Selasa, 04 Juli 2017

SEJARAH SERIKAT BURUH PERKRETAAPIAN DI SUMATERA UTARA 1926-1970

PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sumatera Utara.
Sumatera Utara merupakan satu daerah yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Daerah yang terletak di antara 10 - 40 LU, 980 - 1000 BT. Luas daratan Sumatera Utara 71.680 km2, Sumatera Utara tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini perkebunan tetap menjadi fokus utama perekonomian. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara menghasilkan Karet, Coklat, Teh, Kelapa Sawit, Kopi, Cengkeh, Kelapa, Kayu Manis, dan Tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara. Perkembangan perkebunan sendiri memiliki sejarah yang panjang terutama di kawasan pantai timur. Dari perkembangan perkebunan inilah yang di masa lalu menghadirkan transportasi guna mempermudah perpindahan hasil produksi perkebunan, dan tambang dari Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Sekarang hingga ke Rantau Prapat di Kabupaten Labuhan batu.
Sejarah singkat Sumatera Utara.
Pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement van Sumatra dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh seorang Gubernur yang berkedudukan di kota Medan.
Sejarah mencatat pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara dikenal sebagai Gouvernement van Sumatra dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh seorang Gubernur berpusat di kota Medan. Lalu Sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), pasca kemerdekaan Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga provinsi yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Utara sendiri memiliki tiga daerah administratif yaitu Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Utara, dan Keresidenan Tapanuli. Terbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia (R.I.) No. 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948, Sumatera dalam kebijakan ini kemudian dibagi menjadi tiga provinsi yang masing-masing memiliki hak untuk  mengatur dan mengurus daerahnya sendiri yaitu, Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Tanggal 15 April 1948 kemudian dikenal sebagai hari jadi Provinsi Sumatera Utara. Tahun1949, di lakukan reorganisasi dalam pemerintahan di Sumatera. Dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I. Nomor 22/Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, posisi Gubernur Sumatera Utara di hilangkan. Ketetapan Pemerintah Darurat R.I. pada tanggal 17 Desember 1949 inilah menjadi dasar kebijkan dibentuknya Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara yang juga meliputi keresidenen tapanuli dahulu.  Lalu, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 pada tanggal 14 Agustus 1950, mencabut dan mengarahkan untuk dibentuk kembali Provinsi Sumatera Utara. Lalu Dengan Undang-Undang RI No. 24 Tahun 1956 yang diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh, sehingga wilayah Provinsi Sumatera Utara sebahagian menjadi wilayah Provinsi Aceh.
Pada era kolonial Belanda Sumatera Utara lebih dikenal sebagai residen Sumatera Utara yang menjadi pusat industri Kolonial Belanda. Kondisi ini tidaklah datang dengan sedemikian rupa, akan tetapi kekayaan alam dari alam pulau sumatera yang mengundang orang-orang Eropa datang untuk berdagang. Semenanjung Sumatera dimana kesultanan Deli berkuasa pada abad ke 13 ramai didatangi  para pedagang, sehingga tersohorlah bumi Deli ke dunia pada saat itu. Pedagang Arab, Eropa, India, dan Cina kemudian menetap dan membangun kedai-kedai mereka di Labuhan Deli, sekitaran sungai Deli. Lahirnya perkebunan dan industrialisasi di Labuhan Deli yang pada masa depannya meluas hampir kedaerah Sumatera Utara saat ini, dimulai dengan  di tandai oleh datangnya pengusaha dari Belanda pada 7 Juli 1863, yang awalnya tiga orang ini yang bernama Jacobus Nienhuys, Van der Valk dan Eliot bersandar di muara sungai Deli untuk berdagang membawa dagangan dan memulai usaha perusahaan Firma Leeuwenen Maintz&co. Namun karena melihat tanah Deli masih dalam kondisi semak dan hutannya belum di buka, maka Van der Valk dan Elliot memutuskan untuk pergi ketanah Jawa. Berkenalan dengan Sultan Deli , Sultan Mahmoed Perkasa Alam, Nienhuys diberikan hak pakai lahan selama 20 tahun tanpa perjanjian sewa seluas 4.000 bahu atau kurang lebih 3.000 Ha. Letak lokasi yang diberikan diantara Sungai Wampu dan Sungai Ular kemudian ditanami Tembakau, lalu diwaktu berikutnya ditanami Karet dan Sawit.Penanaman Tembakau di mulai pada tahun 1868 dengan didirikan oleh Nienhuys Perkebunan Pertama De Deli Maatschappaij.
Lokasi dan Kondisi Geografis.
Sumatera Utara dalam tempo 1926-1970 mengalami tiga masa yaitu kolonial Belanda, Era Fasis Jepang, era Kemerdekaan yang lebih di kenal dengan masa orde lama dan orde baru. Sebelum kedatangan kolonial Belanda Sumatera Utara adalah lokasi yang di kuasai oleh kerajaan Deli.
Lokasi yang sangat strategis dalam perdagangan dunia internasional saat itu di dukung oleh faktor alam Sumatera Utara Sendiri. Tengku H.M Lah Husny (1975 : 1) menerangkan lokasi Sumatera Utara :
“lebar dataran disebelah utara rata-rata aalah 30 km, dan lebar dataran disebelah selatan kira-kira 100 km. Inilah daerah Deli dalam arti luas yaitu melayu sumatera timur...................................................
Daerah yang berbukit-bukit terdapat disekitar bahorok, namu unggas (Langkat) dan di daerah serbajadi di kabupaten Deliserdang. Menurut taksasi kasar jumlah suku melayu lebih kurang 2 (dua) juta orang termasuk mereka yang tinggal di daerah kota praja-praja Binjai, Medan, Tebing Tinggi-Deli, Tanjung Balai.
Disebelah timur dan timur laut dari tempat kediaman suku melayu ini terhampar laut tenang selat malaka yang kaya hasil laut.
Disebelah barat dan barat daya daerah ini berbatas dengan kabupaten karo dan kabupaten simalungun dan daerah tapanuli. Di sepanjang batas ini di dapati kaki pegununganbukit barisan yang penuh dengan hasil hutan dan mineral dan hasil alam lainnya.
Daerah sumatera timur terutama bagian rendahnya adalah sangat subur. Khusus areal tanah antara sungai wampu dan sungai ular menghasilkan tembakau Deli yang terkenal di seluruh dunia, sedangkan tanah-tanah diluar areal ini juga baik sekali untuk tanaman keras, seperti kelapa sawit, kelapa, karet dan lain-lain dan juga tanaman rakyat pada umumnya”.
Kondisi yang sempurna sangat menguntungkan Sumatera Utara. Sebagai daerah yang dalam garis khatulistiwa dan di dukung oleh jalur laut yang ada tidak mengherankan Sumatera Utara langsung menjadikan daerah ini secara geografis perimadona bagi pengusaha Belanda yang di rintis oleh Jacobus Nienhuys pada tahun 1863.
Hasil laut yang banyak ini di dukung oleh kondisi alamnya hingga samapilah berbagai hasil bumi Sumatera Utara kebelahan dunia, terutama komoditas unggulan Tembakau Deli. Secara umum kesejahteraan rakyat Deli saat itu memang di tolong oleh kondisi alam yang besahabat sehingga kemakmuran identik dengan kehidupan rakyat melayu saat itu.
Selain alam tadi, Lokasi Sumatera Utara saat itu menjadi primadona dari Jalur perdangan dunia yaitu jalur sutra. Jalur yang menghubungkan Dunia karena perdagangannya itu menjadi salah satu kunci letak strategisnya Sumatera Utara bagi ekonomi Rakyat Indonesia saat itu dan masa kini. Setelah berkembang pesat dibangunlah infrastuktur penunjang industrialisasi di Sumatera Utara ini sehingga sejak dulu saat Nienhuys merombak Belawan menjadi Pelabuhan internasional, kebutuhan infrastruktur lahir satu per satu sebagai konsekuensi kemajuan sistem produksi ekonomi saat itu.

Keadaan Demografi.
Sumatera Utara secara demografi di penuhi oleh peradaban kerajaan melayu. Oleh karena itu secara umum sumatera timur di pengaruhi dan di tempati oleh suku melayu. Datangnya Belanda pada masa Sultan Mamoed Alam Perkasa memberikan model pemerintahan baru di Sumatera Utara. Dengan masuknya Belanda penetrasi suku bangsa lain memenuhi tanah Sumatera Utara dari berbgai wilayah. Penelitian dari Dr. T Volker dalam T. HM Lah Husny (1975 : 86) menyebutkan jumlah penduduk pada 1905 berjumlah 568.417 jiwa bertambah menjadi 1.197.554 jiwa pada tahun 1920. Pertambahan jumlah penduduk ini di dukung faktor pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara setelah Belanda dan berbagai bangsa eropa masuk ke Sumatera Utara untuk membuka perkebunan.
No
Suku Bangsa
Jumlah/Jiwa
1
Indonesia
1.042.930
2
Cina
134.750
3
Eropa
7.882
4
Asia Timur
11.592
5
Arab
400
Tabel 1.Kepadatan Penduduk mulai tahun 1920 di Sumatera Utara. (Sumber:Data Sensus Dr.T Volker).
No
Suku Bangsa
Jumlah/Jiwa
1
Melayu
285.553
2
Jawa
353.557
3
Karo
323.125
4
Sunda
37.231
5
Banjar
17.258
6
Minangkabau
15.002
Tabel 2.Kondisi penduduk pribumi mulai tahun 1920 di Sumatera Utara. (Sumber : Data sensus Dr.T Volker)
Sedangkan kondisi pemerintahan yang ada mulai dibagi dalam beberapa perwakilan kerajaan dibeberapa tempat. Seperti Kerajaan Deli sebagai pemimpin. Dan Kerajaan lain sebagai bagian dari dengan kedatuan, kejeruan yaitu Kerajaan Bilah, Kerajaan Kualuh, Kerajaan Panai, Kerajaan Kota Pinang, Kerajaan Batu Bara, Kerajaan Langkat, Kerajaan Asahan, dan Kerajaan Serdang.
Pada fase setelah kemerdekaan Rata-rata kerajaan ini menjadi wilayah dari Kabupaten Di Sumatera Utara. Seperti, Kabupaten Labuhan Batu yang meliputi bekas wilayah kerajaan Bilah, Panai, Kualuh dan Kota Pinang, Kabupaten Asahan yang mengambil bekas Kerajaan Asahan dan Batu Bara, Kabupaten Deli Serdang mengambil sebagian Wilayah Kerajaan Deli dan Serdang, Kabupaten Langkat sepenuhnya mengambil kerajaan langkat dan Kota Madya Medan yang menjadi pusat peradaban mengambil kendali atas wilayah sekitar kerajaan Deli.
Pada masa ini mata pencaharian masih sangat tradisional, karena hanya untuk memnuhi kebutuhan hidup dari keluarga alam Sumatera Utara  menyediakan semuanya. Jadi rakyat melayu saat itu bekerja sebagai nelayan, petani dan pemburu. Setelah perkebunan Belanda masuk pergeseran budaya menjadikan mata pencaharian yang komplek, mulai dari pekerja perkebunan yang meliputi (pembuka hutan, pemotong kayu, penanam tembakau dan mandor), lalu pedagang dan sisa mata pencaharian yang lalu.

Latar Belakang Berdirinya Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Masuknya Belanda ke Deli cukup membawa perubahan yang sangat mencolok bagi kehidupan masayarakat yang pada masa depannya menjadi pusat peradababan di Sumatera Utara. Dari tanah yang di rintis oleh gocah pahlawan, seorang panglima iskandar muda dari kesultanan aceh hingga menjadi miniatur kota eropa pada pertengahan abad ke 18. Sebelum masuknya Belanda di tanah Deli ini, Sumatera Utara di tahun 1862 merupakan pelabuhan besar yang telah mengeksepor berbagai komoditas tambang dan hasil alam melalui labuhan Deli. Selain mengekspor pelabuhan ini juga menjadi jalur impor tekstil, candu, mesiu senapan, barang pecah belah dan lain sebagainya.
Pada pertengahan 1863 Jacobus Nienhuys, Van der Valk dan Eliot datang pada masa kesultanan Deli di pimpin oleh Sultan Mahmoed Alam Perkasa  mereka dibawa oleh said abdullah basagih bin umar, kemudian sultan memberikan konsesi tanah seluas 100 ha untuk di kelola oleh Nienhuys pada awalnya.  Masuknya kapital Belanda ke tanah Deli menjadi keberuntungan sendiri bagi Nienhuys, setelah harus begitu lama membangun hutan menjadi ladang tembakau yang menggiurkan dan menghasilkan berjuta-juta golden bagi kantong Nienhuys.
Cita rasa tersendiri dari tembakau Deli yang hanya hidup di antara sungai Sungai Wampu dan Sungai Ular kemudian ditanami Tembakau, lalu di waktu berikutnya ditanami Karet dan Sawit.Penanaman Tembakau di mulai pada tahun 1868 oleh Nienhuys setelah di tinggal oleh kedua temannya sebelumnya. Setelah 75 tahun menjual hasil perkebunan tembakau itu di pasar tembakau di Amsterdam. Maka mulailah para pemilik modal dari Belanda dan derah eropa lainnya masuk Hindia Belanda. Dan mulailah era perkebunan merebak di kawasan Sumatera Utara mulai dari Deli Serdang, Langkat, Asahan  dan Labuhanbatu.
Pada kepemimpinan Hindia Belanda oleh gubernur jenderal van den bosch, aktifitas perkebunan menggeliat di nusantara, tidak terkecuali di Sumatera Utara. Datangnya Tjong A Fie sebagai pedagang sekaligus penyalur tenaga buruh dari luar negeri. Para buruh dari penang, macau, Jawa di tugaskan untuk pembukaan hutan, pemotongan kayu besar, pembuatan saluran air, pengolahan tanah, penanaman tembakau dan aktifitas pertanian tembakau lainnya. Mereka bekerja dengan paksaan dan hinaan ini banyak melarikan diri dari kebun karena selain merasa di tindas juga mereka merasa di tipu atas pekerjaan yang diberkan pada mereka, apalagi setelah pelaksanaan aturan poenale sanctie pada 1880 yang melegalkan aktifitas romusha pada para buruh perkebunan.
Dari sinilah perkenalan tanah Deli kepada kelompok baru di tengah masyarakat. Yaitu kelompok buruh yang akan turut memiliki sejarah tersendiri atas aktifitas manusia di tanah Sumatera Utara ini. Kemudian setelah inilah lahir serikat buruh perkeretaapian setelah di bangunnya De Deli Spoorweg maatschappij yang pada masa depannya menjadikan satu organisasi yang merintis lahirnya perjuangan buruh di Sumatera Utara.

Berdirinya Perusahaan perkeretaapian di Hindia Belanda
Perkembangan ekonomi Belanda di Hindia Belanda  merupakan satu hal yang mencipta transportasi baru yaitu kereta api. Kebutuhan perkebunan atas transportasi yang efektif dan efisien memerlukan sarana kereta api. Terutama perkebunan gula yang ada di Jawa tengah dimana para raja-raja feodal mengadakan persekongkolan dengan persekongkolan dengan Belanda dengan menjadikan tanah di kekuasaan mereka di tanami oleh komoditas pasar terutama tebu.
Menurut Situs Resmi PT.Kereta Api Indonesia , Pada awalnya pembangunan KA pada 17 juni 1864 pada masa  Gubernur Jenderal Hindia Belanda L.A.J baron sloet van den beele yang di sponsori oleh Naamloze Venootschap nederlandsch indische Spoorweg Maatschappij (NV.NISM) yang di pimpin oleh Ir.J.P De Bordes jalur di buat pertama kali di bangun dari kemijen menuju desa tanggung dengan jarak 26 Km dan lebar sepur 1435 mm.Pada tahun 1870 di bangunlah jalur kereta api pertama di Hindia Belanda dari Semarang-Surakarta oleh perusahaan swasta Belanda yang sama dengan jarak 110 Km.
Takashi Siraishi (2005:10-11) dalam tulisannya ;
“ Pada tahun yang sama (1870) jalur kereta api pertama hindia sampai ke Vorstenlanden dari Semarang yang dikelola oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS) untuk mengangkut gula yang dihasilkan perkebunan swasta di Vorstenlanden. Beberapa tahun setelah munclnya kereta api, pengangkutan barang melalui sungai solo terhenti, dan pusat perdagangan berpindah dari sangkrah dan beton ke bagian tengah. Transportasi kereta api antara Semarang dan Vosrtenlanden meningkat dengan pasti. Tahun 1875 jalur kereta api tersebut mengangkut 899.000 penumpang dan 124.000 ton barang dagangan, dan mendapat pemasukan sebesar 2 juta gulden. Pada tahun 1880 jalur kereta api itu mampu mengangkut 950.000 penumpang dan 334.000 ton barang dagangan yang menghasilkan 2,6 juta gulden”

Dari tulisannya menerangkan bahwa perkembangan ekonomi di Jawa memicu terjadinya pembangunan di daerah Jawa Tengah. Beliau mengidentifikasi bahwa pembangunan perkebunan dengan di sertai pembangunan Kereta Api merupakan zaman modal awal. Perkembangan transportasi dari mengunakan sungai untuk jalur transportasi memberikan dampak yang signifikan bagi Belanda.
Dan terus berkembanglah transportasi ini yang pada tahun 1900 menjadi 3,338 km untuk daerah pulau Jawa. Pembangunan model transportasi baru ini kemudian di ikuti oleh para pengusaha besar di luar pulau Jawa misalkan di Aceh (1874), Sumatera Timur (1885), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), Sulawesi (1922). Dan di Sumatera Timur sendiri Pembangunan itu di sponsori oleh De Deli Maatschappij yang membuka perkebunan tembakau, yang awalnya menggunakan jalur sungai Deli menuju belawan sebagai transportasi menuju kapal dagangnya untuk di jual ke negeri Belanda.

Berdirinya Deli Spoorweg Maatschappij di Sumatera Timur.
Bertambah luasnya konsesi dari perkebunan tembakau De Deli Maatschappij sampai 1876 hingga mencapai 4000 ha dan mengharuskan penmindahan yang sangat cepat dari hasil perkebunan itu ke pelabuhan di Labuhan Deli. Menurut penulis riwayat PT KAI  dan PT. Telkom di Medan M.Yusuf Pasaribu (2009:1) Hingga menjelang Tahun1876 juga rencana pembangunan sepur untuk jalan kereta api sejauh 17 km dimulai. Namun, baru pada 1884 Pembangunan Deli spoorweg maatschappij berhasil dibuat.
Lahirnya perusahaan kereta Api ini sendiri merupakan kebutuhan dari perkebunan tembakau meluas di penjuru tanah Deli, sehingga transportasi merupakan kebutuhan mendasar dalam memperlancar arus pengangkatan tembakau dari perkebunan ke pelabuhan belawan. Perkebunan yang di miliki oleh Nienhuys ini dibangun dengan semangat untuk efesiensi perkebunan itu sendiri.
Pada tahun 1883, M.Yusuf Pasaribu (2011:5) menyebutkan rencana pembangunan Jalur Kereta Api menjadi Solusi dari kendala distribusi tembakau, kemudian pada tahun 1884 mulailah dibangun Jalur Rel dari Labuhan Deli ke Medan dengan panjang rel 17 Km, Lebar Spur1,067 m, kemudian dari Labuhan Deli ke Belawan dengan panjang 5 Km, dari Medan ke Binjai dan Deli Tua dengan masing-masing panjangnya 21 Km dan 12 Km. kemudian pada tahun 1886 selesailah pembangunan Rel dan Kereta api mulai di operasikan untuk angkutan umum. Pembangunan secara Gradual terus dilaksanakan terus menerus pada tahun 1888 selesai dibangun jembatan kereta api Belawan dan pembangunan jalur dari Medan ke Bandar Khalifah, jalur ke perbaungan di bangun 1890 hingga 1891 Perusahaan De Deli Maatshappij memisahkan kepengurusan Kereta Api dengan mendirikan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) dan J.TH.Cremer yang menjabat menjadi Hoofd Administrateur menjadi direktur DSM pertama. Dan pembangunan terus berlanjut di daerah daerah perkebunan dari Deli Miij hingga pembangunan di perluas ke Rantau Prapat dan Daerah Bangun Purba serta Pancur Batu.
Dalam bukunya tersebut M Yusuf Pasaribu tidak menjelaskan secara detil tentang asal muasal kebutuhan transportasi. Apakah ada kondisi yang menghambat sehingga keuntungan dari De Deli Maatshappij menjadi tidak efisien. Kondisi Suamtera Utara saat itu masihlah tidak maju seperti hari ini. Perkampungan dan pusat ekonomi masih terpusat dibeberapa tempat yang menjadi wilayah aktifitas kerajaan melayu deli saat itu mulai dari Langkat hingga Labuhanbatu.
Kereta Api yang terus meluas jangkauan nya dan terus mengalamikemajuan pada zaman itu, kereta api digunakan untuk mengangkut perorangan serta mempermudah distribusi barang di daerah Sumatera Utara. Lahirnya Serikat Pekerja dalam Sektor Transportasi dikarenakan dampak pasti dari perluasan Jalur Kereta Api di tanah Deli. Menurut Semaun  (1920:25) Para Pekerja yang diberikan jabatan masing-masing, Masisnis, Stokker Remmer, Kondektur, Klerk, Baan dan Koeli yang bekerja di bengkel-bengkel.Dan mulailah muncul serikat buruh yang berasal dari buruh-buruh yang bekerja di sector kereta api akan tetapi tidak mendapatkan hak yang sewajarnya sebagai buruh. Latar belakang sebagai petani dan kemudian mengalami pergeseran mata pencaharian mengakibatkan kondisi yang jauh dari sejahtera dalam kehidupan buruh kereta api saat itu.
Semaun secara umum hanya menceritakan tentang bagaimana Serikat buruh harus muncul dan berjuang karena hak normatifnya, kekurangan informasi tentang bagaimana buruh itu terpilih untuk menempati tugas kerja tidak tersampaikan. Yang sebenarnya disitulah dapat dilihat bagaimana aktifitas dan psikologi sosial buruh saat itu maju dan berkembang. Kondisi ini bisa kita lihat perpindahan kebudayaan dari bercorak agraris ke industrialisasi yang mendorong perubahan cara berfikir buruh Indonesia kedepannya.
Keterlibatan ramai pegawai pribumi di DSM  sebagai adminstratur baru pada tahun 1937, menurut M Yusuf  (2011: 26) mereka adalah tamatan sekolah Volksschool yang dipekerjakan sebagai kondektur,  kerani, juru api lokomotip dan pelayan rem kereta api. Sedangkan yang menjadi kepala stasiun, pegawai staff tinggi dan mayoritas kondektur tetap orang Belanda. Ketidakadilan terasa dengan pembagian kerja yang tidak adil, pribumi yang bekerja di DSM kondisi kerjanya tidak jauh berbeda dengan para kuli kontrak dari pulau Jawa. Selain mengisi posisi yang diatas, mayoritas pada awalnya pribumi mengisi pekerjaan sebagai buruh pemasang rel-rel kereta api dan perawat rel kereta api.
Pengangkatan posisi pekerja dalam transportasi Perkeretaaapian ini diawal masih bercorak Nepotisme. Disinilah semangat nasionalisme mulai terbangun dari kaum buruh Indonesia untuk berjuang dan menuntut hak mereka sebagai buruh yang bekerja di perusahaan yang sama. Peristiwa itu tidak terlihat dalam penyebutan buku M Yusuf Pasaribu, bagaimana mereka termotivasi untuk bergerak dan mengajak rekan-rekannya yang memiliki kondisi dan perasaan yang sama.
Serikat buruh perkeretaapian sendiri merupakan dampak dari kebangkitan nasional di daerah Jawa. Dari wawancara dengan Edi sartimin pada 13 Juni 2015 mengucapkan :, “Di Jawa Sendiri pada 1905 Pegawai Kereta Api Negara Mendirikan Staatsspoorwegen (SS) yang berarti Serikat Personel Kereta Api Negara yang mencakup pegawai Belanda maupun Indonesia, yang mayoritas anggotanya adalah para pegawai Belanda pada waktu itu”.
Dari wawancara ini penulis mendapatkan informasi sesuai dengan refrensi yang telah didapat sebelumnya dari buku-buku pendukung skripsi ini.
Setelah VSTP muncul dengan sebutan “Serikat Buruh Merah SI” pada saat itu. Di karenakan beberapa serikat buruh yang muncul, VSTP yang dipimpin Semaun memang memiliki kedekatan dengan tokoh komunis. Selain itu Personeel Fabrik Bond (PFB) serikat buruh pabrik gula yang di pimpin oleh Suryopranoto, juga merupakan perluasan dari anggota SI. Selanjutnya muncullah berbagai organisasi lain, tidak saja serikat buruh, tapi juga partai-partai politik seperti yang pertama adalah Indesh Partij.
Semangat kebangkitan ini jugalah yang kemudian melahirkan berbagai tokoh-tokoh nasional yang berkiprah dalam memerdekakan Indonesia, banyak dari mereka yang berasal dari Sarekat Islam itu sendiri, yang teranyar adalah H Agus Salim yang kemudian membuat persatuan bersama dengan Semaun dan Suryopranoto. Kebiadapan Belanda saat itu mulai dilawan dengan cara yang terorganisir, tidak saja dengan senjata golok atau bambu kuning. Namun, Rapat Akbar, Pemogokan, dan berbagai sabotase dilakukan oleh mereka semua.
Wawancara berikutnya Edi Sartimin mengatakan, “Dulu pernah dilakukan sabotase untuk memenangkan tuntutan serikat buruh perkebunan. Waktu itu sampai di Dolok Merangir pernah dibuat kereta api terguling, karena kebun karet di daerah simalungun. Itu dilakukan karena perusahaan Belanda itu  tidak memberikan hak atas buruh perkebunan disana ceritanya. Jadi semangat mereka waktu berada di serikat buruh tidak saja berada di tingkatan satu organisasi orang itu aja nak, namun organisasi lain, karena mereka menganggap satu klas dengan buruh lainnya”.
Dari wawancara , penulis berpendapat bahwa kebangkitan nasional berbanding lurus dengan semangat merdeka atas bangsa Belanda saat itu. Sehingga perbedaan dari tiap-tiap tokoh dapat diredam dan mengemukakan semangat berdaulat atas Indonesia. Terlepas dari berbagai pendirian organisasi saat itu yang banyak bercorak Agama, Nasionalisme dan Komunisme. Ini tidak terlepas dari gerakan perlawanan Internasional yang berkembang saat itu. Agama Dibawa oleh semangat Pan-Islamisme yang berkembang di kawasan Asia Barat dan Asia Barat Daya, Lalu Komunisme yang berkembang di Kawasan Eurosia (Rusia, Ukraina, dan lain-lain) hingga ke asia. Dan Nasionalisme yang di berkembang di Amerika setelah merdeka dari Inggris dan Spanyol.
Dari perkembangan paham-paham inilah yang kemudian juga mempolarisasi corak pandangan serikat buruh yang lahir kemudian, dan juga terlihat dari federasi-federasi buruh yang di bangun saat itu banyak mempertahankan pahamnya sebagai metode dan strategi bergerak organisasi. Pada masa orde lama 4 federasi yang terkemuka menurut Iskandar Tedjasukmana (2008:47) yaitu Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia(SOBSI) yang dekat dengan PKI, Kongres Buruh Seluruh Indonesia (KBSI) yang jalan bareng dengan PSI, Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) yang di bawah pengawasan Masyumi, Kesatuan Buruh Kerakyatan Indonesia (KBKI) yang didirikan PNI.
Dalam buku tersebut tidak menjelaskan bagaimana konflik tersembunyi yang terjadi saat itu, hanya mempelihatkan kondisi afiliasi partai politik yang memang bertarung secara ideologi. Namun intrik-intrik antar organisasi tidak kelihatan jelas, yang mana dinamika tersebut menghantarkan kepada titik terang gerak ideologi masing-masing federasi waktu itu.
Selain itu ada beberapa federasi lain yang kecil seperti Himpunan Serikat Serikat Buruh Indonesia (HISSBI) yang punya hubungan erat dengan partai Buruh. Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia (SOBRI) yang dipengaruhi Partai Murba. Dan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI)  federasi independen yang cenderung dekat dengan PNI. Dan periode ini banyak dipengaruhi tumbuh berkembangnya partai-partai buruh menjelang pemilu tahun 1955 di pengaruhi kebijakan Moh Hatta dengan lahirnya maklumat Pemerintah 3 November 1945 tentang pembentukan Partai.

Serikat Buruh Perkeretaapian di Hindia Belanda.
Setelah Staatsspoorwegen (SS) berdiri sebagai organisasi buruh perkeretaapian pertama di Hindia Belanda. SS kemudian mulai mencair keaktifan organisasinya dikarenakan hanya beranggotakan para pegawai Belanda yang bertugas sebagai buruh administratif yang hanya berorganisasi demi memperjuangkan hak buruhnya di depan pengusaha perkeretaapian Belanda saja. Sehingga daya dobraknya terhadap Hindia Belanda dikatakan tidak ada. Dinamika organisasi buruh ini tidak dapat bertahan lama, setelah pihak pengusaha mengabulkan setiap hak dari pada mereka.
Pada 14 November 1908 wakil-wakil kaum buruh yang bekerja di perkeretaapian Negara maupun swasta berkumpul di Semarang atas dorongan dua orang sosialis asal Belanda yaitu C.J.Huishoff dan H.W.Dekker, perkumpulan ini digunakan untuk memproklamasikan adanya serikat baru,”Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel In Nederlandsch-Indie” atau VSTP. Perserikatan baru ini berbeda dengan SS yang sebelumnya ada, Edy Cahyono (2003:117) perserikatan ini mengorganisasi semua buruh kereta api tanpa ada perbedaan Ras, Jenis Pekerjaan, jabatan dan pembeda yang lain. Komitmen inilah kemudian menjadikan VSTP menjadi salah satu Serikat Buruh yang Militan Pada Masa Hindia Belanda.Baru pada 1913 sosialis-komunis mulai mendominasi kepemimpinan VSTP setelah H.J.F.M. Sneevliet menjadi Presiden dan Semaun sebagai sekretaris.Pada tahun 1914, buruh-buruh pribumi ini telah mendapat tempat dalam memimpin struktrur tertinggi di pimpinan VSTP, di mana 3 dari 7 anggota pimpinan pusatnya adalah pribumi. Tahun 1915, VSTP telah menerbitkan sebuah koran dalam bahasa Melayu, bertajuk Si Tetap. Salah satu dari tiga orang pribumi yang terpilih dalam pimpinan pusat VSTP ini adalah seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Semaun. Semaun adalah seorang organiser yang sangat giat dan, semenjak bergabung dengan VSTP di tahun 1914. 
Edi cahyono dalam hal ini hanya mengupas hal-hal penting karena hanya berusaha menjelaskan kondisi gerakan secara politik. Dinamika pembesaran organisasi tak tersebutkan yang akan memperlihatkan daya tahan dan aktifitas setiap serikat buruh di jawa dan menyebarkan ke daerah lain.
Perkembangan VSTP ini juga didorong oleh persatuan dari kaum buruh yang di dorong oleh pembangunan tokoh-tokoh SI seperti Semaun sendiri, Soeryopranoto dan Haji Agus salim. Kondisi penindasan yang dirasakan bersama menghadirkan rasa persatuan dan saling membela ketertindasan, yang akhirnya pada 1919 Personeel Fabriek Bond (PFB) yang di pimpin oleh Soeryopranoto yang banyak memimpin pemogokan para buruh pabrik gula, dengan VSTP sediri yang mulai dipimpin oleh Semaun mendirikan federasi buruh pertama dengan nama Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) yang di latar belakangi organisasi SI yang telah berdiri sejak 1905. Persatuan itu terus berkembang hingga kedua pemimpin PPKB ini di kenal dengan Si Raja-raja Mogok. Hingga akhirnya jaringan SI yang meluas juga turut membantu meluaskan jaringan dari VSTP itu sendiri ke penjuru negeri Hindia Belanda kala itu. Sampai tahun 1920 dia telah mendirikan 93 cabang VSTP di Jawa dan Sumatera. Namun, pada 1921 perbedaan pendapat dalam metode berjuang mengharuskan kedua kelompok mengambil sikap sehingga kalangan komunis di SI kala itu menarik diri dari PPKB dan membentuk federasi sendiri yang di beri nama “Revolutionair Vakcentrale”.
Pada tahun 1923, anggota VSTP tercatat berjumlah 13.000 orang atau ¼ dari total buruh industri kereta api di Hindia Belanda. Kondisi ini dianggap oleh pemimpin VSTP kala itu cukup untuk mengadakan pemogokan massal dan menggerakkan setiap sendi perlawanan rakyat untuk melaksanakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Namun ini ditolak oleh Semaun hingga akhirnya ia terpaksa menerima keputusan sebagian besar pengurus VSTP. Hingga di susunlah Pemogokan itu yang juga turut di sokong oleh kaum komunis yang tergabung di PKI dan akhirnya gagal, dan Semaun di buang ke Boven Digul.
Hingga tahun 1923-1926 pemogokan massal dilakukan dari ISDV yang berubah menjadi PKI menggiring VSTP, di karenakan beberapa petinggi VSTP juga menjadi Petinggi PKI pada saat itu. oleh karena ituberakibat  pada aktifitas VSTP, dampaknya keluar peraturan dari Hindia Belanda untuk larangan keras dan pembatasan atas Hak berkumpul, berhimpun dan kebebasan berpendapat dan Pers. Sejak saat ini para buruh kembali berjuang dibawah tanah dan kembali memperbaiki organisasinya.
Setelah pemberontakan pada tahun 1926, maka gerak dari organisasi buruh yang teridentifikasi sebagai relasi dari kaum komunis semakin di awasi oleh pihak Belanda. Serikat Perkeretaapian yang muncul setelah VSTP adalah, Persatoean Beambte Spoor en Tram (PBST) pada tahun 1927 di Bandung. Pada era ini radikalisasi serikat buruh tidak tampak. Para tokoh PBST yang salah satunya adalah Dr.Soetomo yang menyayangkan cara kaum komunis melakukan pemogokan seakan tidak menghiraukan hak dari para pengusaha yang mendirikan pabrik di Hindia Belanda kala itu. Sehingga di bentuklah satu mekanisme yang mengakomodir kepentingan dari kedua belah pihak. Hingga ini berlanjut menjelang perang dunia ke II. Perang dunia ke II yang melibatkan Belanda dalam kubu Sekutu melawan Kubu Fasis memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap serikat buruh.
Pada masa kekalahan Belanda prancis dan Belanda dengan jerman mengakibatkan pergeseran kekuasaan di Indonesia kala itu. hingga akhirnya Jepang mengambil alih seluruh kekuasaan Belanda yang dikalahkan jerman. Jepang menjadi perwakilan kubu fasisme di Asia menutup seluruh potensi perlawanan dari rakyat Indonesia. Kedatangan Jepang benar-benar menutup ruang kemerdekaan dari rakyat Indonesia saat itu, tidak terkcuali kaum buruh yang mengharapkan kemerdekaan sejati segera. Namun tindakan pembesar Jepang yang membubarkan seluruh jenis organisasi tidak terkecuali organisasi buruh dan menawan para pemimpinnya ternyata berhasil menghambat perlawanan rakyat dan kaum buruh.
Hingga akhirnya pemerintah Jepang membentuk organisasi-organisasi yang tersentral dibawah pengawasan pemerintah Jepang. Gerakan buruh pada periode ini lagi-lagi harus mengalami kemunduran yang sangat besar. Kebutuhan akan prajurit di tengah perang dunia saat itu menjadi alasan Jepang untuk menyusun secara cerdik kekuatan rakyat Indonesia untuk membantu Jepang dalam perang. Kampanye saudara tua dengan 3 A nya ( Jepang cahaya asia, Jepang saudara asia, Jepang penyelamat asia) menundukkan beberapa tokoh nasional kala itu tidak terkecuali soekarno dan moh hatta yang mempercayai Jepang akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia dan menjadi bagian dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sedangkan rakyat digunakan sebagai pionir menghadapi sekutu dengan menjadi prajurit perang dengan berbagai organisasi buatan Jepang dan buruh yang memperlancar strategi gerak Jepang serta buruh yang memnuhi logistik perang Jepang.
Kondisi yang memprihatinkan ini bertahan selama tiga setengah tahun mulai dari 1942 sampai 1945. Kondisi yang menghisap besar-besaran dari Indonesia terutama kalangan buruh tidak dapat memicu perlawanan yang begitu besar karena tingkat refresifitas Jepang yang begitu ketat. Sehingga para pemimpin buruh yang diasingkan dan yang masih bersembunyi tidak dapat berbuat banyak saat itu selain memperjuangkan hak-hak untuk bertahan hidup saja.
Pasca kekalahan Kubu Fasis dari kubu sekutu, Jepang harus mengakui kekalahannya dengan luluh lantaknya kota Hirosima dan nagasaki pada 6 dan 9 Agutus 1945 akibat bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat. Yang berbuntut pada kembalinya semangat pejuang, laskar dan pemuda Indonesia untuk memerdekakan Indonesia.
Pada 17 agustus 1945 kemerdekaan Indonesia di proklamasikan di Jl.Pengangsaan Timur dengan tanda tangan Soekarno dan Moh.Hatta sebagai perwakilan rakyat Indonesia kala itu. euforia kemerdekaan menjalar ke seluruh pertiwi Indonesia dan kepercayaan untuk mengambil alih kemerdekaan sepenuhnya membangkit kembali semangat kaum buruh Indonesia. Dengan kepemimpinan oleh soekarno dan Hatta pada era Jepang dalam mencicil kemerdekaan dengan jalur konfromis dengan Jepang. Padahal sebelumnya para kaum muda yang terdiri dari kaum sosialis, komunis dan nasionalis sudah mendengar kejatuhan Jepang dari radio BBC, sehingga sutan Syahrir kala itu mengumpulkan para pemuda untuk mendiskusikan perihal pentingnya memanfaatkan momentum ini. sehingga kaum muda saat itu membawa soekarno dan Hatta dari kediamannya ke daerah Rengasdenglok untuk membicarakan hal tersebut. Setelah perdebatan yang cukup panjang kaum muda berhasil meyakinkan dan menjamin keamanan soekarno dan moh. hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan RI yang diselenggarakan dirumah soekerno di jakarta secara sederhana.
Serikat buruh perkeretaapian yang mengalami degradasi hingga setelah kemerdekaan membentuk organisasi serikat buruh perkeretaapiannya kembali. Serikat buruh perkeretaapian (SBKA) di lahirkan pada 13 maret  1946 yang kemudian berafiliasi ke SOBSI pada kongres buruh pada 29 November 1946 dari persatuan serikat buruh GASBI (Gabungan Serikat Buruh Indoenesia) dan GSBV( Gabungan Serikat Buruh Vertikal). Selain dari SOBSI yang memiliki relasi ke PKI. Persatoean Kaum Buruh Kereta Api  (PBKA) yang terdaftar di Kementrian perhubungan pada tahun 1956 masuk ke KBSI (Kongres Buruh Seluruh Indonesia) yang berafiliasi ke PSI.

Berdirinya Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Berdirinya Vereeniging Van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) pada tahun 1908 di Semarang  yang kemudian menjadi militan dan radikal tidak lepas dari pergumulan ideologis di Internasional. Merebaknya pertentangan antara Paham Kapitalisme dan  paham Komunisme di dunia menghasilkan perang dingin berkepanjangan sejak di mulainya Perang Dunia I, dan komunisme melalui setiap kader partai terus menyebarkan paham itu. Kondisi ini mempengaruhi masuknya paham komunisme di Indonesia karena dibawa oleh seorang komunis Belanda Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet datang Setelah 1913 dari Belanda dan segera menjadi Propaganda VSTP pada setahun setelah beliau datang ke Hindia Belanda. Pada awalnya VSTP hanya menjadi organisasi buruh Belanda maka baru pada tahun 1914 organisasi ini menjadi satu organisasi yang menjadi manifestasi kegelisahan buruh kereta api secara universal di Hindia Belanda. Dengan mengangkat Semaun menjadi salah satu murid ideologisnya. Pengaruh komunis mulai berdampak pada gerakan organisasi buruh ini.

Fase Kolonial Belanda dan Fasis Jepang (1926-1945).
Perkembangan dari VSTP yang di rintis oleh Semaun terus bertambah hingga Sumatera. Menurut Edi Cahyono di (2003:117) pada tahun 1920 mulailah VSTP masuk ke Pantai barat Sumatera dan lingkungan perkebunan Deli yang di usahakan Oleh DSM. Masuknya VSTP ke Sumatera tidak luput dari perluasan SI yang juga dimasuki oleh Semaun kala itu. selain kondisi dari tenaga buruh yang jauh dari kata sejahtera saat di kelola oleh DSM dengan cara yang rasis kepada buruh pribumi. Oleh karena itu VSTP dengan cepat bisa masuk ke perkebunan Deli dan merekrut anggota dari DSM.
Penuturan dari beliau sekali lagi hanya memperlihatkan dinamika secara umum, dan banyak mengulas kondisi gerakan di Jawa. Dan kondisi gerakan di luar Jawa dan keterlibatan dalam aktifitas pemberontakan 1927 juga tidak jelas tertulis.
Wawancara dengan Edi Sartimin, “kondisi pergerakan serikat buruh di ketahui dari cerita pegawai senior DSM saat itu Sarekat Islam yang berkembang, turut membawa pengaruh kepada perekembangan Serikat Buruh Kereta Api di Sumatera Timur. Itu karenanya ada dulu tokoh buruh yang terkenal masuk ke kesini pak Iwa Kusumasumantri yang jadi menteri tenaga kerja waktu zaman pak karno.”
Dari wawancara ini penulis berpendapat untuk seseorang yang menerima informasi Edi Sartimin cukup memahami fakta sejarah dengan mengucapkan Sumatera Timur untuk Sumatera Utara yang pada saat itu disebut. Namun  Tapi tidak terlalu begitu masif menjelaskan bagaimana dinamika gerakannya karena pada saat itu dari data yang lain zaman SI memang ada kedatangan perluasan serikat buruh namun tidak berkembang karena di huni oleh pegawai rendahan dan di kekang dengan aturan yang kuat, sedangkan buruh dari sektor lain juga masih minim. Sehingga tidak begitu membesar saat itu.
Setelah tahun 1923 Pergerakan VSTP yang radikal akibat berafiliasi dengan Indisch Social-Democratische Vereeniging (ISDV) yang bercorak Komunis, mulai mengalami kemunduran karena refresif dari Kolonial Belanda akibat Pemogokan-Pemogokan massal yang dilakukan VSTP. Pemogokan yang mengusung kondisi kerja sering kali menjadi isu yang berkembang di tengah kondisi buruh saat itu. sehingga pada tahun 1926 tenaga buruh dari Jawa dan sumatera barat mengadakan pemogokan massal dan di kenali sebagai bagian aktifitas PKI saat itu menjadikan VSTP mengalami kemunduran dan kehancuran.
Setelah kehancuran VSTP serikat buruh di Sumatera Utara saat itu juga mengalami kemunduran, hingga serikat buruh mulai membesar pasca kemerdekaan, selain terlibat pada masa pemogokan tahun 1926-1927 karena lebih dekat pada gerakan politik ISDV. Keterlibatan serikat buruh terutama VSTP saat itu dengan serikat buruh perkebunan melaksanakan pemogokan guna mengoncang kondisi ekonomi Belanda saat itu. hingga pada saat Sumatera Utara dibawah kendali masa Jepang terutama  atas perusahaan kereta api juga diambil alih oleh Jepang. M Yusuf (2001:36) menerangkan Hal ini dikarenakan masuknya tentara Jepang ke Sumatera Utara berhasil menawan petinggi-petinggi DSM setelah Belanda dan sekutu jatuh ketangan jerman. Dan akhirnya tentara Jepang menggantikan sepenuhnya orang Belanda di Perusahaan kereta api ini. dan Kantor besar DSM di jadikan markas tentara Jepang ( Nippon Military Railway).
Pada 2 April2015 wawancara dengan  Adam ketua DPD SPKA DIVRE  I SU-NAD menjelaskan “ kalau dulu pada masa Jepang masuk ke Sumatera tak ada kelihatan aktifitas Serikat buruh di kereta api ini. Bahkan dulu senior-senior yang udah pendiun itu ceritanya pekerjakan secara tidak manusiawi dengan menjalankan kereta api dengan begitu masif , tak ada berentinyalahkereta itu hilir mudik, sehingga jalur Medan Pangkalan Brandan termasuk jalur yang padat dulu, tapi kini tinggal rel ajalah, tak ada kereta yang kesana lagi”.
Wawancara dengan ketua SPKA, penulis dapat menganalisa ketika Jepang berkuasa, seluruh aktifitasnya adalah mempersiapkan logistik terutama Minyak dari Pangkalan Brandan untuk dibawa melalui Belawan. Dan itu terus berlanjut hingga saat Jepang di bom atom oleh Amerika Serikat dan menyerah tanpa syarat pada sekutu waktu itu. Namun di Medan baru di ketahui setelah bulan oktober 1945 proklamasi berkumandang di Sumatera Utara. Dan proklamasi ini di dukung dan dimeriahkan oleh seluruh rakyat saat itu tidak terkecuali pegawai DSM yang begitu semangat membantu dilaksanakannya pembacaan proklamasi.


Fase Orde Lama (1945-1965).
Kondisi ini berhasil memicu rasa nasionalisme dari buruh kereta api, seperti yang dilakukan oleh Ahmad Tahir seorang masinis Muda Pribumi, pada 4 oktober 1945 dengan memberntuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI) Ahmad Tahir sebagai ketua I bersama Abdul Malik Munir dari Kepanduan Hisbul Wathan dari Muhammadiyah mengadakan rapat umum di lapangan Fukuraido (Lapangan Merdeka Sekarang) untuk menyampaikan semangat proklamasi dan membacakannya bersama Mr.T.Moh Hasan selaku gubernur pertama Sumatera kala itu.
Setelah kemerdekaan pada 17 agustus 1945 kondisi perusahaan kereta api tidak langsung menjadi hak pribumi. Kembalinya sekutu ke Indonesia ternyata memiliki kepentingan untuk mengembalikan kolonialisme di Indonesia juga terjadi di Sumatera Utara. Tentara Sekutu yang membonceng Netherland Indie Civil Administration (NICA) berniat mengabil kembali Sumatera Utara dan kekuasaannya, tidak terkecuali perusahaan kereta api juga. Dengan menumpang kapal perang HMS Venus Inggris mereka masuk ke Sumatera Utara. Dan mereka berhasil kembali masuk dan mengambil alih perusahaan kereta api. Dan meninggkatkan aktifitas kereta api untuk mencapai keuntungan yang besar setelah di kuasai Jepang. Hal ini dilaksanakan dengan peningkatan aktifitas pemberangkatan kereta api, peningkatan tiket penumpang dan barang dan lain sebagainya.
Bahkan Menurut dari Edi Sartimin , “kaum buruh saat itu  kembali membentuk organisasi-organisasinya selain turut membantu para pejuang yang berjuang dengan senjata, kaum buruh juga mengadakan pemogokan, sabotase dan metode lainnya untuk menggagalkan Belanda kembali ke Indonesia, setelah pada masa jepang berkuas tak berkutik dan hanya bergerak di bawah tanah”.
Wawancara itu penulis melihat bahwa Semangat itu di ikuti dengan kedekatan organisasi Serikat buruh saat itu dengan laskar-laskar  rakyat yang memperjuangkan Sumatera Utara, terutama kota Medan saat perang Medan Area. Tugasnya adalah memasok logistik bagi para laskar yang di dapat dari gudang-gudang DSM saat itu. Pasca merdeka banyak bermunculan organisasi serikat buruh di DSM seperti SBKA yang komunis, PBKA dari Sosialisnya PSI, GOBSIIND dan KBIM yang bernuansa islam.
Setelah Merdeka SBKA yang ada sejak 1946 harus mengalami persaingan ideologis dengan PBKA pada awal-awal kemerdekaan. Menurut Adam, SBKA yang tergabung di SOBSI dekat dengan PKI yang memonopoli hampir semua kebijakan perkeretaapian saat itu. Sedangkan PBKA yang tergabung di KBSI dan dekat dengan KBSI yang saat itu di pimpin oleh Syahrir. Namun mereka terkesan akrab dalam Dewan Perusahaan yang mempunyai hak meminta kebutuhan buruh dari DSM saat itu. Dan modernisasi lokomotif merupakan jasa mereka saat itu.
Setelah kemerdekaan serikat buruh perkeretaapian di Sumatera Utara kembali muncul setelah Agresi Militer Belanda yang pertama menghancurkan pertahanan pejuang Indonesia terutama ke daerah Pangkalan Berandan. Di tahun 1952 setelah kondisi kembali normal seorang anak masisnis yang bernama sudirman segera membentuk serikat buruh perkeretaapian yang baru. Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) mulai disusun sebagai organisasi gerakan buruh yang baru. Kemudian dia menyusun seluruh struktur. Gerakan ini dibuat untuk memperjuangkan hak dan nasib buruh kereta api yang tak kunjung sejahtera di buat oleh pengusaha Belanda DSM. Organisasi ini bertambah besar setelah para buruh menjelang agresi militer Belanda ke dua di ungsikan, selain untuk keamanan keuntungan tersendiri bagi SBKA adalah para buruh kereta api disebar kemasing-masing stasiun untuk membentuk kekuatan dan struktur organisasi SBKA yang lebih luas di seluruh stasiun kereta api yang di kelola oleh DSM.
Dan pada massa Agresi militer Belanda yang kedua, di Medan banyak pegawai yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bersama laskar-laskar dan tentara yang baru saja dibentuk pada saat itu dalam mempertahankan Medan di perang Medan Area.
Pergerakan  SBKA itu terus berlanjut hingga kepemilikan seluruh kereta api di kelola oleh Negara setelah isu nasionalisasi besar-besaran di sebarkan pada tahun 1957-1958. Malalui usaha SBKA salah satu pimpinannya mengadakan pertemuan dengan pihak DSM. Djuned Nasution pegawai pribumi yang menginginkan agar Belanda secepatnya menyerahkan Pengelolaan Kereta api kepada buruh yang merasakan Indonesia telah merdeka, dan pihak Belanda sudah tidak berhak untuk mengelola kereta api setelah sekian lama menjajah Indonesia terutama daerah Sumatera Utara. Dengan dalih bahwa Djuned Nasution adalah pegawai rendahan Belanda enggan memberikan tuntutan itu, baru setelah diwakili oleh mester masri seorang staff DSM saat itu baru mereka mau tidak mau menyerahterimakan pengelolaan kereta api kepada buruh dan rakyat Indonesia.
Setelah dinasionalisasi pengelolaan DSM dibantu oelh Penguasa Perang Kodam II/Bukit barisan (sekarang Kodam II/BB) dengan menugaskan Mayor Nokoh Bangun membantu sebagai perwira pengawas. Setelah itu menggantikan mester masri yang memasuki masa pensiun lalu mengubah DSM menjadi perusahaan Eks DSM, kemudian pada 1964 mengubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) saat beliau menjabat pimpinan tertinggi yaitu Kepala Eksploitasi. Lalu Nokoh Bangun yang mengubah namanya menjadi nokov bangun membangun organisasi pengelola PNKA dengan mengadakan rapat dengan para buruh kereta api dan Perwira PP Kodam II/BB.
SBKA Merupakan Satu dari berbagai serikat buruh perkeretaapian yang berdiri di Sumatera Utara kala itu dengan keangotaan terbanyak sekitar 78% di Sumatera Utara setelah dilakukan sensus oleh kepala personalia  PNKA ESU Paten (pens) chkristofel sihombing pada Juni 1965 , diantaranya adalah Persatuan Kaum Buruh Kereta Api (PBKA) yang dekat dengan Soksi berjumlah 12 %, Kongres Buruh Merdeka (KBM) sekitar 6 %. Gabungan organisasi Buruh Sarekat Islam Indonesia (GASBIINDO)  sebanyak 3%. Dan jumlah 1% buruh kereta api tidak mengikuti organisasi buruh perkerta apian kala itu.

Fase Orde Baru (1965-1970).
Konstelasi politik di Indonesia berubah ketika pembunuhan 7 Jendral dari angkatan darat pada malam 1 Oktober 1965 yang membuat PKI Indonesia sebagai satu-satunya Organisasi yang bertanggung Jawab atas aktifitas itu. tragedi yang dilaksanakan Tjakrabirawa ini sebenarnya masih menjadi tanda tanya tentang keterlibatan unsur-unsur lainnya. Namun hal itu terkesan tidak perlu dibuka oleh pemerintah yang sedang kalut. Sehingga Mayjend Soeharto yang kemudian menjadi presiden Indonesia mengambil alih penuh penuntasan malam 1 Oktober 1965 itu.
Dampaknya bagi Organisasi Buruh secara umum terutama serikat buruh Kereta Api setelah itu adalah pembredelan besar-besaran. Hal ini dilakukan pertama kali kepada organisasi yang terbaca dan di kira sebagai bagian dari PKI adapun organisasi tersebut adalah sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Keboedajaan Rakjat (LEKRA), Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI), Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Pemoeda Rakjat (PR). Menjadi buruan dari militer yang memegang kendali.
SBKA yang bergabung dalam federasi SOBSI juga tidak lepas dari pembredelan. Dan seluruh pemimpin SBKA ditangkap dan dibuang ke daerah pengasingan. Di Sumatera Utara pada 3 oktober 1965 seluruh Pengurus SBKA ditangkap dan ditahan di kantor kodim Medan dan yang berhubungan dengan tragedi malam 1 oktober 1965 itu ditahan. Hal ini juga berlangsung sampai penahanan ke pengurus tingkat stasiun. Setelah terbukti terlibat dalam aktifitas PKI mereka ditahan dan di pecat dari PNKA. Dan seluruh fasilitas yang diberikan oleh PNKA di cabut, mulai dari Rumah, Jatah sembako ditarik atas perintah militer.
Pengungkapan sejarah atas traagedi memilukan 1 oktober 1965 atau dalam beberapa tulisan sejarah di kenal dengan malam Gerakan 30 September PKI (G 30 S PKI) menjadi satu hal yang menyisakan luka yang kelam bagi buruh kereta api di Sumatera Utara saat itu. hal ini dikarenakan masih banyak anggota yang tidak mengetahui gerak politik pimpinan pusat SBKA yang telah berafiliasi ke SOBSI. Keterlibatan pasif dari anggota juga menjadikan mereka tidak mengetahui bahwa pimpinan Pusat dari SBKA bukan berada di Medan, namun berada di Bandung. Dengan kerangka solidaritas yang kuat diantara sesama buruh kereta api, banyak buruh yang pernah bersolidaritas membantu SBKA karena merasa telah memperjuangkan hak mereka di anggap terlibat, tahu dan ikut dalam peristiwa itu.

Dinamika gerakan Serikat Buruh Perkeretaapian dalam Memperjuangkan hak-hak Kaum Buruh Kereta Api di Sumatera Utara tahun 1926-1970.
Perkembangan politik dalam kondisi kekinian, peran buruh mulai cukup di perhitungkan dalam dinamika politik nasional, dan ini tidak saja terjadi di era sekarang akan tetapi sejak zaman kolonial Belanda serikat buruh cukup memiliki andil dalam kancah perpolitikan di negeri ini.Dan pertarungan politik secara langsung dengan colonial Belanda, yang di mulai pada era SS, VSTP, PBST, SBKA dan PBKA mengalami mutasi kontadiksi dengan pertarungan Ideologi yang membesar pada era orde lama. Kekuatan Ideologi Nasionalisme, Komunisme dan Islam menjadi 3 poros besar pembagian arah dari buruh saat itu dan tidak terkecuali buruh kereta Api.
Namun secara keumuman serikat buruh ini lahir akibat kondisi perburuhan yang sangat mengkhawatirkan keberlanjutan hidup dari buruh itu sendiri, dengan kata lain pekerjaan yang diberikan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup dan tidak dapat memberikan hak hidupnya sebagai manusia yang normal. Sehingga konflik antara pengusaha terutama di kereta api dengan buruhnya semakin meruncing hingga kaum buruh melakukan tuntutan dengan metode-metode mereka yang memiliki aliran tiga ideologi besar di Indonesia kala itu.


Aktifitas Organisasi Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.

Fase Kolonial Belanda dan Fasis Jepang (1926-1945)
Buruh kereta api baru mulai berserikat pada awal tahun 1920an. Dengan masuk kedalam serikat buruh VSTP saat itu banyak buruh yang mengharuskan dan mempatutkan diri untuk sesuai dengan arahan dan cita-cita serikat buruh itu sendiri.
Ketertiban dalam berorganisasi adalah salah satu faktor penting keberhasilan perlawanan serikat buruh terhadap kolonial Belanda kala itu. berbeda dengan perlawanan sebelum adanya organisasi, perlawanan yang sparatis dan tidak terorganisir membedakan secara jelas bagaimana pola aktifitas dari pejuang dan aktifis buruh itu sendiri. Sebagai organisasi barang tentu VSTP memiliki AD/ART atau Statuten sebagai konstitusi atau panduan dalam menjalankan roda organisasi itu sendiri. Dan bagaimana mengatur struktur organisasinya agar koordinasi dan komunikasi dapat berjalan dengan lancar dan dapat membantu terlaksananya maksud dan cita-cita organisasi itu sendiri.
Semaun (2013:39) sebagai pemimpin VSTP pada 1914 menuturkan bahwa ihktiar, alat dan senjata serikat buruh adalah bagaimana melihat pemogokan umum. Namun sebalum pemogokan Semaun menganjurkan untuk membenahi organisasi terlebih dahulu. Misalkan untuk menjalankan serikat buruh VSTP Semaun mencontohkan Anggaran dasar VSTP pada pasal 11 yaitu :
a)                       Mengumpulkan bukti-bukti yang berhubungan dengan pekerjaan, umpamanya diJawatan kereta api dan trem. Bukti-bukti ini bisa dijadikan sarana untuk menuntut keadilan dalam memperbaiki semua aturan kerja pada pembesar-pembesar.
b)                       Memberikan pertolongan dan bantuan uang, pada anggota –anggota serikat buruh. Pertolongan dan bantuan ini akan ditentukan dalam pasal-pasal aturan internal atau oleh pertemuan umum tahunan.
c)                       Menerbitkan media (surat kabar, majalah) yang akan memuat semua berita yang berhubungan dengan kerja serikat buruh.
d)                       Membantu dan mengumpulkan semua perkumpulan yang dianggap bisa menolong atau memberi jalan terang bagi tercapainya tujuan –tujuan serikat buruh.
e)                       Memberikan advokasi pada anggota yang mengalami perkara berkaitan dengan pekerjaannya.
f) Mengeluarkan undang-undang yang bermanfaat untuk kaum buruh, terutama untuk para sopir dan karyawan trem.
Dalam anggaran dasar ini Semaun mencoba menegaskan betapa kerukunan di dalam serikat buruh akan menambah daya juang dari serikat buruh itu sendiri. Selain itu aturan lain tentang struktur organisasi juga disampaikan Semaun di dalam buku yang sama (2013:47) misalkan untuk kenggotaan dan syarat terbentuknya satu komite yang disebutkan pada pasal 6 Anggaran dasar yang berbunyi : “cabang dari perkumpulan bisa diadakan ditempat dimana paling sedikit ada 10 orang anggota dan seterusnya’. Lalu beliau juga menjelaskan bagaimana struktur minimal yang harus di bentuk oleh serikat buruh VSTP yaitu pengurus (majelis)cabang-cabang dikepalai oleh Ketua dibantu oleh sekretaris dan bendahara serta dua atau lebih komisaris yang mengurus kebutuhan dan peraturan organisasi serikat buruh.
Menurut hasil wawancara pada 13 juni 2015 dengan Astaman Hasibuan “ struktur kerja  dalam organisasi kereta api sebelum merdeka dulu pake cara kerja sama antar cabang maka dibutuhkan rapat atau sidang setahun paling sedikit, dan cabang mengirimkan wakil-wakilnya untuk memilih pengurus besar akan dilaksanakan pada kongres tahunan yang mengumpulkan wakil-wakil dari cabang-cabang yang membawa usulan, kemauan dari masing-masing cabang untuk dibicarakan, jadi ketua cabang, biasanya milih Sekretaris atau Komisaris ranting untuk ikut mendampingi beliau dalam kongres itu. Jadi anggota masih bersifat pasiflah dalam kegiatan gerakan karena mereka harus terpilih dengan pendidikan yang ada dibuat pimpinan. Nah aku tidak ingat kali siapa tokoh-tokoh yang ada disitu. Tapi yang dapat kuingat dari cerita dan buku yang pernah kubaca terutama buku bung Aidit judulnya dulu Sejarah Gerakan Buruh Indonesia, tahun 1920 sudah ada masuk kereta api di sumatera utara ini”.
Dari wawancara itu penulis melihat bahwa ikatan SI dengan pembangunan Serikat Buruh itu cukup tajam. Karena itu ada Moehammad Samin yang menjadi komisaris di Sumatera Utara untuk SI.
Sumber yang dapat di kumpulkan memperlihatkan bahwa dinamika kepengurusan serikat buruh kereta api ini memiliki struktur yang sangat sederhana untuk diawal. VSTP yang berdiri diawal adalah CJ.Huishoff sebagai presiden serikat, dan H.W Dekker sebagai Sekretaris pada 1908 sebagai Hoofdbestuur (Komite Eksekutif Nasional) . Hasil itu didapat dari Bestuursvergadering (Rapat Dewan Eksekutif).
Lalu setelah itu bergeserlah pada periode berikutnya dengan dilaksanakan Bestuursvergadering pada tahun 1913 yang kemudian memilih Snevliet sebagai presiden berikutnya dan Semaun sebagai perwakilan pribumi menjadi Sekretaris.
Seiring berkembangnya waktu pada rapat dewan eksekutif berikutnya tahun 1918 semaun menjabatlah sebagai presiden VSTP dan Kadarisman sebagai Sekretarisnya.
Pengurus pusat akan dipilih untuk mengkordinasikan seluruh cabang bedasarkan pasal 8 anggaran dasar yang berbunyi : “ pengurus besar terdiri dari 15 orang anggota yang dipilih oleh kongres tahunan”

Selain memberikan petunjuk soal bagaimana menjalankan organisasi secara umum, semoen (2013:56) juga menunjukan pentingnya adminstrasi, terutama pengurusan buku-buku organisasi. Adapun buku yang harus di buat adalah, buku kas (Uang masuk dan keluar), Arsip organisasi (persidangan, urusan keanggotaan, urusan belanja dst),  Notulensi rapat organisasi. Semaun juga tidak lupa mengingatkan tentang penting Serta dibutuhkannya pembubuhan nomor surat dan nomor bundel arsip untuk kerapian administrasi organisasi.
Selain menjalankan aktifitas formal organisasi VSTP juga menjalankan aktifitas keorganisasian yaitu menerbitkan propaganda sebagai bentuk pendidikan kepada anggota dan massa luas. Hal ini selain untuk mendidik para anggota untuk mengenal lebih jauh organisasi juga permasalahan serta pandangan organisasi tentang kondisi Hindia Belanda saat itu juga sebagai wadah rekrutasi bagi kalangan buruh lainnya.
Fase Orde Lama (1945-1965).
Setelah kemerdekaan gerakan buruh perkeretaapian baru muncul pada tahun 1952 setelah DN Aidit mendirikan kembali PKI di Indonesia, dan SKBA yang kemudian beafiliasi dengan SOBSI menjadi salah satu serikat buruh terbesar. Terutama di Sumatera Utara Setelah Serikat Buruh Perkebunan (SERBUPRI), SBKA merupakan organisasi yang terbesar.
Menurut wawancara dengan  Astaman Hasibuan 75 tahun yang merupakan Wartawan Harian Harapan dan aktif di LEKRA antara tahun 1962-1965. “Sebelum ada serikat buruh perkebunan, Serikat Buruh VSTP pada tahun 1918-1920 sudah ada di Sumatera Utara. Itu dibawa orang jawa dulu mengenalkan serikat buruh itu, kebetulan mereka dekat dengan Sarekat Islam dulu yang membesar di jawa itu, kok anda tau serikat buruh itulah Organisasi klas buruh pertama yang lahir di Indonesia sejak tahun 1908 secara nasional”. Penulis berpendapat, dari wawancara itu bahwa Serikat Islam yang memiliki faksi sosialis didalamnya dapat mengembangkan serikat buruh kereta api di Sumatera Utara yang waktu itu disebut Sumatera Timur senada dengan apa yang disebut oleh Takashi Siraishi (2005:156) bahwa dalam komisaris yang bertugas di Sumatera Timur adalah Mohammad Samin.
Astaman Hasibuan menyatakan Struktur SBKA waktu itu di pimpin oleh ketua dan sekretaris dengan hirarki kepengurusan dari tingkat ranting yaitu mereka yang bekerja di Stasiun yang dipimpin komisaris. Di tingkat cabang dipimpin oleh ketua, sekretaris dan bendahara, di tingkat nasional dipimpin oleh Sekretaris Jendral yang waktu itu di jabat oleh Bung Singgih hingga 1957,  keanggotaan SBKA secara nasional berkisar 60.000.

Dari wawancar itu , penulis cukup banyak mendapat informasi baru tentang narasumber , namun hanya dapat melihat dinamika SBKA waktu itu. karena memanag SBKA cukup mendominasi dalam gerakan sserikat buruh waktu itu karena kubu sosialis komunis mendapat massa yang sangat besar anta tahun 1950-1965. Sedangkan untuk di perusahaan tingkat cabang Sumatera Utara yang selain SBKA, ada PBKA, GOSBIINDO, KBIM turut meramaikan pengaruh serikat buruh kepada perusahaan. Dengan total keanggotaan di Medan saat itu kurang lebih 1500 pegawai terlibat di SBKA waktu itu. hingga malam 1 oktober 1945 semuanya bubar karena ditangkap.
Kondisi Peembersihan unsur komunis itulah yang menghambat penulis menemukan sumber-sumber langsung dari SBKA, karena semua yang berkaitan dengan unsur komunis saat itu baik data organisasi, dokumen-dokumen dan lain sebagainya telah dihilangkan saat itu.

Perjuangan Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Secara nasional konstelasi politik pada Buruh sangat keliatan, terutama setelah ramai-ramai federasi buruh berkerja sama dengan partai-partai yang ada saat itu. SBKA yang berafiliasi ke SOBSI, di indentifikasi menjadi ormass dari PKI yang terus dianggap merongrong kedaulatan Nasionalisme Indonesia.Juga berhadapan PBKA yang berafiliasi dengan KBSI yang juga memiliki pandangan sosialis dengan Partai Sosialis yang menjadi partai yang memiliki kedekatan dengan mereka.Namun kecendrungan monopoli gerakan buruh oleh SOBSI menjadikan KBSI dan KBKI yang dekat dengan PNI menjadi bertentangan dalam setiap keputusan.Dan yang terparah adalah saat politik demokasi parlementer dengan tingginya dinamika politik semakin mengkrucutkan pertentangan antara serikat buruh.Baru pada 1958, ketika nasionalisasi yang di kembangkan isunya oleh SOBSI sebagai sikap menaggapi keputusan KMB yang merugikan rakyatlah terjadi persatuan dari kaum buruh.
Namun sebelum kondisi politik Indonesia meruncing Aktifitas perjuangan terus berjalan dari tingkat pusat hingga ranting di SBKA. Seperti keterlibatan buruh dalam menentukan kebijakan perburuhan di pabrik. Menurut Astaman Hasibuan pada fase ini klas buruh memiliki nilai tawar yang cukup kuat di tengah kapital asing dan nasional. Misalkan di SBKA dengan adanya dewan Perusahaan yang menjadi tempat berdiskusinya Semua serikat buruh yang ada di Sumatera Utara saat itu untuk tingkat perusahaan. Mereka berwenang memilah kebijakan dan kelayakan upah yang diberi oleh pengusaha saat itu. saat itu tenar istilah Natura yaitu istilah buat 9 bahan pokok dari buruh yang harus diberikan oleh pengusaha. Ini juga diawasi dengan kualitas dari bahan-bahan itu sendiri, kalau tidak baik dan patut diberikan kepada buruh maka itu akan dikembalikan.
Namun hal ini bukanlah satu keaadan yang tiba-tiba datang kepada buruh di Sumatera Utara. Ada berpuluh kali aktifitas mogok yang dilakukan oleh serikat buruh. Selain itu kondisi yang berbeda sedari kondisi para era kolonial Belanda juga memperlihatkan bagaimana semangat SBKA yang berhasil membakar rasa kepercayaan buruh untuk merebut haknya. Karena saat itu pengurus dari SBKA melihat bahwa perampasan dari buruh bukan saja atas pengurangan jatah upah, dan bahan pokok. Tapi lebih lanjut menurut astaman Hasibuan “ Kapital itu jahat, sistem itulah yang merebut Nilai lebih dari buruh. Yaitu kelebihan waktu kerja buruh yang tidak dibayarkan kepada buruh itu oleh pengusaha Belanda, sama kaya sekarang Pengusahanya Licik” .
Dari hasil wawancara penulis mengambil  kesimpulan  , bahwa Saat itu ada berbagai tuntutan normatif yang menjadi kegelisahan buruh dan di advokasi oleh SBKA antara lain, waktu 8 jam kerja, upah yang layak tiap bulannya, pendistribusian sembilan bahan pokok buruh yaitu kebutuhan Sandang, Pangan, dan kebutuhan tempat tinggal yang layak bagi buruh kala itu, selain itu jaminan atas pendidikan keturunan buruh juga menjadi tuntutan saat itu. Mogok dan sabotase seperti memperlambat aktifitas kerja merupakan metode-metode yang dipakai buruh untuk menekan pengusaha Belanda dan pemimpin Eks DSM ketika tidak memberikan hak mereka. 
Selain tuntutan normatif buruh juga memiliki tuntutan politik antara lain kebebasan berpendapat dan berserikat. Dan setelah merdeka dan selesai mempertahankan kemerdekaan dari gempuran Belanda melalui Agresi militer I dan II, Perjanjian yang merugikan Indonesia, Renville, Roem-Royen hingga KMB yang mengembalikan Belanda ke Indonesia maka, semangat buruh hingga pada pertengahan  tahun 1958 SBKA mengadakan mogok untuk meminta pemimpin DSM memberikan sepenuhnya Pengelolaan Kereta Api kepada Pribumi. Djuned Nasution kala itu menekan DSM untuk keluar dari perusahaan itu. namun pihak Belanda yang mengadakan diplomasi tidak meu mengakui pegawai rendahan DSM itu dan meminta pegawai pribumi yang lain untuk menerima tuga itu, maka mester masri saat itu disepakati untuk menerima DSM sebagai perwakilan pihak Indonesia
Peran serta SBKA dalam memperbaiki Kereta api Sumatera Utara juga cukup memberi dampak yang signifikan. Pada masa peralihan PNKA dari Eks DSM tahun 1964 menurut M.Yusuf (2011:97) kereta api uap menglami banyak kerusakan dan laporan dari nokov bangun kepada direksi PNKA bandung juga tidak mendapat perhatian yangs serius. Baru pada februari 1965 pengurus SBKA mendatangi menteri perhubungan darat, pos, telekomunikasi dan parawisata ( Menteri PDPTP) Letjen hidayat. Dan ketua SBKA saat itu M Sarip mendapat angin baik dari Letjen Hidayat yang mengatakan akan mendisielisasi PNKA ESU. Dan ini terlaksana pada ulang tahun PNKA 28 september 1965 lokomotif diesel pertama datang ke Sumatera Utara dan di uji coba di stasiun brayan saat itu.
Nokov bangun dan Djuned Nasution naik di atas lokomotif untuk meresmikan perjalanan perdana lokomotif ini dan akhirnya PNKA ESU memiliki 4  lokomotif diesel yang di hibahkan dari PNKA Bandung.
Perjalanan politik di Indonesia pasca pemilihan umum 1955, SOBSI yang dekat dengan PKI terus memperluas kekuatan organisasi buruhnya. Hingga pada awal tahun 1960-an  berdirinya SOKSI sebagai serikat buruh yang di sponsori oleh kalangan angkatan darat untuk melawan SOBSI. Hal ini adalah satu konskuensi dari pertarungan ideology yang semakin mengkrucut. SOBSI yang di anggap sebagai underbow PKI terus di serang hingga terjadi peristiwa pembunuhan 7 Jendral angkatan darat, semua kader dan simpatisan PKI dan termasuk SOBSI ditangkap dan dihabisi oleh militer.
Dan pada tahun 1966-1970 aktifitas dari SBKA dilarang dan serikat buruh ini mengalami kehancuran beserta kehancuran organisasi buruh lainnya yang dianggap memiliki kedekatan dengan PKI. Hingga akhirnya habislah aktifitas dari serikat buruh kereta api di suamtera utara.

Temuan Penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang masih memiliki pemahaman atas aktifitas serikat buruh kereta api adalah mereka yang dahulu berhubungan dengan organisasi serikat buruh, terutama yang tinggal hanyalah mereka yang hidup antara tahun 1920-1950.  Penuturan Edi Sartimin tentang serikat pekerja pada masa Hindia Belanda di Sumatera Utara di peroleh dari cerita pegawai terdahulu dan pengurus lama serikat buruh kereta api, lahirnya serikat buruh kereta api di bawa oleh VSTP melalui SI yang masuk pada kisaran tahun 1920. Menurut beliau aktifitas serikat buruh perkeretaapian pada masa Hindia Belanda, menjadi satu organisasi yang melawan Belanda dengan pemogokan dan analisa marxisme. Dan peristiwa yang penting terjadi pada aktifitasnya mencolok pada tahun 1950-1960 dimana pada masa orde lama serikat buruh perkeretaapian yang eksis adalah SBKA. Aktifitas SBKA sendiri memiliki terobosan atas peningkatan kesejahteraan buruh dan teknologi kereta api itu sendiri. Aktifitas pemogokan hampir terjadi sebulan sekali saat itu sehingga SBKA dapat menuntut hak-haknya secara penuh. Menurut Edi Sartimin kembali bahwa SBKA merupakan organisasi yang berpusat di Medan, dan tidak memiliki kaitan dengan organisasi yang lain seperti yang di perlihatkan selama ini dekat dengan PKI. Dan setelah tanggal 1 oktober 1965 itulah seluruh anggota SBKA dan pegawai kereta api yang pernah berhubungan dengan SBKA di tangkap dan di pecat hingga akhirnya SBKA dibubarkan. Menurut bapak Edi Sartimin mengingat masa lalu yang kelam dengan stigma PKI kepada setiap pegawai Kereta api yang dekat dan berhubungan dengan SBKA adalah satu hal yang tidak manusiawi karena saat beliau menjadi pegawai aktifitas nya hanyalah bekerja dan melakukan tuntutan dari serikat buruh di Medan yang saat itu bersatu dalam satu dewan perusahaan sehingga merupakan satu hal yang di paksakan mereka dianggap sebagai PKI.
Selain itu dari bapak Astaman Hasibuan yang dahulu aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat dan sempat menjadi tahanan politik pada tahun 1965 hingga tahun 1972. Menurut beliau VSTP lahir di tanah Deli adalah dari semangat Sarekat Islam yang kala itu terdapat kaum revolusioner didalammnya. Semaun yang pada saat itu memimpin SI Semarang mampu memberikan perluasan pemahaman hingga ke sumatera timur.
Selain aktif di Lekra beliau juga aktif di harian Harapan dari tahun 1962-1965. Dan sebelumnya beliau aktif di Lekra Pematang Siantar. Beliau mengenal SBKA di karenakan kedekatan yang menurut beliau “Ideologis”, pada saat itu sudirman sebagai tokoh penting pembangunan SBKA. Dari kedekatan dengan SBKA lah beliau banyak mengetahui tentang bagaimana aktifitas serikat buruh perkeretaapian saat orde lama, menurut beliau di dalam perusahaan kereta api saat itu terdapat Dewan perusahaan yang punya akses dalam mengintervensi kebijakan dalam perusahaan dan dari hasil perjuangan itulah diperoleh pembagian 9 bahan pokok. Selain itu aktifitas mogok dilakukan bukan saja dalam menuntut persoalan di kereta api, tapi solidaritas kepada serikat buruh perkebunan juga sering menjadi alasan mogok kerja buruh kereta api. Dan selama beraktifitas di Medan beliau sering tidur di sekretariat SBKA yang berada di jalan Madura dulu.
Menurut beliau serikat buruh saat itu memang mengadakan kerja sama politik dengan partai-partai yang ada setelah pemilu 1955, SBKA yang paling mencolok bekerja sama dengan PKI namun tidak menjadi organisasi massa atau anderbow dari PKI, hanya karena banyak kader yang bekerja di SBKA maka program PKI juga masuk dalam SBKA yang berafiliasi dengan SOBSI. Misalkan Sudirman yang merupakan wakil sekretaris PKI Medan, namun tidak semua anggota SBKA adalah orang PKI. Lebih lanjut menurut Astaman Hasibuan, perjuangan klas buruh memang harus mendirikan partai untuk dapat memenangkan perjuangan kaum buruh itu sendiri secara politik.
Menurut beliau ada banyak tuntutan dari Serikat buruh Perkertaapian, yang paling utama adalah kesejahteraan, kelayakan kehidupan kerja, dan secara politik sering menentang bentuk imperialisme Belanda. Aktifitas selain untuk menuntut persolan upah, namun juga menuntut secara politik kebijkanan yang berpihak kepada kaum ploretar. Dalam menuntut mereka melakukan mogok dan berbagai usaha yang mempengaruhi politik agar  berpihak pada kaum buruh. Dan kemunduran SBKA terjadi setelah tokoh-tokoh SBKA itu di tangkap dan di penjara bahkan di hukum mati.
Menurut saya serikat buruh kereta api merupakan serikat buruh yang pertama kali di Indonesia, organisasi klas buruh pertama yang mendahului organisasi borjuasi.
Bapak Adam selaku Ketua SPKA Divre I SU/NAD mengungkapkan bahwa sebenarnya serikat pekerja saat ini tidak berhubungan dengan SBKA atau PKI. SPKA di bentuk pada tahun 1999. Namun menurut adam yang juga buruh di kantor kereta api Pulo Brayan. Tahun-tahun di orde lama merupakan masa kelam dimana PKI menjadi organisasi yang secara mayoritas memiliki kendali di perusahaan kereta api melalui SBKA saat itu, banyak tuntutan yang dilakukan terlalu politis hingga merembet kepada anggotanya. Bahkan mereka tidak mengetahui bagaimana hubungan SBKA dan PKI karena setau mereka SBKA itu berpusat di Medan. Secara umum pada masa Jepang berada di Sumatera Timur, buruh Kereta api memang membantu laskar dalam hal logistik yang didistibusikan secara diam-diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar