi
sebab yang akan menimbulkan akibat yang baru. Studi tentang saling
hubungan, pada hakekatnya adalah studi tentang saling hubungan sebab dan
akibat.
KEHARUSAN DAN KEBETULAN
Keharusan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Ada dan terjadinya tidak bisa dielakkan dan tidak bisa ditolak. Keharusan adalah hal yang mutlak dan objektif.
Adapun kebetulan adalah sesuatu yang tidak tentu. Ada
dan terjadinya bukan suatu kepastian. Kebetulan merupakan titik
pertemuan atau titik persilangan dari dua keharusan. Kebutalan itu
terjadi karena bertemunya dua keharusan. Kebetulan merupakan perwujudan
kongkrit dari tuntutan dua keharusan.
BAB. VI
LOGIKA
LOGIKA
Logika
adalah cara berfikir yang sederhana yang bisa diterima oleh akal.
Logika sesuai dengan caranya yang sederhana, hanya dapat dipergunakan
untuk memecahkan hal-hal yang sederhana.
Logika
bukan cara berfikir yang kompleks dan mendalam. Karena itu juga tidak
bisa dipergunakan untuk memecahkan hal-hal yang kompleks dan rumit.
Logika
mengandung keterbatasan atau cara berfikir yang terbatas. Logika
meninjau sesuatu hal hanya mengenai apa yang ada diluar atau yang
tampak, dan tidak sampai menembus soalnya sampai kedalam. Logika hanya
menangkap apa yang ada diluar, hanya pada bentuknya, gejalanya atau
akibatnya. Tidak sampai menangkapnya apa yang ada didalam atau apa yang
terdapat didalamnya. Tidak sampai menangkap isinya, hakekatnya atau
sebabnya. Karena itu logika belum cukup untuk bisa mengetahui kebenaran
secara lengkap dan menyeluruh.
DUA MACAM LOGIKA
Logika sebagai cara berfikir, terdapat dua macam, yaitu logika formil dan logika dialektik.
Logika
formil seperti halnya metode metafisik, memandang segala sesuatu secara
terpisah, dan memandang keadaan sebagai hal yang tetap, tidak berubah.
Logika dialektik seperti juga cara berfikir dialektis, emandang segala
sesuatu mempunyai saling hubungan dan dalam keadaan berubah, tidak
tetap.
BAB. VII
MATERIALISME HISTORIS
Materialisme
Historis adalah penerapan pandangan Materialisme dan Metode Dialektik
dari Filsafat Materialisme Dialektik pada gejala sosial atau didalam
masyarakat. Materialisme Historis adalah materialisme dialektikanya
sejarah, atau materialisme dialektik yang berlaku didalam keadaan sosial
atau didalam masyarakat.
Materialisme
historis merupakan ciri dari kelengkapan dan ke-konsekuenan Filsafat
Materialisme Dialektika Marx, yang membedakan Filsafat Marx dari
filsafat-filsafat sebelumnya.
Perbedaan
Filsafat Marx dengan filsafat-filsafat sebelumnya ialah terletak pada
soal; bahwa filsafat-filsafat sebelum Marx hanya berbicara tentang
gejala alam. Sedang pandangannya tentang sejarah masyarakat tidak jelas
dan tidak konsekuwen. Baru filsafat Marx yang berbicara tidak hanya
tentang gejala alam, tapi juga secara lengkap dan konsekwen berbicara
tentang gejala sosial atau gejala masyarakat. Karena itu lahirnya
filsafat M.D.H. Marx merupakan suatu revolusi dari sejarah filsafat.
Materialisme
Historis Marx mengajarkan tentang; keadaan sosial menentukan kesadaran
sosial, hukum umum perkembangan masyarakat, basis dan bangunan atas,
klas dan perjuangan klas, negara dan revolusi, peranan massa dan pimpinan dalam sejarah
KEADAAN SOSIAL MENENTUKAN KESADARAN SOSIAL
Keadaan sosial mempunyai syarat-syarat dan terdiri dari tiga faktor, yaitu; geografi, penduduk dan cara produksi.
Dari
ketiga faktor keadaan sosial itu yang paling menentukan adalah faktor
cara produksi. Faktor cara produksi adalah faktor yang paling mobil,
progressif dan revolusioner dalam mendorong maju keadaan sosial. Sedang
faktor geografi dan faktor penduduk adalah faktor-faktor yang mempunyai
pengaruh dan ikut menentukan dalam mendorong maju keadan sosial, tapi
tidak lebih cepat dari faktor cara produksi.
Faktor
geografi dan faktor penduduk itu berubah dan berkembang sangat lambat.
Begitu lambatnya berubah dan berkembangnya faktor geografi dan faktor
penduduk itu, sehingga ketinggalan sngat jauh dari berubah dan
berkembangnya faktor cara produksi. Karena itu peranannya dalam
mendorong maju keadaan sosial sampai seperti tidak terasa. Maka pada
hakekatnya berubah dan berkembangnya keadaan sosial menjadi ditentuykan
oleh berubah dan berkembangnya faktor cara produksi. Demikian kesadaran
sosial yang ditentukan oleh keadaan sosial pada hakekatnya juga
ditentukan oleh faktor cara produksi.
Adapun
kesadaran sosial adalah suatu pengertian, pandangan dan sikap sosial
manusia terhadap hidup dan kehidupannya, serta terhadap hidup dan
kehidupan sosial masyarakat. Kesadaran sosial seseorang bergantung dan
ditentukan oleh keadaan sosialnya.
Keadaan
sosial menentukan kesadaran sosial. Perubahan dan perkembangan keadaan
sosial juga membawa dan menentukan perubahan dan perkembangan kesadaran
sosial. Walau begitu kesadaran sosial tidak bersikap pasif terhadap
keadaan sosial. Kesadaran sosial mempunyai pengaruh aktif terhadap
keadaan sosial, terhadap perubahan dan perkembangan keadaan sosial itu.
Faktor-faktor
keadaan sosial yang mempengaruhi dan menentukan kesadaran sosial ialah
geografi, penduduk dan cara produksi dengan peranannya masing-masing.
a. Geografi
Geografi
meliputi unsur-unsur letaknya, bentuknya dan kegunaannya bagi produksi.
Dari ketiga unsur itu yang paling penting peranannya dalam mempengaruhi
dan ikut menentukan keadaan sosial, serta lebih lanjut mempengaruhi dan
menentukan kesadaran sosial adalah unsur kegunaannya bagi produksi.
Geografi
yang berbeda dari suatu negeri dan masyarakat, menimbulkan pula
perbedaan keadaan sosial serta kesadaran sosial dari negeri dan
masyarakat itu dengan keadaaan dan kesadaran sosial dari negeri dan
masyarakat lain yang berbeda geografinya.
Perubahan
dan perkembangan geografi membawa dan menentukan pula perubahan dan
perkembangan keadaan sosial dan lebih lanjut membawa perubahan dan
perkembangan kesadaran sosial.
b.Penduduk
Penduduk
mempunyai dan meliputi unsur-unsur jumlah dan kepadatan. Unsur-unsur
itu mempengaruhi dan ikut menentukan keadaan sosial yang selanjutnya
mempengaruhi dan menentukan kesadaran sosial. Perubahan dan perkembangan
penduduk ikut membawa dan menentukan perubahan dan perkembangan keadaan
sosial yang lebih lanjut juga membawa perubahan dan perkembangan
kesadaran sosial.
Perubahan
dan perkembangan penduduk berlangsung dalam proses yang lebih cepat
daripada proses perubahan dan perkembangan geografi.
Cara Produksi
Cara
produksi terbentuk dan terdiri dari tenaga produktif dan hubungan
produksi. Cara produksi adalah faktor yang paling mempengaruhi dan
paling menentukan keadaan sosial yang lebih lanjut berarti paling
mempengaruhi dan paling menentukan kesadaran sosial. Perubahan dan
perkembangan cara produksi membawa dan menentukan pula perubahan dan
perkembangan keadaan sosial yang lebih lanjut juga membawa dan
menentukan perubahan dan perkembangan kesadaran sosial.
Proses
perubahan dan perkembangan cara produksi sangat cepat, paling
mempengaruhi dan paling menentukan dibanding dengan proses perubahan dan
perkembangan geografi dan penduduk.
Proses
perubahan dan perkembangan cara produksi dimulai dari proses perubahan
dan perkembangan tenaga produktif serta ditentukan pada akhirnya oleh
perubahan dan perkembangan hubungan produksi. Hubungan produksi
menentukan cara produksi. Perubahan dan perkembangan hubungan produksi
membawa perubahan dan perkembangan cara produksi.
Inti
persoalan hubungan produksi adalah pemilikan atas alat produksi. Sedang
inti persoalan pemilikan alat produksi adalah penentuan kedudukan
sosial manusia dalam hubungannya antara yang satu dengan yang lain dalam
proses produksi, dan lebih lanjut kedudukan sosial itu menentukan
kesadaran sosial.
Kedudukan
sosial manusia sebagai pemilik alat produksi menimbulkan dan menentukan
kesadaran sosialnya sebagai pemilik alat produksi untuk mempertahankan
pemilikannya atas alat produksi. Sebaliknya, kedudukan sosial manusia
sebagai bukan pemilik alat produksi menimbulkan dan menentukan kesadaran
sosialnya sebagai bukan pemilik alat produksi untuk anti pada pemilikan
atas alat-alat produksi.
Demikian
pada hakekatnya keadaan sosial ditentukan oleh hubungan produksi, dan
kesadaran sosial ditentukan oleh kedudukan sosial dalam hubungan
produksi itu.
Kesadaran
sosial itu hanya ada dua macam, yaitu kesadaran sosial untuk
mempertahankan pemilikan perseorangan atas alat produksi dan kesadaran
sosial untuk pemilikan bersama secara kolektif atas alat produksi
sebagai milik masyarakat.
HUKUM UMUM PERKEMBANGAN MASYARAKAT
Hukum
umum perkembangan masyarakat adalah suatu hukum yang objektif. Hukum
itu timbul dan berlangsung secara objektif didalam masyarakat, diluar
kesadaran dan diluar kemauan manusia. Timbul dan terjadinya tidak
diciptakan oleh manusia. Berlangsung dan terlaksananya tidak bisa
dihindari dan tidak bisa ditolak oleh manusia dan oleh kekuatan apapun.
Itu sudah menjadi kepastian sejarah dalam proses perkembangan
amsyarakat.
Hukum
perkembangan masyarakat dimulai dari proses kebutuhan hidup manusia
yang pokok, yaitu mempertahankan dan melangsungkan hidup dalam proses
kehidupan dan perkembangan selanjutnya. Proses itu berlangsung secara
objektif dan berlaku sebagai hukum umum perkembangan masyarakat, bahwa :
· Kebutuhan hidup manusia yang pokok ialah mempertahankan dan melangsungkan hidup.
· Untuk
bisa mempertahankan dan melangsukan hidup, manusia harus makan,
berpakaian dan bertempat tinggal. Itu merupakan syarat dan sebagai
kebutuhan hidup yang primer.
· Untuk bisa memenuhi kebutuhannya yang primer itu, manusia harus bekerja meproduksinya.
· Untuk
bisa bekerja memproduksi, manusia harus mempergunakan alat kerja dan
ada sasaran kerja. Alat kerja dan sasaran kerja itu merupakan dan
disebut sebagai alat produksi. Dalam hal kerja itu juga harus ada atau
tersedia tenaga kerja.
· Tenaga
kerja manusia dengan kecakapan dan keahliannya yang didapat dari
pengalaman kerjanya beserta alat produksi, merupakan tenaga produktif.
· Tenaga
produktif itu selalu berubah dan berkembang, tidak pernah tinggal diam
atau berhenti pada satu saatpun. Tenaga produktif itu merupakan motor
dari perkembangan maju masyarakat.
· Perkembangan
dan perubahan tenaga produktif dimulai pertama-tama dari perubahan dan
perkembangan alat kerja, kemudian diikuti dengan perubahan dan
perkembangan kecakapan dan keahlian tenaga kerja yang menggunakan alat
kerja itu. Tenaga kerja itu merupakan faktor yang terpenting dalam
tenaga produktif.
· Tenaga
produktif selalu menuntut keharusan sesuainya hubungan produksi engan
perkembangan dan perubahan tenaga produktif itu pada setiap tingkat.
· Hubungan
produksi adaah hubungan antara manusia yang satu dengan yang laiin
dalam proses produksi. Hubungan produksi itu berlangsung karena untuk
memproduksi, manusia tidak cukup hanya dengan menggunakan tenaga kerja
sendiri dan alat produksi, tapi masih harus mengadakan hubungan dengan
manusia lain yang merupakan dan disebut sebagai hubungan produksi.
· Hubungan
produksi mengandung isi yang pokok, yaitu kedudukan pemilikan atas alat
produksi dalam proses produksi itu. Artinya, alat produksi dalam proses
produksi itu milik siapa. Milik bersama secara kolektif dari semua
manusia dalam hubungan produksi itu, atau milik perseorangan secara
sepihak dalam proses produksi itu juga.
· Hubungan
produksi itu menentukan kwalitas suatu masyarakat. Berubah dan
berkembangnya hubungan produksi berarti berubah dan berkembangnya suatu
masyarakat.
· Hubungan
produksi harus selalu sesuai dengan tenaga produktif dalam setiap
tingkat perubahan dan perkembangan tenaga produktif itu. Hubungan
produksi itu berlangsung diluar kesadaran manusia. Tapi kesadaran
manusia tidak berarti pasif. Kesadaran manusia juga mempunyai peranan
aktif dalam proses perubahan dan mendorong maju perkembangan hubungan
produksi sesuai dengan perkembangan tenaga produktif.
· Hubungan
produksi merupakan bingkai dari tenaga produktif sebagaimana bentuk
merupakan bingkai dari isi. Hubungan produksi itu bersifat pasif dalam
setiap proses perubahan dan perkembangannya. Sebaliknya, tenaga
produktif bersikap aktif dalam setiap proses perubahan dan
perkembangannya. Perubahan dan perkembangan hubungan produksi selalu
kemudian daripada perubahan dan perkembangan tenaga produktif.
· Hubungan
produksi yang sudah menjadi sempit bagi perubahan dan perkembangan
tenaga produktif, pada akhirnya akan dibongkar dan dihancurkan oleh
perkembangan tenaga produktif itu sendiri untuk kemudian diganti dengan
hubungan produksi baru yang sesuai dengan perkembangan dn watak tenaga
produktif itu. Dengan berubah dan berkembangnya hubungan produksi,
berubah dan berkembang pula masyarakatnya.
· Keharusan
sesuainya hubungan produksi dengan perkembangan tenaga produktif itu
merupakan suatu hukum dan yang mendorong maju perkembangan masyarakat.
Itu adalah hukum umum perkembangan masyarakat.
· Hubungan
produksi dan tenaga produktif merupakan cara produksi, dengan hubungan
produksi sebagai faktor yang menentukan cara produksi, sebagaimana
hubungan produksi menentukan kwalitet suatu masyarakat. Begitu hubungan
produksinya, begitu pula cara produksi dan sistim ekonominya, yang
berarti begitu juga kwalitet masyarakatnya. Berubah hubungan produksinya
berarti berubah cara produksi dan sistim ekonominya, juga kwalitet
masyarakatnya.
BASIS DAN BANGUNAN ATAS
Basis
adalah suatu sistim Ekonomi. Faktor-faktor sistim ekonomi ialah
pemilikan alat produksi, distribusi hasil produksi dan pertukaran dari
hasil produksi itu. Dari tiga faktor itu yang paling menentukan adalah
faktor pemilikan alat produksi.
Adapun
bangunan atas adalah suatu pencerminan dari basis. Bangunan atas
berdiri diatas dan karena kekuatan basis. Bangunan atas terdiri dari dua
faktor, yaitu faktor ide dan faktor pelaksana atau realisator ide. Dari
dua faktor itu, akhirnya yang penting dan menentukan adalah faktor alat
pelaksana atau alat ralisator itu.
Basis
menentukan bangunan atas, yaitu menentukan perubahan dan perkembangan
bangunan atas. Berubah dan berkembangnya basis, berarti berubah dan
berkembangnya bangunan atas. Tapi bangunan atas tidak bersifat pasif.
Bangunan atas mempunyai peranan aktif dalam mengubah dan mengembangkan
basis itu. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pengubahan dan perubahan
revolusioner basis selalu dimulai dari pengubahan dan perubahan
revolusioner bangunan atas.
Pengubahan
dan perubahan basis yang selalu dimulai dari pengubahan dan perubahan
bangunan atas itu tidak berarti bahwa bangunan atas yang menentukan
basis. Tapi tetap basis yang menentukan bangunan atas. Sebab bila
pengubahan dan perubahan bangunan atas itu berhenti hanya pada
penngubahan dan perubahan bangunan atas itu saja, dan tidak terus ampai
pada pengubahan dan perubahan basisi, maka akhirnya bengunan atas yang
sudah berubah itu akan kembali sperti semula sesuai dengan basisinya
yang belum atau tidak berubah karena tidak diubah.
KLAS DAN PERJUANGAN KLAS
Klas
adalah segolongan orang yang mempunyai kedudukan yang sama dalam
hubunganya dengan pemilikan alat produksi, mempunyai kepentingan yang
sama dan tujuan yang sama pula.
Kedudukan
sosial klas sesorang dalam masyarakat ditentukan oleh hubungannya
dengan pemilikan alat produksi, yaitu dia sebagai pemilik alat produksi
atau sebagai bukan pemilik alat produksi. Mereka yang menduduki sebagai
pemilik alat produksi adalah klas parasit yang menghisap dan menindas.
Sebaliknya mereka yang menduduki sebagai bukan pemilik alat produksi
adalah klas pekerja atau produsen yang terhisap dan tertindas.
Ideologi
klas seseorang ditentukan oleh kedudukan dan kepentingan klasnya.
Disamping itu juga ditentukan oleh tujuan perjuangan hidupnya. Artinya,
ia berjuang untuk apa, untuk siapa, dan untuk kepentingan klas mana.
Untuk memiliki dan mempertahankan serta melindungi pemilikan
perseorangan atas alat produksi atau untuk menghapuskan pemilikan
perseorangan atas alat produksi dan menjadikannya sebagai milik bersama
seluruh masyarakat. Mereka yang berjuang untuk yang pertama adalah
berideologi klas penghisap dan penindas. Sedang mereka yang berjuang
untuk yang kedua adalah berideologi klas buruh.
Kepentingan
klas sesorang ditentukan oleh kedudukan klasnya. Klas pemilik alat
produksi sebagai klas penghisap dan penindas mempunyai kepentingan untuk
mempertahankan dan melindungi pemilikannya atas alat produksi, yang
berarti berkepentingan untuk mempertahankan dan melindungi penindasan
penghisapannya. Sebaliknya, klas bukan pemilik alat produksi sebagai
klas terhisap dan tertindas mempunyai kepentingan untuk menghapuskan
kepemilikan perseorangan atas alat produksi, yang berarti berkepentingan
untuk menghapuskan penghisapan dan penindasan.
Klas
dalam masyarakat berklas hanya terdapat dua klas yang pokok, yaitu klas
pemilik alat produksi sebagai klas penghisap dan penindas, dan klas
bukan pemilik alat produksi sebagai klas terhisap dan tertindas. Tapi
disamping dua klas yang pokok itu, ada satu klas peralihan, yaitu klas
pemilik alat produksi yang sekaligus juga klas pekerja yang terhisap dan
tertindas oleh klas pemilik alat produksi yang besar yang menghisap dan
menindas.
Klas-klas
dalam masyarakat lahir sesudah terjadinya perampasan dan pemilikan
perseorangan atas alat produksi oleh segolongan kecil manusia yang kuat
terhadap segolongan besar manusia yang lemah.
Lahirnya
klas dalam masyarakat menimbulkan adanya perjuangan klas didalam
masyarakat. Perjuangan klas adalah perjuangan untuk membela kepentingan
klas dan tujuan klas, atau perjuangan antara dua klas yang kepentingan
dan tujuannya bertentangan.
Perjuangan
klas antara dua klas yang saling bertentangan kepentingan dan tujuannya
itu tidak mengenal kompromi dan tidak bisa dikompromikan, berwatak dan
bersifat antagonis. Perjuangan klas itu terus berlangsung dan tidak akan
berhenti pada satu saat pun. Hanya bentuk dan sifatnya yang
kadang-kadang terbuka dan kaang-kadang tertutup.
Perjuangan
klas itu akan terus menerus berlangsung, tidak akan berhenti dan tidak
akan lenyap selama klas-klas itu sendiri masih ada didalam masyarakat.
Berhenti dan lenyapnya perjuangan klas akan bersamaan dengan lenyapnya
klas-klas itu dari masyarakat.
Klas-klas
itu akan lenyap bila dan pada saat pemilikan perseorangan atas alat
produksi lenyap atau hapus dan menjadi pemilikan bersama oleh
masyarakat.
NEGARA DAN REVOLUSI
Negara
Negara
adalah alat suatu klas yang berkuasa untuk menindas dan menguasai klas
yang lain untuk mempertahankan dan melindungi kepentingan dan kekuasaan
klas yang berkuasa.
Negara
lahir dalam masyarakat berklas sesudah klas-klas itu sendiri lahir, dan
sesudah terjadi pertentangan serta timbul perlawanan dan perjuangan
klas. Negara lahir sebagai akibat dari adanya perlawanan dan perjuangan
klas tertindas dan terhisap terhadap klas yang menindas dan menghisap,
suatu perlawanan yang terus menerus dan tidak teratasi. Untuk bisa
mematahkan dan menindas serta mengatasi setiap perlawanan yang timbul
dari klas yang tertindas atau dari klas lain, dan untuk menjaga serta
melindungi kepentingan dan kekuasaan, serta untuk bisa menegakkan dan
mempertahankan kekuasaannya lebih lanjut, klas yang berkuasa memerlukan
alat kekuasaan dan kekuatan, dan itu adalah negara.
Demikian
negara lahir sebagai alat kekuasaan dan alat penindas dari klas yang
berkuasa terhadap klas lain, dan bukan sebagai alat pendamai dalam
pertentangan klas yang berdiri diatas semua klas yang saling
bertentangan.
Negara sesuai dengan fungsinya, selalu berwatak dan bersifat diktatur dari klas yang berkuasa terhadap klas yang lain.
Aparat
kekuasaan negara yang utama dan penting serta pokok adalah pemerintah,
angkatan bersenjata dan penjara. Ketiga aparat kekuasaan negara itu
adalah mutlak dan merupakan hakekat negara. Dan dari ketiganya itu yang
paling penting adalah angkatan bersenjata.
Negara
sebagai alat kekuasaan berarti alat pelaksana politik atau alat
pelaksana ide klas yang berkuasa. Karena itu negara merupakan suatu
faktor dari bangunan atas. Dan sebagai bangunan atas, negara lahir dan
berdiri diatas basis serta yang melindungi basis itu. Maka watak suatu
negara tidak bisa lepas dari watak basisnya atau watak dan kepentingan
sistem ekonomi yangberlangsung. Watak dan fungsi tentu sesuai dengan
watak dan kepentingan basis atau sistem ekonominya, dan sesuai denga
watak serta kepentingan klas yang berkuasa. Tidak bisa lain.
Negara sesuai dengan sejarah lahir dan terbentuknya, tidak selamanya ada dan mutlak. Ada
jaman yang masyarakatnya hidup berlangsung tanpa ada negara, yaitu
masyarakat komunal primitif sebagai masyarakat yang tidak berklas karena
klas-klas belum lahir atau belum ada dalam masyarakat itu. Karena itu
negara pada akhirnya juga akan lenyap dari masyarakat. Akan datang
masanya yang masyarakat hidup berlangsung tanpa negara., yaitu
masyarakat komunisme sebagai masyarakat yang tidak berklas karena
klas-klas sudah lenyap dari masyarakat itu.
Negara pada akhirnya akan lenyap dari masyarakat bersamaan dengan lenyapnya klas-klas dari masyarakat itu pula.
Revolusi
Revolusi
adalah perebutan dan pergantian kekuasaan dari klas yang berkuasa
kepada klas lain yang lebih maju. Dengan begitu pergantian kekuasaan
kepada klas lain yang reaksioner adalah bukan revolusi, tapi kontra
revolusi.
Revolusi
mempunyai tiga sasaran utama, yaitu politik, ekonomi dan kebudayaan.
Itu berarti revolusi yang pertama-tama ditujukan untuk merebut dan
mengganti kekuasaan negara. Segera sesudah itu berhasil, harus segera
merebut dan mengoper kekuasaan atas alat produksi. Kemudian sesudah
kekuasaan itu mantap dan terkonsolidasi kuat, lalu merombak kebudayaan
lama dengan segala sisa-sisanya untuk memenangkan dan mendominasi
kebudayaan baru, kebudayaan klas yang berevolusi.
Revolusi
yang sudah berhasil merebut dan mengganti kekuasaan negara, tapi tidak
diteruskan untuk merebut dan mengoper kekuasaan atas alat produksi, akan
berarti revolusi itu hanya dalam bentuk, dan tidak sampai pada isinya.
Revolusi yang demikian, pada hakekatnya dan pada akhirnya adalah
revolusi yang gagal. Sebab hakekat suatu revolusi adalah merebut dan
mengoper kekuasaan atas alat produksi untuk merombak sistem ekonomi yang
lama dan menggantinya dengan sistem ekonomi yang baru dari klas yang
berevolusi.
Revolusi
di lapangan politik berarti merebut dan mengganti kekuasaan negara,
merombak aparatnya yang lama dan menggantinya dengan aparat yang baru
sebagai aparat revolusi, yaitu aparat yang sesuai dan untuk melaksanakan
tujuan revolusi. Dan tujuan revolusi berarti tujuan klas yang
berevolusi, yaitu klas yang merebut dan mengganti kekuasaan.
Revolusi
di lapangan ekonomi berarti merebut dan mengoper kekuasaan atas alat
produksi. Merombak hubungan produksi yang lama dan menggantinya dengan
hubungan produksi yang baru dari klas yang berevolusi, yang berarti
merombak sistem ekonomi yang lama dan menggantinya dengan sistem ekonomi
yang baru dari klas yang berevolusi.
Revolusi
di lapangan kebudayaan berarti melawan dan merombak kebiasaan dan cara
berfikir yang lama dan menggantinya dengan kebiasaan dan cara berfikir
yang baru dari klas yang berevolusi.
Revolusi
di lapangan politik tanpa merombak aparat yang lama dan menggantinya
dengan aparat yang baru, aparat revolusi dari klas yang berevolusi, akan
menghambat dan bisa membelokkan jalannya revolusi dari arah tujuan
revolusi.
Revolusi
di lapangan ekonomi tanpa merombak hubungan produksi dan sistem ekonomi
yang lama untuk menggantinya dengan hubungan produksi dan sistem
ekonomi yang baru dari klas yang berevolusi, akan tidak ada artinya bagi
tujuan revolusi, yang berarti gagal.
Revolusi
di lapangan politik dan ekonomi tanpa dilanjutkan atau tanpa revolusi
di lapangan kebudayaan, akan bisa menyelewengkan jalannya revolusi dari
arah dan tujuan revolusi itu.
Revolusi-revolusi
yang sudah terjadi dalam sejarah, bisa dibagi dalam dua kategori pokok,
yaitu revolusi proletar atau revolusi sosialis dan revolusi -revolusi
sebelumnya. Dua kategori pokok revolusi itu mempunyai perbedaan besar
dan prinsip pada watak dan sifat serta tujuannya.
Revolusi
proletar atau revolusi sosialis adalah revolusinya klas bukan pemilik
alat produksi atau revolusinya klas yang tertindas dan terhisap, yaitu
revolusinya klas buruh atau klas pekerja terhadap klas pemilik alat alat
produksi atau klas penghisap. Sedang revolusi - revolusi sebelumnya,
revolusi - revolusi sebelum revolusi proletar atau sebelum revolusi
sosialis adalah revolusinya klas -klas pemilik alat produksi atau klas
penghisap terhadap klas lain, atau terhadap klas pemilik alat produksi
atau klas penghisap yang lama.
Revolusi
proletar atau revolusi sosialis bertujuan untuk menghancurkan sistem
ekonomi dan masyarakat penghisapan dan menggantinya dengan sistim
ekonomi dan masyarakat sosialis, yaitu sistim ekonomi dan masyarakat
kolektif tanpa penghisapan. Sedang revolusi - revolusi sebelumnya
bertujuan untuk mengganti sistim ekonomi dan masyarakat penghisapan yang
lama dengan sistim ekonomi dan masyarakat penghisapan yang baru.
Revolusi
proletar atau revolusi sosialis betugas untuk membangun sistim ekonomi
dan masyarakat yang sama sekali baru, yang belum terkandung atau belum
tumbuh dalam sistim ekonomi dan masyarakat yang lama yang digantinya.
Sedang revolusi - revolusi sebelumnya bertugas membangun atau menegakan
sistim ekonomi yang sudah terkandung atu sudah tumbuh didalam sistim
ekonomi dan masyarakat yang lama yang diganti. Dengan begitu,
revolusi-revolusi sebelum revolusi proletar atau sebelum revolusi
sosialis berarti tidak membangun sistim ekonomi yang sama sekali baru.
Revolusi
Proletar atau revolusi sosialis dan revolusi-revolusi sebelumnya yang
watak, sifat dan tujuannya saling berbeda secara prinsip itu, berbeda
pula praktek berlangsungnya, pelaksanaannya dan penegakannya.
Revolusi
proletar atau revolusi sosialis berlangsung sampai pada penumbangan
sistim ekonomi dan masyarakat yang lama beserta akar-akarnya.
Pelaksanaan dan penegakannya harus dengan aparat yang baru yang bersih
dari watak dan sifat-sifat lama. Sedang revolusi-revolusi sebelumnya,
berlangsung sampai berlaku dan berkuasanya sistim ekonomi dan masyarakat
baru dengan masih bisa membiarkan atau meneruskan berlakukanya
sisa-sisa sistim ekonomi dan masyarakat lama didalam sistim ekonomi dan
masyarakat baru. Pelaksanaan dan penegakannya bisa pula menggunakan atau
dengan aparat-aparat lama yang masih membawa watak dan sifat-sifat
lama.
Revolusi
proletar atau revolusi sosialis membangun sistim ekonomi dan masyarakat
yang sama sekali baru. Karena itu, didalamnya akan berlangsung
kontradiksi atau pertentangan yang makin menajam antara watak dan
fikiran-fikiran lama, atau antara ideologi baru dengan ideologi lama
yang ditumbangkan, yang sisa-sisanya masih berusaha untuk berkuasa
kembali. Watak dan fikiran atau ideologi yang baru dan yang lama itu
tidak bisa saling berintegrasi atau tidak bisa diintegrasikan, dan
kontradiksi atau pertentangannya tidak bisa dikompromikan. Sedang
revolusi-revolusi sebelum revolusi proletar atau sebelum revolusi
sosialis membangun sistim ekonomi dan masyarakat yang tidak sama sekali
baru. Karena itu didalamnya tidak akan berlangsung kontradiksi atau
pertentangan yang makin menajam antara watak dan fikiran atau ideologi
yang lama. Tapi kontradiksi atau pertentangan antara keduanya itu akan
melunak dan bisa dikompromikan serta bisa saling berintegrasi.
Revolusi-revolusi
itu menjadi matang dan berlangsung atau terjadi dengan melalui
syarat-syarat dalam proses krisis revolusioner. Tanda-tanda atau
ciri-ciri dari krisis revolusioner itu ialah :
· Massa rakyat sudah tidak puas dan tidak mau dengan keadaan yang lama yang sedang berlangsung.
· Massa
rakyat sudah berani dan sudah bertindak menentang dan melawan keadaan
itu, baik secara bersama atau terorganisasi maupun secara
sendiri-sendiri yang “anarchis”.
· Klas atau pemerintah yang berkuasa sudah tidak mampu mengatasi keadaan dan tidak mampu membuat jalan keluar.
· Klas
yang baru sudah siap dan sudah mampu untuk menggangti kekuasaan lama,
serta sudah siap tampil kedepan memimpin dan mampu melaksanakan
kepemimpinan dalam perlawanan massa rakyat terhadap kekuasaan klas atau kekuasaan pemerintah lama.
Revolusi adalah perlawanan besar dan menyeluruh dari massa
rakyat terhadap kekuasaan klas atau pemerintah lama yang proses
kematangannya dimulai dari perlawanan-perlawanan yang kecil-kecil dan
terpisah-pisah. Revolusi selalu berlangsung dengan perlawanan dan
kekerasan. Tidak ada revolusi yang berlangsung secara damai.
PERANAN MASSA DAN PIMPINAN DALAM SEJARAH
Massa
Massa adalah segolongan besar manusia dalam masyarakat yang mempunyai ikatan atau persamaan kepentingan tertentu. Massa disini berarti massa pekerja atau rakyat pekerja.
Massa rakyat pekerja adalah pencipta sejarah. Massa rakyat pekerja adalah kaum produsen. Sejarah masyarakat adalah sejarah dari massa rakyat pekerja. Sejarah adalah sejarah dari kaum produsen, dan bukan sejarah dari para pimpinan.
Massa rakyat pekerja adalah juga pelaksana dan realisator ide-ide masyarakat. Tanpa massa rakyat pekerja tidak akan ada ide-ide masyarakat atau ide-ide sosial yang bisa dilaksanakan atau direalisasi.
Massa rakyat pekerja hidup dan menghidupi serta menentukan jalan hidup dan kehidupan mereka sendiri.
Massa dalam hidup dan kehidupannya memerlukan dan mempunyai pimpinan yang lahir dari antara mereka dan mereka tentukan sendiri. Massa melahirkan dan menentukan pimpinan, dan bukan sebaliknya. Massa bukan semacam domba yang hanya menurut kemana gembalanya.
Pimpinan
Pimpinan adalah orang yang menjadi poros dalam hidup dan kehidupan massa, Pimpinan menjadi pedoman dalam menempuh jalan hidup dan kehidupan massa.
Pimpinan adalah satu dengan massa dan lahir dari antara massa itu sendiri. Pimpinan adalah juga massa, tapi massa
yang paling menonjol diantara mereka dan mempunyai banyak kelebihan
dari yang lain, baik dalam hidup dan kehidupan, maupun dalam menempuh
jalan hidup dan kehidupan itu, serta dalam mencapai kepentingan bersama.
Kemenonjolan
dan kelebihan pimpinan ialah, bahwa pimpinan dalam hal itu memiliki
syarat-syarat “serba paling”, yaitu paling berpengaruh, paling jauh
pandangannya, paling berani, dsb. Sesuai dengan dasar kebutuhan dan
kepentingan massa yang bersangkutan.
Pimpinan merupakan peresan dari massa dan cermin dari hidup dan kehidupan massanya. Pimpinan merupakan wakil dan pembawa kepentingan, perasaan dan fikiran massa
yang dipimpinnya. Pimpinan yang sudah menyeleweng dan sudah tidak
mewakili atau sudah tidak membawa kepentingan, perasaan dan fikiran
massanya, akan ditinggalkan dan akan diganti dengan pimpinan yang baru
oleh massanya.
Pimpinan lahir dari massa serta hidup dan besar dari massa. Pimpinan akan terus diikuti oleh massa
selama dia mewakili dan membawa kepentingan, perasaan dan fikiran
massanya. Sebaliknya, pimpinan akan jatuh dan tenggelam ditengah-tengah massa serta ditentang oleh massa dan lenyap dari massa bila dia sudah tidak lagi mewakili dan membawa kepentingan, perasaan dan fikiran massanya.
Pimpinan dan massa adalah satu. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Massa
memerlukan pimpinan dalam hidup dan kehidupannya, serta dalam menempuh
jalan hidup dan kehidupannya itu, juga dalam mencapai kepentingannya.
Sebaliknya, pimpinan tidak bisa lahir dan tidak bisa hidup tanpa massa. Pimpinan tanpa massa tidak akan bisa berbuat apa-apa, dan tidak ada artinya.
Pimpinan hidup satu dengan massa dan ditengah-tengah massa. Pimpinan mengerti kepentingan massa, mendengarkan suara massa, memperhatikan perasaan massa, mempelajari fikiran dan pendapat massa. Lalu menyimpulkan suara, perasaan, fikiran dan pendapat massa itu. Kemudian menjadikan kesimpulan itu sebagai garis pimpinan yang sesuai dengan kepentingan massa, dan untuk mencapai kepentingan massa. Selanjutnya mengembalikan garis pimpinan itu kepada massa untuk dilaksanakan dan direalisasi.
Kesimpulan dan garis pimpinan yang tepat sesuai dengan kepentingan massa dan sesuai dengan perasaan serta fikiran massa, akan mampu memobilisasi kekuatan massa untuk melaksanakan dan merealisasinya. Massa
adalah inspirator dan realisator serta penguji dari ketepatan garis
pimpinan. Dengan begitu, kesimpulan dan garis pimpinan adalah berasal
dari massa, kembali kepada massa, dilaksanakan dan direalisasikan oleh massa, serta untuk kepentingan massa. Maka pada akhirnya masalah yang menentukan, dan bukan pimpinan.
Kepentingan, perasaan dan fikiran massa merupakan garis massa. Dan garis massa itu menentukan serta menjadi garis pimpinan, yang pada pelaksanaan dan realisasinya kembali berakhir kepada massa yang menentukannya.
Demikian peranan massa dan pimpinan dalam sejarah perkembangan masyarakat. Pimpinan yang menunjukkan arah dan jalannya, sedang massa yang menentukan.
Refrence III
Berpikir dengan pendekatan Materialisme Dialektika Historis (MDH)
Sebelumnya, kawan-kawan yang di tag dalam catatan ini diharuskan membaca dengan seksama dan rileks supaya kita lebih leluasa dapat mendiskusikan esensi yang terkandung dalam tulisan ini. Tulisan ini diharapkan dapat mengubah pola pikir kita dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan dapat berguna bagi diri kita sendiri khususnya dan pada orang lain umumnya serta mengubah pola sikap dan pola tindak kita agar memiliki kesadaran sebagai makhluk sosial.
Tulisan ini disharing dari berbagai sumber, baik dari media lisan, tulisan, maupun elektronik, dan bahkan dari beberapa pemateri. Tapi… ada tapinya juga, segala yang tercantum dalam tulisan ini belumlah sempurna dan perlu dialektika dari kawan-kawan supaya kita tidak memandang suatu wacana itu berdasarkan pemahaman kita saja (egosentris), tetapi kita perlu juga melihat suatu wacana berdasarkan kacamata orang lain.
Tulisan ini dibuat sesederhana mungkin supaya kita lebih mudah memahami tahap demi tahap nilai yang dikandungnya. Dimulai dengan “materialism adalah konsepsi filsapat marxis,sedang metodenya adalah dialektika”, sedangkan, “materialisme historis adalah penerapan materialisme dialektik ke alam sejarah manusia”, dan pernyataan diatas dapat kita uraikan dalam tiga pokok pengertian yaitu : materialisme, dialektika, dan historisitas.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
- Ø Materialisme : ma·te·ri·al·is·me /matérialisme/ n pandangan hidup yg men-cari dasar segala sesuatu yg termasuk kehidupan manusia di dl alam kebendaan semata-mata dng mengesampingkan segala sesuatu yg mengatasi alam indra.
- Ø Dialektika : di·a·lek·ti·ka /dialéktika/ n 1 hal berbahasa dan bernalar dng dialog sbg cara untuk menyelidiki suatu masalah; 2 ajaran
Hegel yg menyatakan bahwa segala sesuatu yg terdapat di alam semesta
itu terjadi dr hasil pertentangan antara dua hal dan yg menimbulkan hal
lain lagi.
- Ø Historisitas : his·to·ri·si·tas n segala sesuatu yg berhubungan dng sejarah; kesejarahan: sedang diteliti -- hadis-hadis yg sahih
Penting bagi kita untuk memahami secara spesifik ketiga pokok kata di atas, supaya memperluas wawasan kita dalam memahami wacana ini. Kita mulai dengan menguraikan lagi satu persatu ketiga unsur penting tersebut sebelum kita lebih jauh melangkah supaya kita tidak tersesat.
1. Materialisme
Seperti kita ketahui secara umum, materialisme pada mulanya merupakan gugus pengertian bahwa materi (ikhwal indrawi) adalah hakikat (intisari/dasar) dari realitas . Marx merubah pandangan umum ini. Baginya, materialisme seperti itu hanya benar untuk materialisme klasik hingga abad ke-18. Dalam Tesis (pernyataan atau teori yg didukung oleh argumen yg dikemukakan dlm karangan) pertamanya tentang Feuerbach, Marx menunjukkan pengertian baru dari materialisme.
Materialisme adalah paham ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis.
Kata materialisme yang digunakan Marx bukanlah dalam arti filosofis sebagai kepercayaan bahwa hakekat seluruh realitas adalah materi, melainkan ia ingin menunjukan pada faktor-fakor yang menentukan sejarah yang terdapat dalam produksi kebutuhan manusia. Seperti dalam penjelasan sebelumnnya faktor-faktor ini mengacu pada keadaan manusia.
Materialisme sebelum Marx hanya memahami materi sebagai obyek indrawi belaka. Pengertian ini tak mampu menyadari bahwa obyek-obyek material itu adalah juga hasil dari aktivitas subyektif manusia. Sentralitas pada obyek ini dibalikkan oleh Marx dengan menunjukkan peran sentral subyek, manusia, dalam konstitusi materialitas hal-ikhwal. Dengan pendekatan yang dapat disebut sebagai “materialisme subyektif” inilah Marx lantas dapat menunjukkan sesuatu, selain obyek material, yang konstitutif terhadap realitas. Sesuatu itu tak lain adalah laku, kerja,praxis( prak·sis n praktik (bidang kehidupan dan kegiatan praktis manusia )
2. Dialektika
Sedangkan istilah dialektika-pada dasarnya bukanlah merupakan termi-nologi baru dalam filsafat. Bila ditelusuri lebih jauh, pengertian ini telah terkan-dung dalam filsafatnya Herakleitos (500 SM) yang mendasarkan filsafat pada ‘pe-rtentangan-pertentangan’, dan pertentangan adalah arti umum dan awal dari di-alektika. Sokrates kemudian juga menggunakan dialektika sebagai metode untuk memperoleh melalui cara-cara dialog, mempertanyakan dan kemudian memban-tah jawaban yang diperoleh untuk memperoleh kepastian pengetahuan. Istilah dialektika ini kemudian semakin terlembaga pada filsafat Hegel (1770-1831), yang merumuskan dialektika sebagai teori tentang persatuan hal-hal yang ber-tentangan. Dunia menurut Hegel selalu berada dalam proses perkembangan. Proses berlangsung dengan melalui tahapan afirmasi atau tesis, pengingkaran atau antitesis dan akhirnya sampai kepada integrasi (in·teg·ra·si n pembauran hingga menjadi kesatuan yg utuh atau bulat); atau sintesis.
3. Historisitas
Sejarah dalam pengertian Marx adalah perjuangan kelas-kelas buruh untuk mewujudkan kebebasan. Marx mengemukakan bahwa yang menentukan perkembangan masyarakat bukanlah kesadaran masyarakat, bukanlah apa yang dipikirkan masyarakat tentang dirinya tetapi keadaan riil masyarakat itu sendiri, kondisi dan situasi hidup masyarakat. Jadi bukan sesuatu yang abstrak yang ada di tataran kepala, yang dibayangkan, yang dicita-citakan, tapi fakta-fakta /keadaan yang ada, ataupun proses hidup yang nyata. Cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan untuk hidup itulah yang disebut keadaan masyarakat. Dengan demikian, keadaan masyarakat selain mempengaruhi perkembangan masyarakat juga mempengaruhi kesadaran masyarakat itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar