PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sumatera
Utara.
Sumatera Utara merupakan satu daerah
yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Daerah yang terletak di antara 10 - 40 LU, 980 - 1000 BT.
Luas daratan Sumatera Utara 71.680 km2, Sumatera Utara tersohor
karena luas perkebunannya, hingga kini perkebunan tetap menjadi fokus utama
perekonomian. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun
negara. Sumatera Utara menghasilkan Karet, Coklat, Teh, Kelapa Sawit, Kopi,
Cengkeh, Kelapa, Kayu Manis, dan Tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli
Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan.
Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara. Perkembangan perkebunan
sendiri memiliki sejarah yang panjang terutama di kawasan pantai timur. Dari
perkembangan perkebunan inilah yang di masa lalu menghadirkan transportasi guna
mempermudah perpindahan hasil produksi perkebunan, dan tambang dari Pangkalan
Susu Kabupaten Langkat Sekarang hingga ke Rantau Prapat di Kabupaten Labuhan
batu.
Sejarah
singkat Sumatera Utara.
Pada
zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang
bernama Gouvernement van Sumatra
dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh seorang Gubernur
yang berkedudukan di kota Medan.
Sejarah mencatat pada zaman pemerintahan
Belanda, Sumatera Utara dikenal sebagai Gouvernement
van Sumatra dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh
seorang Gubernur berpusat di kota Medan. Lalu Sidang pertama Komite Nasional
Daerah (KND), pasca kemerdekaan Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga
provinsi yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Provinsi
Sumatera Utara sendiri memiliki tiga daerah administratif yaitu Keresidenan
Aceh, Keresidenan Sumatera Utara, dan Keresidenan Tapanuli. Terbitkannya
Undang-Undang Republik Indonesia (R.I.) No. 10 Tahun 1948 tanggal 15 April
1948, Sumatera dalam kebijakan ini kemudian dibagi menjadi tiga provinsi yang
masing-masing memiliki hak untuk
mengatur dan mengurus daerahnya sendiri yaitu, Provinsi Sumatera Utara,
Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Tanggal 15 April 1948
kemudian dikenal sebagai hari jadi Provinsi Sumatera Utara. Tahun1949, di
lakukan reorganisasi dalam pemerintahan di Sumatera. Dengan Keputusan
Pemerintah Darurat R.I. Nomor 22/Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, posisi
Gubernur Sumatera Utara di hilangkan. Ketetapan Pemerintah Darurat R.I. pada
tanggal 17 Desember 1949 inilah menjadi dasar kebijkan dibentuknya Provinsi
Aceh dan Provinsi Sumatera Utara yang juga meliputi keresidenen tapanuli
dahulu. Lalu, Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 pada tanggal 14 Agustus 1950, mencabut
dan mengarahkan untuk dibentuk kembali Provinsi Sumatera Utara. Lalu Dengan
Undang-Undang RI No. 24 Tahun 1956 yang diundangkan pada tanggal 7 Desember
1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh, sehingga wilayah Provinsi Sumatera
Utara sebahagian menjadi wilayah Provinsi Aceh.
Pada era kolonial Belanda Sumatera Utara lebih dikenal
sebagai residen Sumatera Utara yang menjadi pusat industri Kolonial Belanda.
Kondisi ini tidaklah datang dengan sedemikian rupa, akan tetapi kekayaan alam
dari alam pulau sumatera yang mengundang orang-orang Eropa datang untuk
berdagang. Semenanjung Sumatera dimana kesultanan Deli berkuasa pada abad ke 13
ramai didatangi para pedagang, sehingga
tersohorlah bumi Deli ke dunia pada saat itu. Pedagang Arab, Eropa, India, dan
Cina kemudian menetap dan membangun kedai-kedai mereka di Labuhan Deli,
sekitaran sungai Deli. Lahirnya perkebunan dan industrialisasi di Labuhan Deli
yang pada masa depannya meluas hampir kedaerah Sumatera Utara saat ini, dimulai
dengan di tandai oleh datangnya
pengusaha dari Belanda pada 7 Juli 1863, yang awalnya tiga orang ini yang
bernama Jacobus Nienhuys, Van der Valk dan Eliot bersandar di muara sungai Deli
untuk berdagang membawa dagangan dan memulai usaha perusahaan Firma Leeuwenen
Maintz&co. Namun karena melihat tanah Deli masih dalam kondisi semak dan
hutannya belum di buka, maka Van der Valk dan Elliot memutuskan untuk pergi
ketanah Jawa. Berkenalan dengan Sultan Deli , Sultan Mahmoed Perkasa Alam, Nienhuys
diberikan hak pakai lahan selama 20 tahun tanpa perjanjian sewa seluas 4.000
bahu atau kurang lebih 3.000 Ha. Letak lokasi yang diberikan diantara Sungai
Wampu dan Sungai Ular kemudian ditanami Tembakau, lalu diwaktu berikutnya
ditanami Karet dan Sawit.Penanaman Tembakau di mulai pada tahun 1868 dengan
didirikan oleh Nienhuys Perkebunan Pertama De Deli Maatschappaij.
Lokasi dan
Kondisi Geografis.
Sumatera Utara dalam tempo 1926-1970
mengalami tiga masa yaitu kolonial Belanda, Era Fasis Jepang, era Kemerdekaan
yang lebih di kenal dengan masa orde lama dan orde baru. Sebelum kedatangan
kolonial Belanda Sumatera Utara adalah lokasi yang di kuasai oleh kerajaan
Deli.
Lokasi yang sangat strategis dalam
perdagangan dunia internasional saat itu di dukung oleh faktor alam Sumatera Utara
Sendiri. Tengku H.M Lah Husny (1975 : 1) menerangkan lokasi Sumatera Utara :
“lebar dataran
disebelah utara rata-rata aalah 30 km, dan lebar dataran disebelah selatan
kira-kira 100 km. Inilah daerah Deli dalam arti luas yaitu melayu sumatera
timur...................................................
Daerah yang
berbukit-bukit terdapat disekitar bahorok, namu unggas (Langkat) dan di daerah
serbajadi di kabupaten Deliserdang. Menurut taksasi kasar jumlah suku melayu
lebih kurang 2 (dua) juta orang termasuk mereka yang tinggal di daerah kota
praja-praja Binjai, Medan, Tebing Tinggi-Deli, Tanjung Balai.
Disebelah timur
dan timur laut dari tempat kediaman suku melayu ini terhampar laut tenang selat
malaka yang kaya hasil laut.
Disebelah barat
dan barat daya daerah ini berbatas dengan kabupaten karo dan kabupaten
simalungun dan daerah tapanuli. Di sepanjang batas ini di dapati kaki
pegununganbukit barisan yang penuh dengan hasil hutan dan mineral dan hasil
alam lainnya.
Daerah sumatera
timur terutama bagian rendahnya adalah sangat subur. Khusus areal tanah antara
sungai wampu dan sungai ular menghasilkan tembakau Deli yang terkenal di
seluruh dunia, sedangkan tanah-tanah diluar areal ini juga baik sekali untuk
tanaman keras, seperti kelapa sawit, kelapa, karet dan lain-lain dan juga
tanaman rakyat pada umumnya”.
Kondisi yang sempurna sangat
menguntungkan Sumatera Utara. Sebagai daerah yang dalam garis khatulistiwa dan
di dukung oleh jalur laut yang ada tidak mengherankan Sumatera Utara langsung
menjadikan daerah ini secara geografis perimadona bagi pengusaha Belanda yang
di rintis oleh Jacobus Nienhuys pada tahun 1863.
Hasil laut yang banyak ini di dukung
oleh kondisi alamnya hingga samapilah berbagai hasil bumi Sumatera Utara
kebelahan dunia, terutama komoditas unggulan Tembakau Deli. Secara umum
kesejahteraan rakyat Deli saat itu memang di tolong oleh kondisi alam yang
besahabat sehingga kemakmuran identik dengan kehidupan rakyat melayu saat itu.
Selain alam tadi, Lokasi Sumatera Utara
saat itu menjadi primadona dari Jalur perdangan dunia yaitu jalur sutra. Jalur
yang menghubungkan Dunia karena perdagangannya itu menjadi salah satu kunci
letak strategisnya Sumatera Utara bagi ekonomi Rakyat Indonesia saat itu dan
masa kini. Setelah berkembang pesat dibangunlah infrastuktur penunjang
industrialisasi di Sumatera Utara ini sehingga sejak dulu saat Nienhuys
merombak Belawan menjadi Pelabuhan internasional, kebutuhan infrastruktur lahir
satu per satu sebagai konsekuensi kemajuan sistem produksi ekonomi saat itu.
Keadaan Demografi.
Sumatera Utara secara demografi di
penuhi oleh peradaban kerajaan melayu. Oleh karena itu secara umum sumatera
timur di pengaruhi dan di tempati oleh suku melayu. Datangnya Belanda pada masa
Sultan Mamoed Alam Perkasa memberikan model pemerintahan baru di Sumatera
Utara. Dengan masuknya Belanda penetrasi suku bangsa lain memenuhi tanah
Sumatera Utara dari berbgai wilayah. Penelitian dari Dr. T Volker dalam T. HM
Lah Husny (1975 : 86) menyebutkan jumlah penduduk pada 1905 berjumlah 568.417
jiwa bertambah menjadi 1.197.554 jiwa pada tahun 1920. Pertambahan jumlah
penduduk ini di dukung faktor pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara setelah
Belanda dan berbagai bangsa eropa masuk ke Sumatera Utara untuk membuka
perkebunan.
|
No
|
Suku Bangsa
|
Jumlah/Jiwa
|
|
1
|
Indonesia
|
1.042.930
|
|
2
|
Cina
|
134.750
|
|
3
|
Eropa
|
7.882
|
|
4
|
Asia Timur
|
11.592
|
|
5
|
Arab
|
400
|
Tabel
1.Kepadatan Penduduk mulai tahun 1920 di Sumatera Utara. (Sumber:Data Sensus
Dr.T Volker).
|
No
|
Suku Bangsa
|
Jumlah/Jiwa
|
|
1
|
Melayu
|
285.553
|
|
2
|
Jawa
|
353.557
|
|
3
|
Karo
|
323.125
|
|
4
|
Sunda
|
37.231
|
|
5
|
Banjar
|
17.258
|
|
6
|
Minangkabau
|
15.002
|
Tabel
2.Kondisi penduduk pribumi mulai tahun 1920 di Sumatera Utara. (Sumber : Data
sensus Dr.T Volker)
Sedangkan kondisi pemerintahan yang ada
mulai dibagi dalam beberapa perwakilan kerajaan dibeberapa tempat. Seperti
Kerajaan Deli sebagai pemimpin. Dan Kerajaan lain sebagai bagian dari dengan
kedatuan, kejeruan yaitu Kerajaan Bilah, Kerajaan Kualuh, Kerajaan Panai,
Kerajaan Kota Pinang, Kerajaan Batu Bara, Kerajaan Langkat, Kerajaan Asahan,
dan Kerajaan Serdang.
Pada fase setelah kemerdekaan Rata-rata
kerajaan ini menjadi wilayah dari Kabupaten Di Sumatera Utara. Seperti,
Kabupaten Labuhan Batu yang meliputi bekas wilayah kerajaan Bilah, Panai,
Kualuh dan Kota Pinang, Kabupaten Asahan yang mengambil bekas Kerajaan Asahan
dan Batu Bara, Kabupaten Deli Serdang mengambil sebagian Wilayah Kerajaan Deli
dan Serdang, Kabupaten Langkat sepenuhnya mengambil kerajaan langkat dan Kota
Madya Medan yang menjadi pusat peradaban mengambil kendali atas wilayah sekitar
kerajaan Deli.
Pada masa ini mata pencaharian masih
sangat tradisional, karena hanya untuk memnuhi kebutuhan hidup dari keluarga
alam Sumatera Utara menyediakan
semuanya. Jadi rakyat melayu saat itu bekerja sebagai nelayan, petani dan
pemburu. Setelah perkebunan Belanda masuk pergeseran budaya menjadikan mata
pencaharian yang komplek, mulai dari pekerja perkebunan yang meliputi (pembuka
hutan, pemotong kayu, penanam tembakau dan mandor), lalu pedagang dan sisa mata
pencaharian yang lalu.
Latar Belakang Berdirinya
Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Masuknya Belanda
ke Deli cukup membawa perubahan yang sangat mencolok bagi kehidupan masayarakat
yang pada masa depannya menjadi pusat peradababan di Sumatera Utara. Dari tanah
yang di rintis oleh gocah pahlawan, seorang panglima iskandar muda dari
kesultanan aceh hingga menjadi miniatur kota eropa pada pertengahan abad ke 18.
Sebelum masuknya Belanda di tanah Deli ini, Sumatera Utara di tahun 1862
merupakan pelabuhan besar yang telah mengeksepor berbagai komoditas tambang dan
hasil alam melalui labuhan Deli. Selain mengekspor pelabuhan ini juga menjadi
jalur impor tekstil, candu, mesiu senapan, barang pecah belah dan lain
sebagainya.
Pada pertengahan
1863 Jacobus Nienhuys, Van der Valk dan Eliot datang pada masa kesultanan Deli
di pimpin oleh Sultan Mahmoed Alam Perkasa
mereka dibawa oleh said abdullah basagih bin umar, kemudian sultan
memberikan konsesi tanah seluas 100 ha untuk di kelola oleh Nienhuys pada
awalnya. Masuknya kapital Belanda ke
tanah Deli menjadi keberuntungan sendiri bagi Nienhuys, setelah harus begitu
lama membangun hutan menjadi ladang tembakau yang menggiurkan dan menghasilkan
berjuta-juta golden bagi kantong Nienhuys.
Cita rasa
tersendiri dari tembakau Deli yang hanya hidup di antara sungai Sungai Wampu
dan Sungai Ular kemudian ditanami Tembakau, lalu di waktu berikutnya ditanami
Karet dan Sawit.Penanaman Tembakau di mulai pada tahun 1868 oleh Nienhuys
setelah di tinggal oleh kedua temannya sebelumnya. Setelah 75 tahun menjual
hasil perkebunan tembakau itu di pasar tembakau di Amsterdam. Maka mulailah
para pemilik modal dari Belanda dan derah eropa lainnya masuk Hindia Belanda.
Dan mulailah era perkebunan merebak di kawasan Sumatera Utara mulai dari Deli
Serdang, Langkat, Asahan dan
Labuhanbatu.
Pada
kepemimpinan Hindia Belanda oleh gubernur jenderal van den bosch, aktifitas
perkebunan menggeliat di nusantara, tidak terkecuali di Sumatera Utara.
Datangnya Tjong A Fie sebagai pedagang sekaligus penyalur tenaga buruh dari
luar negeri. Para buruh dari penang, macau, Jawa di tugaskan untuk pembukaan
hutan, pemotongan kayu besar, pembuatan saluran air, pengolahan tanah,
penanaman tembakau dan aktifitas pertanian tembakau lainnya. Mereka bekerja
dengan paksaan dan hinaan ini banyak melarikan diri dari kebun karena selain
merasa di tindas juga mereka merasa di tipu atas pekerjaan yang diberkan pada
mereka, apalagi setelah pelaksanaan aturan poenale
sanctie pada 1880 yang melegalkan aktifitas romusha pada para buruh
perkebunan.
Dari sinilah
perkenalan tanah Deli kepada kelompok baru di tengah masyarakat. Yaitu kelompok
buruh yang akan turut memiliki sejarah tersendiri atas aktifitas manusia di
tanah Sumatera Utara ini. Kemudian setelah inilah lahir serikat buruh
perkeretaapian setelah di bangunnya De
Deli Spoorweg maatschappij yang pada masa depannya menjadikan satu
organisasi yang merintis lahirnya perjuangan buruh di Sumatera Utara.
Berdirinya
Perusahaan perkeretaapian di Hindia Belanda
Perkembangan ekonomi Belanda di Hindia
Belanda merupakan satu hal yang mencipta
transportasi baru yaitu kereta api. Kebutuhan perkebunan atas transportasi yang
efektif dan efisien memerlukan sarana kereta api. Terutama perkebunan gula yang
ada di Jawa tengah dimana para raja-raja feodal mengadakan persekongkolan
dengan persekongkolan dengan Belanda dengan menjadikan tanah di kekuasaan
mereka di tanami oleh komoditas pasar terutama tebu.
Menurut Situs Resmi PT.Kereta Api
Indonesia , Pada awalnya pembangunan KA pada 17 juni 1864 pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda L.A.J baron
sloet van den beele yang di sponsori oleh Naamloze
Venootschap nederlandsch indische Spoorweg Maatschappij (NV.NISM) yang di
pimpin oleh Ir.J.P De Bordes jalur di buat pertama kali di bangun dari kemijen
menuju desa tanggung dengan jarak 26 Km dan lebar sepur 1435 mm.Pada tahun 1870
di bangunlah jalur kereta api pertama di Hindia Belanda dari Semarang-Surakarta
oleh perusahaan swasta Belanda yang sama dengan jarak 110 Km.
Takashi
Siraishi (2005:10-11) dalam tulisannya ;
“ Pada tahun
yang sama (1870) jalur kereta api pertama hindia sampai ke Vorstenlanden dari
Semarang yang dikelola oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg
(NIS) untuk mengangkut gula yang dihasilkan perkebunan swasta di Vorstenlanden.
Beberapa tahun setelah munclnya kereta api, pengangkutan barang melalui sungai
solo terhenti, dan pusat perdagangan berpindah dari sangkrah dan beton ke
bagian tengah. Transportasi kereta api antara Semarang dan Vosrtenlanden
meningkat dengan pasti. Tahun 1875 jalur kereta api tersebut mengangkut 899.000
penumpang dan 124.000 ton barang dagangan, dan mendapat pemasukan sebesar 2
juta gulden. Pada tahun 1880 jalur kereta api itu mampu mengangkut 950.000
penumpang dan 334.000 ton barang dagangan yang menghasilkan 2,6 juta gulden”
Dari tulisannya menerangkan bahwa
perkembangan ekonomi di Jawa memicu terjadinya pembangunan di daerah Jawa
Tengah. Beliau mengidentifikasi bahwa pembangunan perkebunan dengan di sertai
pembangunan Kereta Api merupakan zaman modal awal. Perkembangan transportasi
dari mengunakan sungai untuk jalur transportasi memberikan dampak yang
signifikan bagi Belanda.
Dan terus berkembanglah transportasi ini
yang pada tahun 1900 menjadi 3,338 km untuk daerah pulau Jawa. Pembangunan
model transportasi baru ini kemudian di ikuti oleh para pengusaha besar di luar
pulau Jawa misalkan di Aceh (1874), Sumatera Timur (1885), Sumatera Barat
(1891), Sumatera Selatan (1914), Sulawesi (1922). Dan di Sumatera Timur sendiri
Pembangunan itu di sponsori oleh De Deli
Maatschappij yang membuka perkebunan tembakau, yang awalnya menggunakan
jalur sungai Deli menuju belawan sebagai transportasi menuju kapal dagangnya
untuk di jual ke negeri Belanda.
Berdirinya Deli
Spoorweg Maatschappij di Sumatera Timur.
Bertambah luasnya konsesi dari
perkebunan tembakau De Deli Maatschappij sampai
1876 hingga mencapai 4000 ha dan mengharuskan penmindahan yang sangat cepat
dari hasil perkebunan itu ke pelabuhan di Labuhan Deli. Menurut penulis riwayat
PT KAI dan PT. Telkom di Medan M.Yusuf
Pasaribu (2009:1) Hingga menjelang Tahun1876 juga rencana pembangunan sepur
untuk jalan kereta api sejauh 17 km dimulai. Namun, baru pada 1884 Pembangunan Deli spoorweg maatschappij berhasil dibuat.
Lahirnya perusahaan kereta Api ini
sendiri merupakan kebutuhan dari perkebunan tembakau meluas di penjuru tanah Deli,
sehingga transportasi merupakan kebutuhan mendasar dalam memperlancar arus
pengangkatan tembakau dari perkebunan ke pelabuhan belawan. Perkebunan yang di
miliki oleh Nienhuys ini dibangun dengan semangat untuk efesiensi perkebunan
itu sendiri.
Pada tahun 1883, M.Yusuf Pasaribu
(2011:5) menyebutkan rencana pembangunan Jalur Kereta Api menjadi Solusi dari
kendala distribusi tembakau, kemudian pada tahun 1884 mulailah dibangun Jalur
Rel dari Labuhan Deli ke Medan dengan panjang rel 17 Km, Lebar Spur1,067 m,
kemudian dari Labuhan Deli ke Belawan dengan panjang 5 Km, dari Medan ke Binjai
dan Deli Tua dengan masing-masing panjangnya 21 Km dan 12 Km. kemudian pada
tahun 1886 selesailah pembangunan Rel dan Kereta api mulai di operasikan untuk
angkutan umum. Pembangunan secara Gradual terus dilaksanakan terus menerus pada
tahun 1888 selesai dibangun jembatan kereta api Belawan dan pembangunan jalur
dari Medan ke Bandar Khalifah, jalur ke perbaungan di bangun 1890 hingga 1891
Perusahaan De Deli Maatshappij
memisahkan kepengurusan Kereta Api dengan mendirikan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) dan J.TH.Cremer yang menjabat
menjadi Hoofd Administrateur menjadi
direktur DSM pertama. Dan pembangunan terus berlanjut di daerah daerah
perkebunan dari Deli Miij hingga pembangunan di perluas ke Rantau Prapat dan
Daerah Bangun Purba serta Pancur Batu.
Dalam bukunya tersebut M Yusuf Pasaribu
tidak menjelaskan secara detil tentang asal muasal kebutuhan transportasi.
Apakah ada kondisi yang menghambat sehingga keuntungan dari De Deli Maatshappij
menjadi tidak efisien. Kondisi Suamtera Utara saat itu masihlah tidak maju
seperti hari ini. Perkampungan dan pusat ekonomi masih terpusat dibeberapa
tempat yang menjadi wilayah aktifitas kerajaan melayu deli saat itu mulai dari
Langkat hingga Labuhanbatu.
Kereta Api yang terus meluas jangkauan
nya dan terus mengalamikemajuan pada zaman itu, kereta api digunakan untuk mengangkut
perorangan serta mempermudah distribusi barang di daerah Sumatera Utara. Lahirnya
Serikat Pekerja dalam Sektor Transportasi dikarenakan dampak pasti dari
perluasan Jalur Kereta Api di tanah Deli. Menurut Semaun (1920:25) Para Pekerja yang diberikan jabatan
masing-masing, Masisnis, Stokker Remmer, Kondektur, Klerk, Baan dan Koeli yang
bekerja di bengkel-bengkel.Dan mulailah muncul serikat buruh yang berasal dari
buruh-buruh yang bekerja di sector kereta api akan tetapi tidak mendapatkan hak
yang sewajarnya sebagai buruh. Latar belakang sebagai petani dan kemudian
mengalami pergeseran mata pencaharian mengakibatkan kondisi yang jauh dari
sejahtera dalam kehidupan buruh kereta api saat itu.
Semaun secara umum hanya menceritakan
tentang bagaimana Serikat buruh harus muncul dan berjuang karena hak
normatifnya, kekurangan informasi tentang bagaimana buruh itu terpilih untuk
menempati tugas kerja tidak tersampaikan. Yang sebenarnya disitulah dapat
dilihat bagaimana aktifitas dan psikologi sosial buruh saat itu maju dan
berkembang. Kondisi ini bisa kita lihat perpindahan kebudayaan dari bercorak
agraris ke industrialisasi yang mendorong perubahan cara berfikir buruh
Indonesia kedepannya.
Keterlibatan ramai pegawai pribumi di
DSM sebagai adminstratur baru pada tahun
1937, menurut M Yusuf (2011: 26) mereka
adalah tamatan sekolah Volksschool
yang dipekerjakan sebagai kondektur,
kerani, juru api lokomotip dan pelayan rem kereta api. Sedangkan yang
menjadi kepala stasiun, pegawai staff tinggi dan mayoritas kondektur tetap
orang Belanda. Ketidakadilan terasa dengan pembagian kerja yang tidak adil,
pribumi yang bekerja di DSM kondisi kerjanya tidak jauh berbeda dengan para
kuli kontrak dari pulau Jawa. Selain mengisi posisi yang diatas, mayoritas pada
awalnya pribumi mengisi pekerjaan sebagai buruh pemasang rel-rel kereta api dan
perawat rel kereta api.
Pengangkatan posisi pekerja dalam
transportasi Perkeretaaapian ini diawal masih bercorak Nepotisme. Disinilah semangat nasionalisme mulai terbangun dari
kaum buruh Indonesia untuk berjuang dan menuntut hak mereka sebagai buruh yang
bekerja di perusahaan yang sama. Peristiwa itu tidak terlihat dalam penyebutan
buku M Yusuf Pasaribu, bagaimana mereka termotivasi untuk bergerak dan mengajak
rekan-rekannya yang memiliki kondisi dan perasaan yang sama.
Serikat buruh perkeretaapian sendiri
merupakan dampak dari kebangkitan nasional di daerah Jawa. Dari wawancara
dengan Edi sartimin pada 13 Juni 2015 mengucapkan :, “Di Jawa Sendiri pada 1905
Pegawai Kereta Api Negara Mendirikan Staatsspoorwegen
(SS) yang berarti Serikat Personel Kereta Api Negara yang mencakup pegawai
Belanda maupun Indonesia, yang mayoritas anggotanya adalah para pegawai Belanda
pada waktu itu”.
Dari wawancara ini penulis mendapatkan
informasi sesuai dengan refrensi yang telah didapat sebelumnya dari buku-buku
pendukung skripsi ini.
Setelah VSTP muncul dengan sebutan
“Serikat Buruh Merah SI” pada saat itu. Di karenakan beberapa serikat buruh
yang muncul, VSTP yang dipimpin Semaun memang memiliki kedekatan dengan tokoh
komunis. Selain itu Personeel Fabrik Bond
(PFB) serikat buruh pabrik gula yang di pimpin oleh Suryopranoto, juga
merupakan perluasan dari anggota SI. Selanjutnya muncullah berbagai organisasi
lain, tidak saja serikat buruh, tapi juga partai-partai politik seperti yang
pertama adalah Indesh Partij.
Semangat kebangkitan ini jugalah yang
kemudian melahirkan berbagai tokoh-tokoh nasional yang berkiprah dalam
memerdekakan Indonesia, banyak dari mereka yang berasal dari Sarekat Islam itu
sendiri, yang teranyar adalah H Agus Salim yang kemudian membuat persatuan
bersama dengan Semaun dan Suryopranoto. Kebiadapan Belanda saat itu mulai
dilawan dengan cara yang terorganisir, tidak saja dengan senjata golok atau
bambu kuning. Namun, Rapat Akbar, Pemogokan, dan berbagai sabotase dilakukan
oleh mereka semua.
Wawancara berikutnya Edi Sartimin
mengatakan, “Dulu pernah dilakukan sabotase untuk memenangkan tuntutan serikat
buruh perkebunan. Waktu itu sampai di Dolok Merangir pernah dibuat kereta api
terguling, karena kebun karet di daerah simalungun. Itu dilakukan karena
perusahaan Belanda itu tidak memberikan
hak atas buruh perkebunan disana ceritanya. Jadi semangat mereka waktu berada
di serikat buruh tidak saja berada di tingkatan satu organisasi orang itu aja
nak, namun organisasi lain, karena mereka menganggap satu klas dengan buruh
lainnya”.
Dari wawancara , penulis berpendapat
bahwa kebangkitan nasional berbanding lurus dengan semangat merdeka atas bangsa
Belanda saat itu. Sehingga perbedaan dari tiap-tiap tokoh dapat diredam dan
mengemukakan semangat berdaulat atas Indonesia. Terlepas dari berbagai
pendirian organisasi saat itu yang banyak bercorak Agama, Nasionalisme dan
Komunisme. Ini tidak terlepas dari gerakan perlawanan Internasional yang
berkembang saat itu. Agama Dibawa oleh semangat Pan-Islamisme yang berkembang
di kawasan Asia Barat dan Asia Barat Daya, Lalu Komunisme yang berkembang di
Kawasan Eurosia (Rusia, Ukraina, dan
lain-lain) hingga ke asia. Dan Nasionalisme yang di berkembang di Amerika
setelah merdeka dari Inggris dan Spanyol.
Dari perkembangan paham-paham inilah
yang kemudian juga mempolarisasi corak pandangan serikat buruh yang lahir
kemudian, dan juga terlihat dari federasi-federasi buruh yang di bangun saat
itu banyak mempertahankan pahamnya sebagai metode dan strategi bergerak
organisasi. Pada masa orde lama 4 federasi yang terkemuka menurut Iskandar
Tedjasukmana (2008:47) yaitu Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia(SOBSI)
yang dekat dengan PKI, Kongres Buruh Seluruh Indonesia (KBSI) yang jalan bareng
dengan PSI, Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) yang di bawah pengawasan
Masyumi, Kesatuan Buruh Kerakyatan Indonesia (KBKI) yang didirikan PNI.
Dalam buku tersebut tidak menjelaskan
bagaimana konflik tersembunyi yang terjadi saat itu, hanya mempelihatkan
kondisi afiliasi partai politik yang memang bertarung secara ideologi. Namun
intrik-intrik antar organisasi tidak kelihatan jelas, yang mana dinamika
tersebut menghantarkan kepada titik terang gerak ideologi masing-masing
federasi waktu itu.
Selain itu ada beberapa federasi lain
yang kecil seperti Himpunan Serikat Serikat Buruh Indonesia (HISSBI) yang punya
hubungan erat dengan partai Buruh. Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia
(SOBRI) yang dipengaruhi Partai Murba. Dan Gabungan Serikat Buruh Indonesia
(GSBI) federasi independen yang
cenderung dekat dengan PNI. Dan periode ini banyak dipengaruhi tumbuh
berkembangnya partai-partai buruh menjelang pemilu tahun 1955 di pengaruhi
kebijakan Moh Hatta dengan lahirnya maklumat Pemerintah 3 November 1945 tentang
pembentukan Partai.
Serikat Buruh
Perkeretaapian di Hindia Belanda.
Setelah Staatsspoorwegen (SS) berdiri sebagai organisasi buruh
perkeretaapian pertama di Hindia Belanda. SS kemudian mulai mencair keaktifan
organisasinya dikarenakan hanya beranggotakan para pegawai Belanda yang
bertugas sebagai buruh administratif yang hanya berorganisasi demi
memperjuangkan hak buruhnya di depan pengusaha perkeretaapian Belanda saja. Sehingga
daya dobraknya terhadap Hindia Belanda dikatakan tidak ada. Dinamika organisasi
buruh ini tidak dapat bertahan lama, setelah pihak pengusaha mengabulkan setiap
hak dari pada mereka.
Pada 14 November 1908 wakil-wakil kaum
buruh yang bekerja di perkeretaapian Negara maupun swasta berkumpul di Semarang
atas dorongan dua orang sosialis asal Belanda yaitu C.J.Huishoff dan
H.W.Dekker, perkumpulan ini digunakan untuk memproklamasikan adanya serikat
baru,”Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel In Nederlandsch-Indie” atau
VSTP. Perserikatan baru ini berbeda dengan SS yang sebelumnya ada, Edy Cahyono (2003:117)
perserikatan ini mengorganisasi semua buruh kereta api tanpa ada perbedaan Ras,
Jenis Pekerjaan, jabatan dan pembeda yang lain. Komitmen inilah kemudian
menjadikan VSTP menjadi salah satu Serikat Buruh yang Militan Pada Masa Hindia
Belanda.Baru pada 1913 sosialis-komunis mulai mendominasi kepemimpinan VSTP
setelah H.J.F.M. Sneevliet menjadi Presiden dan Semaun sebagai sekretaris.Pada tahun 1914, buruh-buruh pribumi
ini telah mendapat tempat dalam memimpin struktrur tertinggi di pimpinan VSTP,
di mana 3 dari 7 anggota pimpinan pusatnya adalah pribumi. Tahun 1915, VSTP
telah menerbitkan sebuah koran dalam bahasa Melayu, bertajuk Si Tetap.
Salah satu dari tiga orang pribumi yang terpilih dalam pimpinan pusat VSTP ini
adalah seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Semaun. Semaun adalah seorang
organiser yang sangat giat dan, semenjak bergabung dengan VSTP di tahun
1914.
Edi cahyono dalam hal ini hanya mengupas hal-hal
penting karena hanya berusaha menjelaskan kondisi gerakan secara politik.
Dinamika pembesaran organisasi tak tersebutkan yang akan memperlihatkan daya
tahan dan aktifitas setiap serikat buruh di jawa dan menyebarkan ke daerah
lain.
Perkembangan VSTP ini juga didorong oleh persatuan
dari kaum buruh yang di dorong oleh pembangunan tokoh-tokoh SI seperti Semaun
sendiri, Soeryopranoto dan Haji Agus salim. Kondisi penindasan yang dirasakan
bersama menghadirkan rasa persatuan dan saling membela ketertindasan, yang
akhirnya pada 1919 Personeel Fabriek Bond (PFB) yang di pimpin oleh
Soeryopranoto yang banyak memimpin pemogokan para buruh pabrik gula, dengan
VSTP sediri yang mulai dipimpin oleh Semaun mendirikan federasi buruh pertama
dengan nama Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) yang di latar belakangi
organisasi SI yang telah berdiri sejak 1905. Persatuan itu terus berkembang
hingga kedua pemimpin PPKB ini di kenal dengan Si Raja-raja Mogok. Hingga
akhirnya jaringan SI yang meluas juga turut membantu meluaskan jaringan dari
VSTP itu sendiri ke penjuru negeri Hindia Belanda kala itu. Sampai tahun 1920
dia telah mendirikan 93 cabang VSTP di Jawa dan Sumatera. Namun, pada 1921
perbedaan pendapat dalam metode berjuang mengharuskan kedua kelompok mengambil
sikap sehingga kalangan komunis di SI kala itu menarik diri dari PPKB dan
membentuk federasi sendiri yang di beri nama “Revolutionair Vakcentrale”.
Pada tahun 1923, anggota VSTP tercatat berjumlah
13.000 orang atau ¼ dari total buruh industri kereta api di Hindia Belanda.
Kondisi ini dianggap oleh pemimpin VSTP kala itu cukup untuk mengadakan
pemogokan massal dan menggerakkan setiap sendi perlawanan rakyat untuk
melaksanakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Namun ini ditolak oleh Semaun
hingga akhirnya ia terpaksa menerima keputusan sebagian besar pengurus VSTP.
Hingga di susunlah Pemogokan itu yang juga turut di sokong oleh kaum komunis
yang tergabung di PKI dan akhirnya gagal, dan Semaun di buang ke Boven Digul.
Hingga tahun 1923-1926 pemogokan massal
dilakukan dari ISDV yang berubah menjadi PKI menggiring VSTP, di karenakan
beberapa petinggi VSTP juga menjadi Petinggi PKI pada saat itu. oleh karena ituberakibat
pada aktifitas VSTP, dampaknya keluar
peraturan dari Hindia Belanda untuk larangan keras dan pembatasan atas Hak
berkumpul, berhimpun dan kebebasan berpendapat dan Pers. Sejak saat ini para
buruh kembali berjuang dibawah tanah dan kembali memperbaiki organisasinya.
Setelah pemberontakan pada tahun 1926,
maka gerak dari organisasi buruh yang teridentifikasi sebagai relasi dari kaum
komunis semakin di awasi oleh pihak Belanda. Serikat Perkeretaapian yang muncul
setelah VSTP adalah, Persatoean Beambte
Spoor en Tram (PBST) pada tahun 1927 di Bandung. Pada era ini radikalisasi
serikat buruh tidak tampak. Para tokoh PBST yang salah satunya adalah
Dr.Soetomo yang menyayangkan cara kaum komunis melakukan pemogokan seakan tidak
menghiraukan hak dari para pengusaha yang mendirikan pabrik di Hindia Belanda
kala itu. Sehingga di bentuklah satu mekanisme yang mengakomodir kepentingan
dari kedua belah pihak. Hingga ini berlanjut menjelang perang dunia ke II.
Perang dunia ke II yang melibatkan Belanda dalam kubu Sekutu melawan Kubu Fasis
memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap serikat buruh.
Pada masa kekalahan Belanda prancis dan Belanda
dengan jerman mengakibatkan pergeseran kekuasaan di Indonesia kala itu. hingga
akhirnya Jepang mengambil alih seluruh kekuasaan Belanda yang dikalahkan
jerman. Jepang menjadi perwakilan kubu fasisme di Asia menutup seluruh potensi
perlawanan dari rakyat Indonesia. Kedatangan Jepang benar-benar menutup ruang
kemerdekaan dari rakyat Indonesia saat itu, tidak terkcuali kaum buruh yang
mengharapkan kemerdekaan sejati segera. Namun tindakan pembesar Jepang yang
membubarkan seluruh jenis organisasi tidak terkecuali organisasi buruh dan
menawan para pemimpinnya ternyata berhasil menghambat perlawanan rakyat dan
kaum buruh.
Hingga akhirnya pemerintah Jepang
membentuk organisasi-organisasi yang tersentral dibawah pengawasan pemerintah Jepang.
Gerakan buruh pada periode ini lagi-lagi harus mengalami kemunduran yang sangat
besar. Kebutuhan akan prajurit di tengah perang dunia saat itu menjadi alasan Jepang
untuk menyusun secara cerdik kekuatan rakyat Indonesia untuk membantu Jepang
dalam perang. Kampanye saudara tua dengan 3 A nya ( Jepang cahaya asia, Jepang
saudara asia, Jepang penyelamat asia) menundukkan beberapa tokoh nasional kala
itu tidak terkecuali soekarno dan moh hatta yang mempercayai Jepang akan
memberikan kemerdekaan pada Indonesia dan menjadi bagian dari Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sedangkan rakyat digunakan sebagai pionir
menghadapi sekutu dengan menjadi prajurit perang dengan berbagai organisasi
buatan Jepang dan buruh yang memperlancar strategi gerak Jepang serta buruh
yang memnuhi logistik perang Jepang.
Kondisi yang memprihatinkan ini bertahan
selama tiga setengah tahun mulai dari 1942 sampai 1945. Kondisi yang menghisap
besar-besaran dari Indonesia terutama kalangan buruh tidak dapat memicu
perlawanan yang begitu besar karena tingkat refresifitas Jepang yang begitu
ketat. Sehingga para pemimpin buruh yang diasingkan dan yang masih bersembunyi
tidak dapat berbuat banyak saat itu selain memperjuangkan hak-hak untuk
bertahan hidup saja.
Pasca kekalahan Kubu Fasis dari kubu
sekutu, Jepang harus mengakui kekalahannya dengan luluh lantaknya kota Hirosima
dan nagasaki pada 6 dan 9 Agutus 1945 akibat bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika
Serikat. Yang berbuntut pada kembalinya semangat pejuang, laskar dan pemuda Indonesia
untuk memerdekakan Indonesia.
Pada 17 agustus 1945 kemerdekaan Indonesia
di proklamasikan di Jl.Pengangsaan Timur dengan tanda tangan Soekarno dan
Moh.Hatta sebagai perwakilan rakyat Indonesia kala itu. euforia kemerdekaan
menjalar ke seluruh pertiwi Indonesia dan kepercayaan untuk mengambil alih
kemerdekaan sepenuhnya membangkit kembali semangat kaum buruh Indonesia. Dengan
kepemimpinan oleh soekarno dan Hatta pada era Jepang dalam mencicil kemerdekaan
dengan jalur konfromis dengan Jepang. Padahal sebelumnya para kaum muda yang
terdiri dari kaum sosialis, komunis dan nasionalis sudah mendengar kejatuhan Jepang
dari radio BBC, sehingga sutan Syahrir kala itu mengumpulkan para pemuda untuk
mendiskusikan perihal pentingnya memanfaatkan momentum ini. sehingga kaum muda
saat itu membawa soekarno dan Hatta dari kediamannya ke daerah Rengasdenglok
untuk membicarakan hal tersebut. Setelah perdebatan yang cukup panjang kaum
muda berhasil meyakinkan dan menjamin keamanan soekarno dan moh. hatta untuk
memproklamirkan kemerdekaan RI yang diselenggarakan dirumah soekerno di jakarta
secara sederhana.
Serikat buruh perkeretaapian yang
mengalami degradasi hingga setelah kemerdekaan membentuk organisasi serikat
buruh perkeretaapiannya kembali. Serikat buruh perkeretaapian (SBKA) di
lahirkan pada 13 maret 1946 yang
kemudian berafiliasi ke SOBSI pada kongres buruh pada 29 November 1946 dari
persatuan serikat buruh GASBI (Gabungan Serikat Buruh Indoenesia) dan GSBV(
Gabungan Serikat Buruh Vertikal). Selain dari SOBSI yang memiliki relasi ke PKI.
Persatoean Kaum Buruh Kereta Api (PBKA)
yang terdaftar di Kementrian perhubungan pada tahun 1956 masuk ke KBSI (Kongres
Buruh Seluruh Indonesia) yang berafiliasi ke PSI.
Berdirinya
Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Berdirinya Vereeniging Van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) pada tahun 1908
di Semarang yang kemudian menjadi
militan dan radikal tidak lepas dari pergumulan ideologis di Internasional.
Merebaknya pertentangan antara Paham Kapitalisme dan paham Komunisme di dunia menghasilkan perang
dingin berkepanjangan sejak di mulainya Perang Dunia I, dan komunisme melalui
setiap kader partai terus menyebarkan paham itu. Kondisi ini mempengaruhi
masuknya paham komunisme di Indonesia karena dibawa oleh seorang komunis Belanda
Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet datang Setelah 1913 dari Belanda
dan segera menjadi Propaganda VSTP pada setahun setelah beliau datang ke Hindia
Belanda. Pada awalnya VSTP hanya menjadi organisasi buruh Belanda maka baru
pada tahun 1914 organisasi ini menjadi satu organisasi yang menjadi manifestasi
kegelisahan buruh kereta api secara universal di Hindia Belanda. Dengan
mengangkat Semaun menjadi salah satu murid ideologisnya. Pengaruh komunis mulai
berdampak pada gerakan organisasi buruh ini.
Fase Kolonial Belanda dan Fasis Jepang (1926-1945).
Perkembangan dari VSTP yang di rintis
oleh Semaun terus bertambah hingga Sumatera. Menurut Edi Cahyono di (2003:117) pada tahun 1920 mulailah VSTP
masuk ke Pantai barat Sumatera dan lingkungan perkebunan Deli yang di usahakan
Oleh DSM. Masuknya VSTP ke Sumatera tidak luput dari perluasan SI yang juga
dimasuki oleh Semaun kala itu. selain kondisi dari tenaga buruh yang jauh dari
kata sejahtera saat di kelola oleh DSM dengan cara yang rasis kepada buruh
pribumi. Oleh karena itu VSTP dengan cepat bisa masuk ke perkebunan Deli dan
merekrut anggota dari DSM.
Penuturan dari beliau sekali lagi hanya
memperlihatkan dinamika secara umum, dan banyak mengulas kondisi gerakan di
Jawa. Dan kondisi gerakan di luar Jawa dan keterlibatan dalam aktifitas
pemberontakan 1927 juga tidak jelas tertulis.
Wawancara dengan Edi Sartimin, “kondisi
pergerakan serikat buruh di ketahui dari cerita pegawai senior DSM saat itu Sarekat
Islam yang berkembang, turut membawa pengaruh kepada perekembangan Serikat Buruh
Kereta Api di Sumatera Timur. Itu karenanya ada dulu tokoh buruh yang terkenal
masuk ke kesini pak Iwa Kusumasumantri yang jadi menteri tenaga kerja waktu
zaman pak karno.”
Dari wawancara ini penulis berpendapat
untuk seseorang yang menerima informasi Edi Sartimin cukup memahami fakta
sejarah dengan mengucapkan Sumatera Timur untuk Sumatera Utara yang pada saat
itu disebut. Namun Tapi tidak terlalu
begitu masif menjelaskan bagaimana dinamika gerakannya karena pada saat itu
dari data yang lain zaman SI memang ada kedatangan perluasan serikat buruh
namun tidak berkembang karena di huni oleh pegawai rendahan dan di kekang
dengan aturan yang kuat, sedangkan buruh dari sektor lain juga masih minim.
Sehingga tidak begitu membesar saat itu.
Setelah tahun 1923 Pergerakan VSTP yang
radikal akibat berafiliasi dengan Indisch
Social-Democratische Vereeniging (ISDV) yang bercorak Komunis, mulai
mengalami kemunduran karena refresif dari Kolonial Belanda akibat
Pemogokan-Pemogokan massal yang dilakukan VSTP. Pemogokan yang mengusung
kondisi kerja sering kali menjadi isu yang berkembang di tengah kondisi buruh
saat itu. sehingga pada tahun 1926 tenaga buruh dari Jawa dan sumatera barat
mengadakan pemogokan massal dan di kenali sebagai bagian aktifitas PKI saat itu
menjadikan VSTP mengalami kemunduran dan kehancuran.
Setelah kehancuran VSTP serikat buruh di
Sumatera Utara saat itu juga mengalami kemunduran, hingga serikat buruh mulai
membesar pasca kemerdekaan, selain terlibat pada masa pemogokan tahun 1926-1927
karena lebih dekat pada gerakan politik ISDV. Keterlibatan serikat buruh
terutama VSTP saat itu dengan serikat buruh perkebunan melaksanakan pemogokan
guna mengoncang kondisi ekonomi Belanda saat itu. hingga pada saat Sumatera
Utara dibawah kendali masa Jepang terutama atas perusahaan kereta api juga diambil alih
oleh Jepang. M Yusuf (2001:36) menerangkan Hal ini dikarenakan masuknya tentara
Jepang ke Sumatera Utara berhasil menawan petinggi-petinggi DSM setelah Belanda
dan sekutu jatuh ketangan jerman. Dan akhirnya tentara Jepang menggantikan
sepenuhnya orang Belanda di Perusahaan kereta api ini. dan Kantor besar DSM di
jadikan markas tentara Jepang ( Nippon
Military Railway).
Pada 2 April2015 wawancara dengan Adam ketua DPD SPKA DIVRE I SU-NAD menjelaskan “ kalau dulu pada masa
Jepang masuk ke Sumatera tak ada kelihatan aktifitas Serikat buruh di kereta
api ini. Bahkan dulu senior-senior yang udah pendiun itu ceritanya pekerjakan
secara tidak manusiawi dengan menjalankan kereta api dengan begitu masif , tak
ada berentinyalahkereta itu hilir mudik, sehingga jalur Medan Pangkalan Brandan
termasuk jalur yang padat dulu, tapi kini tinggal rel ajalah, tak ada kereta
yang kesana lagi”.
Wawancara dengan ketua SPKA, penulis
dapat menganalisa ketika Jepang berkuasa, seluruh aktifitasnya adalah
mempersiapkan logistik terutama Minyak dari Pangkalan Brandan untuk dibawa
melalui Belawan. Dan itu terus berlanjut hingga saat Jepang di bom atom oleh
Amerika Serikat dan menyerah tanpa syarat pada sekutu waktu itu. Namun di Medan
baru di ketahui setelah bulan oktober 1945 proklamasi berkumandang di Sumatera
Utara. Dan proklamasi ini di dukung dan dimeriahkan oleh seluruh rakyat saat
itu tidak terkecuali pegawai DSM yang begitu semangat membantu dilaksanakannya
pembacaan proklamasi.
Fase Orde Lama (1945-1965).
Kondisi ini berhasil memicu rasa
nasionalisme dari buruh kereta api, seperti yang dilakukan oleh Ahmad Tahir
seorang masinis Muda Pribumi, pada 4 oktober 1945 dengan memberntuk Barisan
Pemuda Indonesia (BPI) Ahmad Tahir sebagai ketua I bersama Abdul Malik Munir
dari Kepanduan Hisbul Wathan dari Muhammadiyah mengadakan rapat umum di
lapangan Fukuraido (Lapangan Merdeka Sekarang) untuk menyampaikan semangat
proklamasi dan membacakannya bersama Mr.T.Moh Hasan selaku gubernur pertama
Sumatera kala itu.
Setelah kemerdekaan pada 17 agustus 1945
kondisi perusahaan kereta api tidak langsung menjadi hak pribumi. Kembalinya
sekutu ke Indonesia ternyata memiliki kepentingan untuk mengembalikan
kolonialisme di Indonesia juga terjadi di Sumatera Utara. Tentara Sekutu yang
membonceng Netherland Indie Civil
Administration (NICA) berniat mengabil kembali Sumatera Utara dan
kekuasaannya, tidak terkecuali perusahaan kereta api juga. Dengan menumpang
kapal perang HMS Venus Inggris mereka
masuk ke Sumatera Utara. Dan mereka berhasil kembali masuk dan mengambil alih
perusahaan kereta api. Dan meninggkatkan aktifitas kereta api untuk mencapai
keuntungan yang besar setelah di kuasai Jepang. Hal ini dilaksanakan dengan
peningkatan aktifitas pemberangkatan kereta api, peningkatan tiket penumpang
dan barang dan lain sebagainya.
Bahkan Menurut dari Edi Sartimin , “kaum
buruh saat itu kembali membentuk
organisasi-organisasinya selain turut membantu para pejuang yang berjuang
dengan senjata, kaum buruh juga mengadakan pemogokan, sabotase dan metode
lainnya untuk menggagalkan Belanda kembali ke Indonesia, setelah pada masa
jepang berkuas tak berkutik dan hanya bergerak di bawah tanah”.
Wawancara itu penulis melihat bahwa Semangat
itu di ikuti dengan kedekatan organisasi Serikat buruh saat itu dengan
laskar-laskar rakyat yang memperjuangkan
Sumatera Utara, terutama kota Medan saat perang Medan Area. Tugasnya adalah
memasok logistik bagi para laskar yang di dapat dari gudang-gudang DSM saat
itu. Pasca merdeka banyak bermunculan organisasi serikat buruh di DSM seperti
SBKA yang komunis, PBKA dari Sosialisnya PSI, GOBSIIND dan KBIM yang bernuansa
islam.
Setelah Merdeka SBKA yang ada sejak 1946
harus mengalami persaingan ideologis dengan PBKA pada awal-awal kemerdekaan.
Menurut Adam, SBKA yang tergabung di SOBSI dekat dengan PKI yang memonopoli
hampir semua kebijakan perkeretaapian saat itu. Sedangkan PBKA yang tergabung
di KBSI dan dekat dengan KBSI yang saat itu di pimpin oleh Syahrir. Namun
mereka terkesan akrab dalam Dewan Perusahaan yang mempunyai hak meminta
kebutuhan buruh dari DSM saat itu. Dan modernisasi lokomotif merupakan jasa
mereka saat itu.
Setelah kemerdekaan serikat buruh
perkeretaapian di Sumatera Utara kembali muncul setelah Agresi Militer Belanda
yang pertama menghancurkan pertahanan pejuang Indonesia terutama ke daerah
Pangkalan Berandan. Di tahun 1952 setelah kondisi kembali normal seorang anak
masisnis yang bernama sudirman segera membentuk serikat buruh perkeretaapian
yang baru. Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) mulai disusun sebagai organisasi
gerakan buruh yang baru. Kemudian dia menyusun seluruh struktur. Gerakan ini
dibuat untuk memperjuangkan hak dan nasib buruh kereta api yang tak kunjung
sejahtera di buat oleh pengusaha Belanda DSM. Organisasi ini bertambah besar
setelah para buruh menjelang agresi militer Belanda ke dua di ungsikan, selain
untuk keamanan keuntungan tersendiri bagi SBKA adalah para buruh kereta api
disebar kemasing-masing stasiun untuk membentuk kekuatan dan struktur
organisasi SBKA yang lebih luas di seluruh stasiun kereta api yang di kelola
oleh DSM.
Dan pada massa Agresi militer Belanda
yang kedua, di Medan banyak pegawai yang terlibat dalam perjuangan
mempertahankan kemerdekaan bersama laskar-laskar dan tentara yang baru saja
dibentuk pada saat itu dalam mempertahankan Medan di perang Medan Area.
Pergerakan SBKA itu terus berlanjut hingga kepemilikan
seluruh kereta api di kelola oleh Negara setelah isu nasionalisasi
besar-besaran di sebarkan pada tahun 1957-1958. Malalui usaha SBKA salah satu
pimpinannya mengadakan pertemuan dengan pihak DSM. Djuned Nasution pegawai
pribumi yang menginginkan agar Belanda secepatnya menyerahkan Pengelolaan
Kereta api kepada buruh yang merasakan Indonesia telah merdeka, dan pihak
Belanda sudah tidak berhak untuk mengelola kereta api setelah sekian lama
menjajah Indonesia terutama daerah Sumatera Utara. Dengan dalih bahwa Djuned
Nasution adalah pegawai rendahan Belanda enggan memberikan tuntutan itu, baru
setelah diwakili oleh mester masri seorang staff DSM saat itu baru mereka mau
tidak mau menyerahterimakan pengelolaan kereta api kepada buruh dan rakyat
Indonesia.
Setelah dinasionalisasi pengelolaan DSM
dibantu oelh Penguasa Perang Kodam II/Bukit barisan (sekarang Kodam II/BB)
dengan menugaskan Mayor Nokoh Bangun membantu sebagai perwira pengawas. Setelah
itu menggantikan mester masri yang memasuki masa pensiun lalu mengubah DSM
menjadi perusahaan Eks DSM, kemudian pada 1964 mengubah menjadi Perusahaan
Negara Kereta Api (PNKA) saat beliau menjabat pimpinan tertinggi yaitu Kepala
Eksploitasi. Lalu Nokoh Bangun yang mengubah namanya menjadi nokov bangun
membangun organisasi pengelola PNKA dengan mengadakan rapat dengan para buruh
kereta api dan Perwira PP Kodam II/BB.
SBKA Merupakan Satu dari berbagai
serikat buruh perkeretaapian yang berdiri di Sumatera Utara kala itu dengan
keangotaan terbanyak sekitar 78% di Sumatera Utara setelah dilakukan sensus
oleh kepala personalia PNKA ESU Paten
(pens) chkristofel sihombing pada Juni 1965 , diantaranya adalah Persatuan Kaum
Buruh Kereta Api (PBKA) yang dekat dengan Soksi berjumlah 12 %, Kongres Buruh
Merdeka (KBM) sekitar 6 %. Gabungan organisasi Buruh Sarekat Islam Indonesia
(GASBIINDO) sebanyak 3%. Dan jumlah 1%
buruh kereta api tidak mengikuti organisasi buruh perkerta apian kala itu.
Fase Orde Baru (1965-1970).
Konstelasi politik di Indonesia berubah
ketika pembunuhan 7 Jendral dari angkatan darat pada malam 1 Oktober 1965 yang
membuat PKI Indonesia sebagai satu-satunya Organisasi yang bertanggung Jawab
atas aktifitas itu. tragedi yang dilaksanakan Tjakrabirawa ini sebenarnya masih
menjadi tanda tanya tentang keterlibatan unsur-unsur lainnya. Namun hal itu
terkesan tidak perlu dibuka oleh pemerintah yang sedang kalut. Sehingga Mayjend
Soeharto yang kemudian menjadi presiden Indonesia mengambil alih penuh
penuntasan malam 1 Oktober 1965 itu.
Dampaknya bagi Organisasi Buruh secara
umum terutama serikat buruh Kereta Api setelah itu adalah pembredelan
besar-besaran. Hal ini dilakukan pertama kali kepada organisasi yang terbaca
dan di kira sebagai bagian dari PKI adapun organisasi tersebut adalah sentral
Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Barisan Tani Indonesia (BTI),
Lembaga Keboedajaan Rakjat (LEKRA), Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI), Central
Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Pemoeda Rakjat (PR). Menjadi buruan dari
militer yang memegang kendali.
SBKA yang bergabung dalam federasi SOBSI
juga tidak lepas dari pembredelan. Dan seluruh pemimpin SBKA ditangkap dan
dibuang ke daerah pengasingan. Di Sumatera Utara pada 3 oktober 1965 seluruh
Pengurus SBKA ditangkap dan ditahan di kantor kodim Medan dan yang berhubungan
dengan tragedi malam 1 oktober 1965 itu ditahan. Hal ini juga berlangsung
sampai penahanan ke pengurus tingkat stasiun. Setelah terbukti terlibat dalam
aktifitas PKI mereka ditahan dan di pecat dari PNKA. Dan seluruh fasilitas yang
diberikan oleh PNKA di cabut, mulai dari Rumah, Jatah sembako ditarik atas
perintah militer.
Pengungkapan sejarah atas traagedi
memilukan 1 oktober 1965 atau dalam beberapa tulisan sejarah di kenal dengan
malam Gerakan 30 September PKI (G 30 S PKI) menjadi satu hal yang menyisakan
luka yang kelam bagi buruh kereta api di Sumatera Utara saat itu. hal ini
dikarenakan masih banyak anggota yang tidak mengetahui gerak politik pimpinan
pusat SBKA yang telah berafiliasi ke SOBSI. Keterlibatan pasif dari anggota
juga menjadikan mereka tidak mengetahui bahwa pimpinan Pusat dari SBKA bukan
berada di Medan, namun berada di Bandung. Dengan kerangka solidaritas yang kuat
diantara sesama buruh kereta api, banyak buruh yang pernah bersolidaritas
membantu SBKA karena merasa telah memperjuangkan hak mereka di anggap terlibat,
tahu dan ikut dalam peristiwa itu.
Dinamika gerakan
Serikat Buruh Perkeretaapian dalam Memperjuangkan hak-hak Kaum Buruh Kereta Api
di Sumatera Utara tahun 1926-1970.
Perkembangan politik dalam kondisi
kekinian, peran buruh mulai cukup di perhitungkan dalam dinamika politik
nasional, dan ini tidak saja terjadi di era sekarang akan tetapi sejak zaman
kolonial Belanda serikat buruh cukup memiliki andil dalam kancah perpolitikan
di negeri ini.Dan pertarungan politik secara langsung dengan colonial Belanda,
yang di mulai pada era SS, VSTP, PBST, SBKA dan PBKA mengalami mutasi
kontadiksi dengan pertarungan Ideologi yang membesar pada era orde lama. Kekuatan
Ideologi Nasionalisme, Komunisme dan Islam menjadi 3 poros besar pembagian arah
dari buruh saat itu dan tidak terkecuali buruh kereta Api.
Namun secara keumuman serikat buruh ini
lahir akibat kondisi perburuhan yang sangat mengkhawatirkan keberlanjutan hidup
dari buruh itu sendiri, dengan kata lain pekerjaan yang diberikan tidak dapat
mencukupi kebutuhan hidup dan tidak dapat memberikan hak hidupnya sebagai
manusia yang normal. Sehingga konflik antara pengusaha terutama di kereta api
dengan buruhnya semakin meruncing hingga kaum buruh melakukan tuntutan dengan
metode-metode mereka yang memiliki aliran tiga ideologi besar di Indonesia kala
itu.
Aktifitas
Organisasi Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Fase Kolonial Belanda dan Fasis Jepang (1926-1945)
Buruh kereta api baru mulai berserikat
pada awal tahun 1920an. Dengan masuk kedalam serikat buruh VSTP saat itu banyak
buruh yang mengharuskan dan mempatutkan diri untuk sesuai dengan arahan dan
cita-cita serikat buruh itu sendiri.
Ketertiban dalam berorganisasi adalah
salah satu faktor penting keberhasilan perlawanan serikat buruh terhadap
kolonial Belanda kala itu. berbeda dengan perlawanan sebelum adanya organisasi,
perlawanan yang sparatis dan tidak terorganisir membedakan secara jelas
bagaimana pola aktifitas dari pejuang dan aktifis buruh itu sendiri. Sebagai
organisasi barang tentu VSTP memiliki AD/ART atau Statuten sebagai konstitusi
atau panduan dalam menjalankan roda organisasi itu sendiri. Dan bagaimana
mengatur struktur organisasinya agar koordinasi dan komunikasi dapat berjalan
dengan lancar dan dapat membantu terlaksananya maksud dan cita-cita organisasi
itu sendiri.
Semaun (2013:39) sebagai pemimpin VSTP
pada 1914 menuturkan bahwa ihktiar, alat dan senjata serikat buruh adalah
bagaimana melihat pemogokan umum. Namun sebalum pemogokan Semaun menganjurkan
untuk membenahi organisasi terlebih dahulu. Misalkan untuk menjalankan serikat
buruh VSTP Semaun mencontohkan Anggaran dasar VSTP pada pasal 11 yaitu :
a)
Mengumpulkan
bukti-bukti yang berhubungan dengan pekerjaan, umpamanya diJawatan kereta api
dan trem. Bukti-bukti ini bisa dijadikan sarana untuk menuntut keadilan dalam
memperbaiki semua aturan kerja pada pembesar-pembesar.
b)
Memberikan
pertolongan dan bantuan uang, pada anggota –anggota serikat buruh. Pertolongan
dan bantuan ini akan ditentukan dalam pasal-pasal aturan internal atau oleh
pertemuan umum tahunan.
c)
Menerbitkan
media (surat kabar, majalah) yang akan memuat semua berita yang berhubungan
dengan kerja serikat buruh.
d)
Membantu dan
mengumpulkan semua perkumpulan yang dianggap bisa menolong atau memberi jalan
terang bagi tercapainya tujuan –tujuan serikat buruh.
e)
Memberikan
advokasi pada anggota yang mengalami perkara berkaitan dengan pekerjaannya.
f) Mengeluarkan undang-undang yang bermanfaat untuk kaum
buruh, terutama untuk para sopir dan karyawan trem.
Dalam anggaran dasar ini Semaun mencoba
menegaskan betapa kerukunan di dalam serikat buruh akan menambah daya juang
dari serikat buruh itu sendiri. Selain itu aturan lain tentang struktur
organisasi juga disampaikan Semaun di dalam buku yang sama (2013:47) misalkan
untuk kenggotaan dan syarat terbentuknya satu komite yang disebutkan pada pasal
6 Anggaran dasar yang berbunyi : “cabang
dari perkumpulan bisa diadakan ditempat dimana paling sedikit ada 10 orang
anggota dan seterusnya’. Lalu beliau juga menjelaskan bagaimana struktur
minimal yang harus di bentuk oleh serikat buruh VSTP yaitu pengurus
(majelis)cabang-cabang dikepalai oleh Ketua dibantu oleh sekretaris dan
bendahara serta dua atau lebih komisaris yang mengurus kebutuhan dan peraturan
organisasi serikat buruh.
Menurut hasil wawancara pada 13 juni
2015 dengan Astaman Hasibuan “ struktur kerja dalam organisasi kereta api sebelum merdeka
dulu pake cara kerja sama antar cabang maka dibutuhkan rapat atau sidang
setahun paling sedikit, dan cabang mengirimkan wakil-wakilnya untuk memilih
pengurus besar akan dilaksanakan pada kongres tahunan yang mengumpulkan
wakil-wakil dari cabang-cabang yang membawa usulan, kemauan dari masing-masing
cabang untuk dibicarakan, jadi ketua cabang, biasanya milih Sekretaris atau
Komisaris ranting untuk ikut mendampingi beliau dalam kongres itu. Jadi anggota
masih bersifat pasiflah dalam kegiatan gerakan karena mereka harus terpilih
dengan pendidikan yang ada dibuat pimpinan. Nah aku tidak ingat kali siapa
tokoh-tokoh yang ada disitu. Tapi yang dapat kuingat dari cerita dan buku yang
pernah kubaca terutama buku bung Aidit judulnya dulu Sejarah Gerakan Buruh
Indonesia, tahun 1920 sudah ada masuk kereta api di sumatera utara ini”.
Dari wawancara itu penulis melihat bahwa
ikatan SI dengan pembangunan Serikat Buruh itu cukup tajam. Karena itu ada
Moehammad Samin yang menjadi komisaris di Sumatera Utara untuk SI.
Sumber yang dapat di kumpulkan
memperlihatkan bahwa dinamika kepengurusan serikat buruh kereta api ini
memiliki struktur yang sangat sederhana untuk diawal. VSTP yang berdiri diawal
adalah CJ.Huishoff sebagai presiden serikat, dan H.W Dekker sebagai Sekretaris
pada 1908 sebagai Hoofdbestuur (Komite
Eksekutif Nasional) . Hasil itu didapat dari Bestuursvergadering (Rapat Dewan Eksekutif).
Lalu setelah itu bergeserlah pada
periode berikutnya dengan dilaksanakan Bestuursvergadering
pada tahun 1913 yang kemudian memilih Snevliet sebagai presiden berikutnya dan
Semaun sebagai perwakilan pribumi menjadi Sekretaris.
Seiring berkembangnya waktu pada rapat
dewan eksekutif berikutnya tahun 1918 semaun menjabatlah sebagai presiden VSTP
dan Kadarisman sebagai Sekretarisnya.
Pengurus pusat akan dipilih untuk
mengkordinasikan seluruh cabang bedasarkan pasal 8 anggaran dasar yang berbunyi
: “ pengurus besar terdiri dari 15 orang
anggota yang dipilih oleh kongres tahunan”
Selain memberikan petunjuk soal
bagaimana menjalankan organisasi secara umum, semoen (2013:56) juga menunjukan
pentingnya adminstrasi, terutama pengurusan buku-buku organisasi. Adapun buku
yang harus di buat adalah, buku kas (Uang masuk dan keluar), Arsip organisasi
(persidangan, urusan keanggotaan, urusan belanja dst), Notulensi rapat organisasi. Semaun juga tidak
lupa mengingatkan tentang penting Serta dibutuhkannya pembubuhan nomor surat
dan nomor bundel arsip untuk kerapian administrasi organisasi.
Selain menjalankan aktifitas formal
organisasi VSTP juga menjalankan aktifitas keorganisasian yaitu menerbitkan
propaganda sebagai bentuk pendidikan kepada anggota dan massa luas. Hal ini
selain untuk mendidik para anggota untuk mengenal lebih jauh organisasi juga
permasalahan serta pandangan organisasi tentang kondisi Hindia Belanda saat itu
juga sebagai wadah rekrutasi bagi kalangan buruh lainnya.
Fase Orde Lama (1945-1965).
Setelah kemerdekaan gerakan buruh perkeretaapian
baru muncul pada tahun 1952 setelah DN Aidit mendirikan kembali PKI di
Indonesia, dan SKBA yang kemudian beafiliasi dengan SOBSI menjadi salah satu
serikat buruh terbesar. Terutama di Sumatera Utara Setelah Serikat Buruh
Perkebunan (SERBUPRI), SBKA merupakan organisasi yang terbesar.
Menurut wawancara dengan Astaman Hasibuan 75 tahun yang merupakan
Wartawan Harian Harapan dan aktif di LEKRA antara tahun 1962-1965. “Sebelum ada
serikat buruh perkebunan, Serikat Buruh VSTP pada tahun 1918-1920 sudah ada di
Sumatera Utara. Itu dibawa orang jawa dulu mengenalkan serikat buruh itu,
kebetulan mereka dekat dengan Sarekat Islam dulu yang membesar di jawa itu, kok
anda tau serikat buruh itulah Organisasi klas buruh pertama yang lahir di
Indonesia sejak tahun 1908 secara nasional”. Penulis berpendapat, dari
wawancara itu bahwa Serikat Islam yang memiliki faksi sosialis didalamnya dapat
mengembangkan serikat buruh kereta api di Sumatera Utara yang waktu itu disebut
Sumatera Timur senada dengan apa yang disebut oleh Takashi Siraishi (2005:156)
bahwa dalam komisaris yang bertugas di Sumatera Timur adalah Mohammad Samin.
Astaman Hasibuan menyatakan Struktur
SBKA waktu itu di pimpin oleh ketua dan sekretaris dengan hirarki kepengurusan
dari tingkat ranting yaitu mereka yang bekerja di Stasiun yang dipimpin
komisaris. Di tingkat cabang dipimpin oleh ketua, sekretaris dan bendahara, di tingkat
nasional dipimpin oleh Sekretaris Jendral
yang waktu itu di jabat oleh Bung Singgih hingga 1957, keanggotaan SBKA secara nasional berkisar
60.000.
Dari wawancar itu , penulis cukup banyak
mendapat informasi baru tentang narasumber , namun hanya dapat melihat dinamika
SBKA waktu itu. karena memanag SBKA cukup mendominasi dalam gerakan sserikat
buruh waktu itu karena kubu sosialis
komunis mendapat massa yang sangat besar anta tahun 1950-1965. Sedangkan
untuk di perusahaan tingkat cabang Sumatera Utara yang selain SBKA, ada PBKA,
GOSBIINDO, KBIM turut meramaikan pengaruh serikat buruh kepada perusahaan.
Dengan total keanggotaan di Medan saat itu kurang lebih 1500 pegawai terlibat
di SBKA waktu itu. hingga malam 1 oktober 1945 semuanya bubar karena ditangkap.
Kondisi Peembersihan unsur komunis
itulah yang menghambat penulis menemukan sumber-sumber langsung dari SBKA,
karena semua yang berkaitan dengan unsur komunis saat itu baik data organisasi,
dokumen-dokumen dan lain sebagainya telah dihilangkan saat itu.
Perjuangan
Serikat Buruh Perkeretaapian di Sumatera Utara.
Secara nasional konstelasi politik pada
Buruh sangat keliatan, terutama setelah ramai-ramai federasi buruh berkerja
sama dengan partai-partai yang ada saat itu. SBKA yang berafiliasi ke SOBSI, di
indentifikasi menjadi ormass dari PKI yang terus dianggap merongrong kedaulatan
Nasionalisme Indonesia.Juga berhadapan PBKA yang berafiliasi dengan KBSI yang
juga memiliki pandangan sosialis dengan Partai Sosialis yang menjadi partai
yang memiliki kedekatan dengan mereka.Namun kecendrungan monopoli gerakan buruh
oleh SOBSI menjadikan KBSI dan KBKI yang dekat dengan PNI menjadi bertentangan
dalam setiap keputusan.Dan yang terparah adalah saat politik demokasi
parlementer dengan tingginya dinamika politik semakin mengkrucutkan
pertentangan antara serikat buruh.Baru pada 1958, ketika nasionalisasi yang di
kembangkan isunya oleh SOBSI sebagai sikap menaggapi keputusan KMB yang
merugikan rakyatlah terjadi persatuan dari kaum buruh.
Namun sebelum kondisi politik Indonesia
meruncing Aktifitas perjuangan terus berjalan dari tingkat pusat hingga ranting
di SBKA. Seperti keterlibatan buruh dalam menentukan kebijakan perburuhan di
pabrik. Menurut Astaman Hasibuan pada fase ini klas buruh memiliki nilai tawar
yang cukup kuat di tengah kapital asing dan nasional. Misalkan di SBKA dengan
adanya dewan Perusahaan yang menjadi tempat berdiskusinya Semua serikat buruh
yang ada di Sumatera Utara saat itu untuk tingkat perusahaan. Mereka berwenang
memilah kebijakan dan kelayakan upah yang diberi oleh pengusaha saat itu. saat
itu tenar istilah Natura yaitu istilah buat 9 bahan pokok dari buruh yang harus
diberikan oleh pengusaha. Ini juga diawasi dengan kualitas dari bahan-bahan itu
sendiri, kalau tidak baik dan patut diberikan kepada buruh maka itu akan
dikembalikan.
Namun hal ini bukanlah satu keaadan yang
tiba-tiba datang kepada buruh di Sumatera Utara. Ada berpuluh kali aktifitas
mogok yang dilakukan oleh serikat buruh. Selain itu kondisi yang berbeda sedari
kondisi para era kolonial Belanda juga memperlihatkan bagaimana semangat SBKA
yang berhasil membakar rasa kepercayaan buruh untuk merebut haknya. Karena saat
itu pengurus dari SBKA melihat bahwa perampasan dari buruh bukan saja atas
pengurangan jatah upah, dan bahan pokok. Tapi lebih lanjut menurut astaman
Hasibuan “ Kapital itu jahat, sistem itulah yang merebut Nilai lebih dari buruh. Yaitu kelebihan waktu kerja buruh yang
tidak dibayarkan kepada buruh itu oleh pengusaha Belanda, sama kaya sekarang
Pengusahanya Licik” .
Dari hasil wawancara penulis
mengambil kesimpulan , bahwa Saat itu ada berbagai tuntutan
normatif yang menjadi kegelisahan buruh dan di advokasi oleh SBKA antara lain,
waktu 8 jam kerja, upah yang layak tiap bulannya, pendistribusian sembilan
bahan pokok buruh yaitu kebutuhan Sandang, Pangan, dan kebutuhan tempat tinggal
yang layak bagi buruh kala itu, selain itu jaminan atas pendidikan keturunan
buruh juga menjadi tuntutan saat itu. Mogok dan sabotase seperti memperlambat
aktifitas kerja merupakan metode-metode yang dipakai buruh untuk menekan
pengusaha Belanda dan pemimpin Eks DSM ketika tidak memberikan hak mereka.
Selain tuntutan normatif buruh juga
memiliki tuntutan politik antara lain kebebasan berpendapat dan berserikat. Dan
setelah merdeka dan selesai mempertahankan kemerdekaan dari gempuran Belanda
melalui Agresi militer I dan II, Perjanjian yang merugikan Indonesia, Renville,
Roem-Royen hingga KMB yang mengembalikan Belanda ke Indonesia maka, semangat
buruh hingga pada pertengahan tahun 1958
SBKA mengadakan mogok untuk meminta pemimpin DSM memberikan sepenuhnya
Pengelolaan Kereta Api kepada Pribumi. Djuned Nasution kala itu menekan DSM
untuk keluar dari perusahaan itu. namun pihak Belanda yang mengadakan diplomasi
tidak meu mengakui pegawai rendahan DSM itu dan meminta pegawai pribumi yang
lain untuk menerima tuga itu, maka mester masri saat itu disepakati untuk
menerima DSM sebagai perwakilan pihak Indonesia
Peran serta SBKA dalam memperbaiki
Kereta api Sumatera Utara juga cukup memberi dampak yang signifikan. Pada masa
peralihan PNKA dari Eks DSM tahun 1964 menurut M.Yusuf (2011:97) kereta api uap
menglami banyak kerusakan dan laporan dari nokov bangun kepada direksi PNKA
bandung juga tidak mendapat perhatian yangs serius. Baru pada februari 1965
pengurus SBKA mendatangi menteri perhubungan darat, pos, telekomunikasi dan
parawisata ( Menteri PDPTP) Letjen hidayat. Dan ketua SBKA saat itu M Sarip
mendapat angin baik dari Letjen Hidayat yang mengatakan akan mendisielisasi
PNKA ESU. Dan ini terlaksana pada ulang tahun PNKA 28 september 1965 lokomotif
diesel pertama datang ke Sumatera Utara dan di uji coba di stasiun brayan saat
itu.
Nokov bangun dan Djuned Nasution naik di
atas lokomotif untuk meresmikan perjalanan perdana lokomotif ini dan akhirnya
PNKA ESU memiliki 4 lokomotif diesel
yang di hibahkan dari PNKA Bandung.
Perjalanan politik di Indonesia pasca
pemilihan umum 1955, SOBSI yang dekat dengan PKI terus memperluas kekuatan
organisasi buruhnya. Hingga pada awal tahun 1960-an berdirinya SOKSI sebagai serikat buruh yang
di sponsori oleh kalangan angkatan darat untuk melawan SOBSI. Hal ini adalah satu
konskuensi dari pertarungan ideology yang semakin mengkrucut. SOBSI yang di
anggap sebagai underbow PKI terus di serang hingga terjadi peristiwa pembunuhan
7 Jendral angkatan darat, semua kader dan simpatisan PKI dan termasuk SOBSI
ditangkap dan dihabisi oleh militer.
Dan pada tahun 1966-1970 aktifitas dari
SBKA dilarang dan serikat buruh ini mengalami kehancuran beserta kehancuran
organisasi buruh lainnya yang dianggap memiliki kedekatan dengan PKI. Hingga
akhirnya habislah aktifitas dari serikat buruh kereta api di suamtera utara.
Temuan
Penelitian.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa yang masih memiliki pemahaman atas aktifitas serikat buruh
kereta api adalah mereka yang dahulu berhubungan dengan organisasi serikat
buruh, terutama yang tinggal hanyalah mereka yang hidup antara tahun 1920-1950. Penuturan Edi Sartimin tentang serikat
pekerja pada masa Hindia Belanda di Sumatera Utara di peroleh dari cerita
pegawai terdahulu dan pengurus lama serikat buruh kereta api, lahirnya serikat
buruh kereta api di bawa oleh VSTP melalui SI yang masuk pada kisaran tahun
1920. Menurut beliau aktifitas serikat buruh perkeretaapian pada masa Hindia
Belanda, menjadi satu organisasi yang melawan Belanda dengan pemogokan dan
analisa marxisme. Dan peristiwa yang penting terjadi pada aktifitasnya mencolok
pada tahun 1950-1960 dimana pada masa orde lama serikat buruh perkeretaapian
yang eksis adalah SBKA. Aktifitas SBKA sendiri memiliki terobosan atas
peningkatan kesejahteraan buruh dan teknologi kereta api itu sendiri. Aktifitas
pemogokan hampir terjadi sebulan sekali saat itu sehingga SBKA dapat menuntut
hak-haknya secara penuh. Menurut Edi Sartimin kembali bahwa SBKA merupakan
organisasi yang berpusat di Medan, dan tidak memiliki kaitan dengan organisasi
yang lain seperti yang di perlihatkan selama ini dekat dengan PKI. Dan setelah
tanggal 1 oktober 1965 itulah seluruh anggota SBKA dan pegawai kereta api yang
pernah berhubungan dengan SBKA di tangkap dan di pecat hingga akhirnya SBKA
dibubarkan. Menurut bapak Edi Sartimin mengingat masa lalu yang kelam dengan
stigma PKI kepada setiap pegawai Kereta api yang dekat dan berhubungan dengan
SBKA adalah satu hal yang tidak manusiawi karena saat beliau menjadi pegawai
aktifitas nya hanyalah bekerja dan melakukan tuntutan dari serikat buruh di
Medan yang saat itu bersatu dalam satu dewan perusahaan sehingga merupakan satu
hal yang di paksakan mereka dianggap sebagai PKI.
Selain itu dari
bapak Astaman Hasibuan yang dahulu aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat dan
sempat menjadi tahanan politik pada tahun 1965 hingga tahun 1972. Menurut
beliau VSTP lahir di tanah Deli adalah dari semangat Sarekat Islam yang kala
itu terdapat kaum revolusioner didalammnya. Semaun yang pada saat itu memimpin
SI Semarang mampu memberikan perluasan pemahaman hingga ke sumatera timur.
Selain aktif di
Lekra beliau juga aktif di harian Harapan dari tahun 1962-1965. Dan sebelumnya
beliau aktif di Lekra Pematang Siantar. Beliau mengenal SBKA di karenakan
kedekatan yang menurut beliau “Ideologis”,
pada saat itu sudirman sebagai tokoh penting pembangunan SBKA. Dari kedekatan
dengan SBKA lah beliau banyak mengetahui tentang bagaimana aktifitas serikat
buruh perkeretaapian saat orde lama, menurut beliau di dalam perusahaan kereta
api saat itu terdapat Dewan perusahaan yang punya akses dalam mengintervensi
kebijakan dalam perusahaan dan dari hasil perjuangan itulah diperoleh pembagian
9 bahan pokok. Selain itu aktifitas mogok dilakukan bukan saja dalam menuntut
persoalan di kereta api, tapi solidaritas kepada serikat buruh perkebunan juga
sering menjadi alasan mogok kerja buruh kereta api. Dan selama beraktifitas di
Medan beliau sering tidur di sekretariat SBKA yang berada di jalan Madura dulu.
Menurut beliau
serikat buruh saat itu memang mengadakan kerja sama politik dengan
partai-partai yang ada setelah pemilu 1955, SBKA yang paling mencolok bekerja
sama dengan PKI namun tidak menjadi organisasi massa atau anderbow dari PKI,
hanya karena banyak kader yang bekerja di SBKA maka program PKI juga masuk
dalam SBKA yang berafiliasi dengan SOBSI. Misalkan Sudirman yang merupakan
wakil sekretaris PKI Medan, namun tidak semua anggota SBKA adalah orang PKI.
Lebih lanjut menurut Astaman Hasibuan, perjuangan klas buruh memang harus
mendirikan partai untuk dapat memenangkan perjuangan kaum buruh itu sendiri
secara politik.
Menurut beliau
ada banyak tuntutan dari Serikat buruh Perkertaapian, yang paling utama adalah
kesejahteraan, kelayakan kehidupan kerja, dan secara politik sering menentang
bentuk imperialisme Belanda. Aktifitas selain untuk menuntut persolan upah,
namun juga menuntut secara politik kebijkanan yang berpihak kepada kaum
ploretar. Dalam menuntut mereka melakukan mogok dan berbagai usaha yang
mempengaruhi politik agar berpihak pada
kaum buruh. Dan kemunduran SBKA terjadi setelah tokoh-tokoh SBKA itu di tangkap
dan di penjara bahkan di hukum mati.
Menurut saya
serikat buruh kereta api merupakan serikat buruh yang pertama kali di
Indonesia, organisasi klas buruh pertama yang mendahului organisasi borjuasi.
Bapak Adam
selaku Ketua SPKA Divre I SU/NAD mengungkapkan bahwa sebenarnya serikat pekerja
saat ini tidak berhubungan dengan SBKA atau PKI. SPKA di bentuk pada tahun
1999. Namun menurut adam yang juga buruh di kantor kereta api Pulo Brayan.
Tahun-tahun di orde lama merupakan masa kelam dimana PKI menjadi organisasi
yang secara mayoritas memiliki kendali di perusahaan kereta api melalui SBKA
saat itu, banyak tuntutan yang dilakukan terlalu politis hingga merembet kepada
anggotanya. Bahkan mereka tidak mengetahui bagaimana hubungan SBKA dan PKI
karena setau mereka SBKA itu berpusat di Medan. Secara umum pada masa Jepang
berada di Sumatera Timur, buruh Kereta api memang membantu laskar dalam hal
logistik yang didistibusikan secara diam-diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar